News
Kenapa Iduladha Identik dengan Kurban? Begini Awal Mula dan Maknanya
Setiap perayaan Iduladha, suasana masjid dan lingkungan warga di berbagai daerah biasanya dipenuhi aktivitas penyembelihan hewan kurban. Tradisi tersebut bahkan sudah menjadi bagian yang begitu melekat dengan perayaan Iduladha di Indonesia.
Selain identik dengan pembagian daging dan momen makan bersama keluarga, Idul Adha juga dikenal sebagai hari raya yang penuh makna pengorbanan dan kepedulian sosial. Namun, tidak sedikit masyarakat yang masih penasaran mengenai alasan Idul Adha selalu dikaitkan dengan tradisi kurban.
Dalam ajaran Islam, Iduladha merupakan hari raya besar yang diperingati setiap 10 Dzulhijjah dalam kalender Hijriah. Hari raya ini juga bertepatan dengan pelaksanaan ibadah haji yang dilakukan umat Muslim di Tanah Suci.
Tradisi kurban sendiri berasal dari kisah Nabi Ibrahim AS yang mendapat perintah dari Allah SWT untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail AS. Kisah tersebut kemudian menjadi simbol ketaatan dan keikhlasan seorang hamba kepada Tuhan.
Melansir podcast Raditya Dika bersama Ustaz Jojo Ali Yusuf pada kanal YouTube miliknya, Selasa (26/5/2026), Ustaz Jojo menjelaskan bahwa kisah Iduladha tidak hanya berbicara tentang penyembelihan hewan, tetapi juga tentang pengorbanan yang lebih besar.
“Jadi ini memang cerita tentang Iduladha itu tentang pengorbanan mutlak gitu,” ujar Ustaz Jojo.
Dalam penjelasannya, Ustaz Jojo juga menceritakan bagaimana Nabi Ibrahim harus menghadapi ujian berat setelah lama tidak bertemu putranya.
“13 tahun enggak ketemu anak ya orang senang-senang dulu main dulu sama istri ketemu lagi. Kan ini malah disuruh ditumbalin sembelih,” katanya.
Meski begitu, sebelum Nabi Ibrahim melaksanakan perintah tersebut, Allah SWT kemudian menggantikan Nabi Ismail dengan seekor kibas untuk disembelih. Peristiwa itu kemudian dikenang umat Islam melalui ibadah kurban yang dilakukan saat Idul Adha.
Menurut Ustaz Jojo, makna kurban juga berkaitan dengan bagaimana manusia belajar untuk tidak terlalu terikat dengan hal-hal duniawi, termasuk harta benda.
“Allah tuh pengin nguji kita tuh kecintaan kita terhadap harta,” jelasnya.
Selain itu, Idul Adha juga memiliki nilai sosial yang erat dengan budaya berbagi kepada sesama. Daging kurban yang dibagikan kepada masyarakat menjadi simbol kepedulian dan solidaritas sosial.
“Yang notabenenya banyak orang yang enggak bisa makan atau jarang makan daging loh,” tutur Ustaz Jojo.
Di Indonesia sendiri, suasana Idul Adha identik dengan budaya gotong royong masyarakat. Warga biasanya ikut membantu proses penyembelihan, pengemasan, hingga pembagian daging kurban kepada masyarakat sekitar.
Tidak heran jika suasana Idul Adha sering menghadirkan rasa kebersamaan yang kuat di tengah masyarakat. Dari tradisi memasak sate bersama hingga pembagian daging kepada warga, Idul Adha menjadi salah satu momen yang memperlihatkan nilai solidaritas dalam kehidupan sosial.
Pada akhirnya, makna kurban dalam Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan. Lebih dari itu, Idul Adha menjadi pengingat tentang pentingnya keikhlasan, kepedulian, dan keberanian untuk berbagi kepada sesama.
“Jadi berkurban itu bukan soal kehilangan tapi soal keberanian,” tutup Ustaz Jojo.