suara hijau

Di Balik Ramainya Takjil Ramadan, Ancaman Sampah Sekali Pakai Meningkat

Bimo Aria Fundrika | Atalie June Artanti
Di Balik Ramainya Takjil Ramadan, Ancaman Sampah Sekali Pakai Meningkat
Ilustrasi sampah plastik di laut

Ramadan selalu identik dengan keberkahan. Meja makan lebih penuh, pilihan takjil semakin beragam, dan aktivitas konsumsi masyarakat meningkat drastis. Namun di balik suasana hangat berbuka puasa, ada realitas lain yang jarang disadari: volume sampah ikut melonjak tajam hampir di seluruh daerah.

Fenomena ini bukan sekadar dugaan. Di Lombok Timur, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mencatat kenaikan volume sampah harian dari rata-rata sekitar 112 ton menjadi 116–117 ton per hari pada awal Ramadan. Secara angka mungkin terlihat kecil, tetapi tambahan 4–5 ton per hari berarti beban kerja ekstra bagi petugas kebersihan yang harus mengangkut, memilah, dan menumpuk sampah lebih banyak dari biasanya.

Lonjakan Sampah Terjadi di Banyak Daerah

Ilustrasi sampah. (Pixabay.com/@RitaE)
Ilustrasi sampah. (Pixabay.com/@RitaE)

Situasi peningkatan sampah ternyata tidak hanya terjadi di satu wilayah. Di Tasikmalaya, pemerintah daerah sudah mengantisipasi potensi lonjakan dengan menyiapkan petugas lembur selama Ramadan.

Sementara itu di Samarinda, volume sampah bahkan diprediksi meningkat hingga 20 persen dibanding hari biasa. Kondisi ini membuat pemerintah setempat menyiapkan skenario darurat pengelolaan sampah agar tidak terjadi penumpukan di lingkungan masyarakat maupun tempat pembuangan akhir.

Lonjakan ini memperlihatkan pola yang sama hampir setiap tahun: Ramadan bukan hanya puncak aktivitas ibadah, tetapi juga puncak produksi sampah rumah tangga.

Pasar Ramadan dan Kemasan Sekali Pakai Jadi Penyumbang Utama

Aktivitas pasar Ramadan menjadi salah satu penyumbang terbesar peningkatan sampah, terutama dari kemasan makanan sekali pakai. Banyak orang membeli makanan berlebihan saat berbuka, baik karena lapar mata maupun keinginan mencoba berbagai menu.

Akibatnya, tidak sedikit makanan tersisa yang akhirnya terbuang.

Di Padang, pengelola bank sampah bahkan memprediksi peningkatan signifikan pada sampah plastik kemasan selama Ramadan, terutama dari wadah makanan instan dan minuman siap saji. Fenomena ini menunjukkan bahwa perubahan pola konsumsi masyarakat selama bulan puasa tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga pada lingkungan.

Pemerintah Siapkan Strategi, Tapi Masalah Utama Ada di Perilaku

Beberapa daerah mencoba menekan dampak tersebut dengan berbagai strategi. Pemerintah di Cianjur mendorong gerakan pemilahan sampah dari rumah tangga sebagai langkah awal mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA).

Di Berau, rencana penambahan petugas dan jam angkut sampah juga disiapkan untuk mengantisipasi peningkatan volume selama Ramadan.

Namun persoalannya tidak berhenti pada kesiapan pemerintah. Masalah utamanya justru terletak pada perilaku konsumsi masyarakat itu sendiri. Ramadan yang seharusnya menjadi momentum menahan diri justru sering berubah menjadi periode konsumsi berlebihan.

Ironisnya, semangat berburu takjil kadang lebih besar daripada semangat mengurangi pemborosan.

Ancaman Jangka Panjang: TPA Bisa Kewalahan

Jika kebiasaan konsumtif ini terus berlangsung, dampaknya bukan hanya pada petugas kebersihan yang bekerja lebih keras, tetapi juga pada kapasitas tempat pembuangan akhir yang semakin terancam.

Beberapa analisis teknis bahkan memperkirakan TPA di sejumlah daerah bisa mencapai batas kapasitas dalam beberapa tahun ke depan jika pola konsumsi masyarakat tidak berubah. Artinya, persoalan sampah Ramadan bukan hanya masalah musiman, tetapi juga ancaman lingkungan jangka panjang.

Ramadan Seharusnya Mengajarkan Pengendalian Diri

Ramadan sejatinya mengajarkan kesederhanaan, empati, dan pengendalian diri. Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa nilai tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Sampah makanan yang terbuang sebenarnya mencerminkan pemborosan, sementara kemasan plastik berlebih menjadi jejak konsumsi yang sulit terurai oleh alam.

Menahan lapar dan dahaga selama puasa seharusnya juga diiringi kemampuan menahan keinginan konsumtif. Membeli secukupnya, menghabiskan makanan, serta mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai adalah bentuk tanggung jawab sosial yang sering terlupakan.

Refleksi: Berkah Jangan Sampai Berubah Jadi Masalah

Ramadan bukan hanya tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan manusia dengan lingkungan. Ketika meja berbuka semakin mewah tetapi tempat pembuangan semakin penuh, mungkin ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam cara kita memaknai keberkahan.

Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana: apakah kebahagiaan berbuka harus selalu menghasilkan tumpukan sampah?

Jika jawabannya tidak, maka perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Karena lingkungan yang bersih juga bagian dari berkah yang seharusnya kita jaga bersama.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak