Transformasi AI dalam Ekonomi Kreatif Indonesia: Peluang Emas atau Ancaman?

M. Reza Sulaiman | alika nur azizah
Transformasi AI dalam Ekonomi Kreatif Indonesia: Peluang Emas atau Ancaman?
Ilustrasi kecerdasan buatan (Artifial Intelligence/AI].

Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah cara bisnis berjalan dan berkembang. Bagi perusahaan yang siap dengan perkembangan teknologi, AI memberikan pengalaman kepada pelanggan secara signifikan dan meningkatkan efisiensi.

Teknologi AI memberikan peluang baru dalam optimalisasi proses produksi, peningkatan efisiensi kerja, serta memperluas akses pasar global bagi usaha di bidang industri kreatif. Berbagai sektor seperti desain grafis, perfilman, musik, hingga pemasaran digital kini memanfaatkan AI sebagai alat bantu untuk mempercepat proses kreatif dan menghasilkan karya yang lebih adaptif terhadap kebutuhan audiens.

Melihat realitas yang ada, AI lebih tepat dipahami sebagai teknologi yang memperluas kapasitas kreatif manusia, bukan menggantikannya secara penuh. Di Indonesia, penerapan AI mulai terlihat di industri desain grafis, musik, animasi, pengembangan gim (game development), hingga industri konten digital seperti YouTube, TikTok, dan pemasaran visual. Dengan populasi digital yang besar, peluang pemanfaatan AI dalam memperkuat ekonomi kreatif Indonesia semakin terbuka lebar.

Ekonomi Kreatif sebagai Fondasi Pertumbuhan di Era Digital

Ekonomi kreatif merupakan bentuk ekonomi yang menjadikan kreativitas, inovasi, dan pengetahuan sebagai sumber daya utama. Aflahah (2024) menjelaskan bahwa sektor ini tidak hanya mengutamakan produksi barang fisik, tetapi juga nilai budaya, ekspresi, dan identitas sebagai elemen ekonomi. Di Indonesia, sektor ini mencakup berbagai bidang seperti desain, film, musik, fesyen, gim, seni pertunjukan, kuliner, dan konten digital.

Peran ekonomi kreatif tidak hanya tercermin dari nilai ekonominya, tetapi juga dari dampaknya terhadap lapangan kerja serta pelestarian budaya. Banyak pelaku usaha lokal memanfaatkan media digital untuk menjual produk ke pasar nasional hingga internasional. Contohnya, produk fesyen lokal, kuliner khas daerah, hingga karya seni digital yang berkembang melalui platform e-commerce dan media sosial. Dengan demikian, ekonomi kreatif memiliki dua fungsi utama: mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat identitas budaya Indonesia di era globalisasi.

Kekuatan utama sektor ini adalah adaptabilitas. Industri kreatif berkembang karena adanya perubahan tren, preferensi audiens, dan perkembangan teknologi. Oleh karena itu, sektor ini sangat bergantung pada kemampuan berinovasi dan memanfaatkan peluang teknologi baru seperti AI.

Pada tahun 2024, sektor ekonomi kreatif menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan di Indonesia. Berdasarkan laporan yang disampaikan oleh Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, pada tahun 2025, kontribusi ekonomi kreatif mencapai lebih dari Rp1.500 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan berhasil menyerap lebih dari 26,5 juta tenaga kerja. Angka ini tidak hanya menunjukkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menggambarkan bagaimana sektor ini semakin menjadi fondasi penting dalam pembangunan ekonomi nasional.

Seiring meningkatnya kontribusi tersebut, teknologi kecerdasan buatan mulai terlihat memainkan peran strategis dalam memperkuat sektor ekonomi kreatif. Berbagai bisnis mulai mengintegrasikan AI untuk meningkatkan kualitas layanan, efisiensi produksi, serta kemampuan memahami kebutuhan pasar dengan lebih presisi. Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat daya saing globalnya di era digital dan membuka ruang baru bagi inovasi, kolaborasi, serta penciptaan lapangan kerja kreatif yang lebih luas.

Potensi Ekonomi Kreatif dan Peran AI dalam Transformasi

Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi kreatif tercepat di Asia. Menurut laporan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), kontribusi ekonomi kreatif mencapai lebih dari 7,8% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2023, dengan subsektor unggulan seperti kuliner, fesyen, dan aplikasi digital (Kemenparekraf, 2024). Meski pencapaian ini sudah signifikan, transformasi digital khususnya penggunaan AI membuka ruang pertumbuhan yang lebih besar.

AI membantu mempercepat proses produksi yang sebelumnya memakan waktu panjang. Contohnya, di bidang desain grafis, alat bantu (tools) seperti Adobe Firefly, Midjourney, atau Canva AI mampu menghasilkan desain awal dalam hitungan detik. Kreator kemudian dapat mengubah desain tersebut sesuai identitas brand atau kebutuhan proyek. Proses yang dulunya membutuhkan brainstorming panjang kini menjadi lebih cepat dan efisien. Foto produk yang awalnya sederhana bisa dibuat lebih profesional melalui fitur otomatis yang disediakan oleh AI. Begitu pula dengan pembuatan poster, desain media sosial, maupun video pendek yang kini dapat dibuat melalui templat.

Perkembangan teknologi membawa perubahan besar terhadap perkembangan UMKM kreatif di Indonesia. Dalam persaingan bisnis yang semakin ketat, AI menjadi alat bantu yang sangat berguna untuk kemajuan UMKM di Indonesia karena dapat meningkatkan efisiensi, kreativitas, dan memperluas jangkauan pemasaran. Dengan demikian, produk tidak hanya dapat dijual di dalam negeri, tetapi dapat memperluas pasar hingga ke luar negeri. UMKM kreatif dapat memanfaatkan AI untuk ide desain produk dan video promosi guna menghasilkan konten visual yang menarik. Teknologi ini dapat mempersingkat waktu dan mempermudah pengerjaan sehingga pelaku usaha dapat cepat beradaptasi dengan tren yang terus berkembang dan menghasilkan produk yang lebih inovatif agar pelanggan lebih tertarik.

Dengan kata lain, AI tidak menggantikan kreativitas manusia, tetapi memberikan alat bantu yang mempercepat proses, menurunkan biaya produksi, dan membuka kesempatan bagi lebih banyak orang untuk berkarya. Transformasi digital berbasis AI secara langsung memengaruhi model bisnis kreatif di Indonesia. Salah satu dampak paling nyata adalah perubahan cara pelaku kreatif menghasilkan dan memonetisasi karya. Jika sebelumnya pelaku industri bergantung pada studio besar atau agensi, sekarang banyak kreator individu yang mampu membangun bisnis mandiri melalui platform digital.

Contohnya, kreator konten dapat menganalisis preferensi audiens melalui AI analytics untuk menentukan gaya editing, durasi video, atau jenis konten yang diminati. Di bidang pemasaran digital, AI digunakan untuk membuat iklan personalisasi berbasis data konsumen sehingga penargetan lebih akurat dan biaya promosi jauh lebih efisien. Selain itu, AI juga mendorong munculnya creator economy berbasis otomatisasi. Chatbot, avatar digital, virtual influencer, hingga personal brand AI memungkinkan kreator bekerja secara skalabel tanpa harus bergantung sepenuhnya pada waktu dan tenaga manusia.

Namun, perubahan ini tidak hanya membawa peluang, tetapi juga tantangan etika. Hak cipta, orisinalitas karya, dan kualitas kreatif manusia menjadi topik yang semakin sering dibahas. Misalnya, penggunaan AI untuk menghasilkan ilustrasi yang menyerupai gaya artis tertentu memunculkan perdebatan mengenai plagiarisme digital. Karena itu, regulasi, literasi, dan standar etik industri kreatif perlu diperkuat agar perkembangan teknologi tetap berpihak pada pencipta asli.

Tantangan dan Peluang Masa Depan

Meskipun perkembangan AI terlihat menjanjikan, ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Pertama, kesenjangan literasi digital masih menjadi persoalan di Indonesia. Banyak pelaku UMKM kreatif yang belum memahami pemanfaatan AI secara optimal. Jika tidak diantisipasi, AI justru memperbesar ketimpangan antara kreator yang melek teknologi dan yang tidak. Kedua, risiko ketergantungan pada AI dapat menurunkan kualitas inovasi jangka panjang bila kreator hanya mengandalkan hasil otomatis tanpa eksplorasi kreatif. Kreativitas manusia tetap menjadi inti, sementara AI hanya berfungsi sebagai pendukung.

Selain itu, isu keamanan data dan etika penggunaan teknologi juga memerlukan perhatian serius. Di tengah maraknya platform berbasis AI, tidak semua pelaku kreatif memahami cara menjaga kerahasiaan karya maupun informasi pribadi. Tanpa pedoman yang jelas, potensi penyalahgunaan data, pelanggaran hak cipta, hingga praktik plagiarisme berbasis AI bisa semakin meningkat dan menghambat perkembangan industri.

Meski demikian, ruang peluang tetap sangat luas. Infrastruktur digital yang terus membaik, meningkatnya jumlah talenta muda yang akrab dengan teknologi, serta pasar konten kreatif yang berkembang pesat menjadi modal besar bagi Indonesia untuk menonjol sebagai pusat ekonomi kreatif berbasis teknologi di kawasan. Untuk mencapai hal tersebut, kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan pelaku industri harus diperkuat agar ekosistemnya mampu beradaptasi dengan dinamika inovasi digital.

Jika kolaborasi tersebut berjalan secara bersamaan, sistem ekonomi kreatif bukan hanya mampu memanfaatkan AI sebagai alat bantu, tetapi juga mendorong lahirnya inovasi baru, membuka lapangan kerja berbasis teknologi, serta memperluas penetrasi produk lokal ke pasar global. Dengan pendekatan yang terarah, Indonesia berpeluang besar untuk menjadi salah satu pelaku utama dalam pemanfaatan AI di sektor ekonomi kreatif.

Secara keseluruhan, kecerdasan buatan telah membawa dampak signifikan terhadap pertumbuhan dan transformasi ekonomi kreatif di Indonesia. AI membuka akses terhadap alat produksi kreatif yang lebih cepat, murah, dan inovatif sehingga pelaku industri baik individu maupun perusahaan mampu menciptakan nilai ekonomi baru.

Namun, teknologi ini juga membawa tantangan terkait etika, hak cipta, serta kesenjangan literasi digital yang harus ditanggapi dengan strategi nasional yang jelas.

Oleh karena itu, pemanfaatan AI dalam ekonomi kreatif sebaiknya tidak dilihat sebagai ancaman, tetapi sebagai kesempatan untuk memperkuat peran manusia sebagai pencipta ide, pencetak inovasi, dan penggerak identitas budaya Indonesia di era digital.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak