Di tengah ritme kehidupan modern yang serba cepat, kerja kerap ditempatkan sebagai pusat identitas. Seseorang dinilai dari produktivitasnya, dari seberapa sibuk jadwalnya, serta seberapa cepat ia merespons pesan dan menyelesaikan target. Budaya overwork tumbuh subur dalam ekosistem ini. Lembur dianggap sebagai loyalitas. Istirahat dipersepsikan sebagai kemalasan. Bahkan, rasa lelah sering kali dibanggakan sebagai tanda dedikasi.
Dalam lanskap seperti itu, puasa menghadirkan jeda. Ia tidak hanya mengatur pola makan dan minum, melainkan juga mengatur ulang relasi manusia dengan waktu, tubuh, dan kerja. Puasa mengingatkan bahwa manusia bukan mesin produksi yang bisa terus dipacu tanpa henti.
Ketika tubuh menahan lapar dan haus, kita dipaksa untuk lebih peka terhadap batas fisik. Energi tidak lagi melimpah. Fokus perlu diatur. Aktivitas dipilih dengan lebih selektif. Di sinilah puasa menjadi semacam kritik diam terhadap kultur kerja yang menuntut performa konstan sepanjang hari tanpa ruang henti.
Produktivitas yang Dipertanyakan
Budaya overwork sering dibungkus dengan narasi produktivitas. Semakin lama bekerja, semakin besar kontribusi yang dianggap diberikan. Namun, berbagai studi tentang kesehatan kerja menunjukkan bahwa jam kerja panjang tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas hasil. Kelelahan justru menurunkan konsentrasi, meningkatkan kesalahan, dan menggerus kesejahteraan mental.
Di Indonesia, regulasi jam kerja sebenarnya telah diatur dalam Undang-Undang Ketenagakerjaan. Namun, dalam praktiknya, terutama di sektor informal dan industri kreatif digital, batas itu kerap kabur. Notifikasi pesan kantor datang di luar jam kerja. Rapat daring bisa dijadwalkan hingga malam. Budaya always on menjadi norma baru.
Puasa menghadirkan pengalaman berbeda. Ritme harian berubah. Ada sahur yang menuntut bangun lebih awal, ada berbuka yang menjadi momen sakral untuk berhenti sejenak dari kesibukan. Tubuh memberi sinyal yang lebih tegas ketika dipaksa melampaui batas. Rasa lemas di siang hari bukan sekadar keluhan, melainkan pengingat bahwa manusia memiliki kapasitas yang terbatas.
Dalam konteks ini, puasa dapat dibaca sebagai kritik terhadap obsesi produktivitas tanpa henti. Ia mengajarkan bahwa nilai manusia tidak semata ditentukan oleh output kerja. Ada dimensi spiritual, relasional, dan reflektif yang tidak kalah penting.
Tubuh sebagai Pusat Kesadaran
Budaya overwork cenderung meminggirkan tubuh. Rasa lelah diabaikan dengan kopi tambahan. Kurang tidur ditutupi dengan motivasi instan. Makan dilakukan sekadarnya di sela rapat. Tubuh diperlakukan sebagai alat yang harus patuh pada target.
Puasa membalik logika itu. Tubuh justru menjadi pusat perhatian. Setiap sensasi lapar dan haus dirasakan lebih intens. Setiap penurunan energi disadari. Kesadaran terhadap tubuh ini bukan untuk dimanjakan, melainkan untuk dipahami. Ada batas yang tidak bisa dinegosiasikan.
Ketika seseorang tetap memaksakan ritme kerja ekstrem saat berpuasa, dampaknya terasa lebih cepat. Pusing, dehidrasi, atau penurunan konsentrasi menjadi sinyal keras bahwa tubuh menolak eksploitasi. Dalam pengalaman kolektif umat yang berpuasa, terdapat pesan kuat tentang pentingnya keseimbangan.
Puasa juga menggeser orientasi dari sekadar kerja menuju makna. Waktu yang biasanya dihabiskan untuk makan siang bisa dialihkan untuk refleksi, membaca, atau beribadah. Ada ruang sunyi yang jarang ditemukan dalam hari kerja biasa. Ruang ini memungkinkan evaluasi ulang: apakah kesibukan yang dijalani benar-benar bermakna atau sekadar mengikuti arus tuntutan sosial?
Di era kerja jarak jauh yang dipopulerkan sejak pandemi global oleh organisasi seperti World Health Organization, batas antara rumah dan kantor semakin tipis. Puasa dapat menjadi pengingat untuk menegaskan kembali batas tersebut; bahwa ada waktu bekerja dan ada waktu berhenti.
Merawat Ritme yang Lebih Manusiawi
Puasa tidak serta-merta menolak kerja keras. Dalam tradisi Islam, bekerja tetap dipandang sebagai bagian dari ibadah. Namun, kerja keras berbeda dengan kerja tanpa henti. Ada perbedaan antara dedikasi dan eksploitasi diri.
Momentum Ramadan dapat menjadi saat refleksi bagi institusi dan individu. Perusahaan dapat meninjau ulang kebijakan jam kerja agar lebih adaptif. Rapat yang tidak mendesak bisa dipersingkat. Target yang terlalu ambisius bisa disesuaikan dengan kondisi fisik karyawan. Empati menjadi kata kunci.
Bagi individu, puasa membuka peluang untuk mendefinisikan ulang sukses. Sukses bukan hanya promosi jabatan atau peningkatan pendapatan, melainkan juga kemampuan menjaga kesehatan, kualitas relasi keluarga, dan kedamaian batin. Jika selama ini kebanggaan dibangun atas dasar kesibukan ekstrem, puasa mengajak untuk bangga atas kemampuan mengendalikan diri.
Budaya overwork sering berakar pada ketakutan: takut tertinggal, takut gagal, takut dianggap tidak kompeten. Puasa, dengan segala keterbatasannya, justru mengajarkan keberanian untuk melambat, keberanian untuk berkata cukup, serta keberanian untuk mengakui bahwa manusia tidak diciptakan untuk terus berlari tanpa jeda.
Pada akhirnya, puasa adalah latihan tahunan yang sarat makna. Ia bukan hanya ritual spiritual, melainkan juga refleksi sosial. Di tengah dunia kerja yang semakin kompetitif dan tidak kenal waktu, puasa hadir sebagai pengingat lembut bahwa nilai manusia melampaui angka produktivitas. Bahwa istirahat bukan musuh keberhasilan, melainkan bagian dari keberlanjutan hidup itu sendiri.