News
Bekal Penting Sebelum ke Luar Negeri: Cara Calon Pekerja Migran Hindari Jeratan Love Scam
Penipuan di era digital kini tak lagi sekadar meretas kata sandi bank atau mencuri kode otentikasi. Kejahatan siber telah berevolusi menyentuh sisi paling rentan dari manusia: emosi dan romansa. Fenomena yang dikenal dengan istilah Love Scam ini kian marak, beroperasi dengan cara mengeksploitasi hubungan emosional guna memanipulasi korban agar secara sukarela menyerahkan uang, hadiah, hingga data pribadi yang bersifat rahasia.
Berbeda dengan penipuan daring pada umumnya yang berpusat pada peretasan sistem, love scam sepenuhnya mengandalkan manipulasi psikologis. Hal inilah yang membuatnya sangat berbahaya dan sulit disadari oleh para korban pada tahap awal.
Menyadari ancaman nyata yang terus mengintai di balik layar gawai, mahasiswa program studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Pendidikan, President University—yang tergabung dalam kelompok SIKAP—mengambil langkah proaktif. Mereka menyelenggarakan seminar edukatif bertajuk "Waspada Love Scam: Memahami Risiko, Modus Operandi, dan Langkah Perlindungan di Era Digital" pada 5 Mei 2026 lalu, bertempat di Charles Himawan Auditorium, Cikarang.
Langkah edukasi ini menyasar kelompok yang dinilai cukup rentan saat berada jauh dari tanah air. Seminar ini secara khusus dihadiri oleh 44 orang calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari PT. Hama Work Solutions yang tengah bersiap untuk diberangkatkan ke Jepang.
Membongkar Realitas dan Pola Penipuan
Acara yang dibuka secara resmi oleh Ketua Pelaksana Seminar, Muhammad Alfayaid, serta Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Pendidikan, Prof. Dr. Muhammad Syafi’i Anwar, ini dirancang untuk mengupas tuntas seluk-beluk penipuan romantis tersebut. Tujuan utamanya adalah membekali masyarakat, khususnya para calon pekerja migran, agar mampu mendeteksi tanda-tanda bahaya sejak dini.
Untuk membedah modus operandi sindikat ini, panitia menghadirkan Rangga Yudha Nagara, Fungsional Diplomat Ahli Madya dari Direktorat Pelindungan Warga Negara Indonesia, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Dalam paparannya, Rangga memberikan pembekalan krusial mengenai strategi pencegahan, deteksi dini, hingga alur pelaporan jika seseorang terjerat love scam. Ia juga memaparkan secara rinci bagaimana peran negara, melalui Kementerian Luar Negeri, dalam menangani dan melindungi WNI yang menjadi korban kasus serupa di luar negeri.
Kerugian Ratusan Juta dari Berbagai Latar Belakang
Salah satu momen paling menggugah kesadaran dalam seminar ini adalah sesi pemutaran audio podcast yang diproduksi oleh kelompok SIKAP. Podcast tersebut menghadirkan kisah-kisah nyata dari para penyintas love scam.
Fakta dari ragam korban yang ditampilkan mematahkan stigma bahwa penipuan ini hanya menyasar kelompok tertentu. Para korban memiliki latar belakang profesi dan usia yang sangat bervariasi, mulai dari anak sekolah, seorang janda, guru honorer, hingga seorang pekerja di sektor teknologi informasi (IT) yang notabene melek teknologi.
Kerugian finansial yang mereka alami pun tidak main-main. Dari penuturan para korban, tercatat angka kerugian materiil yang beragam, mulai dari Rp3 juta, Rp20 juta, Rp31 juta, hingga angka terbesarnya menyentuh Rp230 juta akibat manipulasi emosional tersebut.
Pesan Penutup untuk Para Pahlawan Devisa
Setelah diisi dengan diskusi interaktif dan sesi tanya jawab yang antusias antara peserta dan narasumber, acara ditutup dengan penyerahan plakat penghargaan kepada Rangga Yudha Nagara dan sesi foto bersama.
Sebelum meninggalkan lokasi acara, perwakilan dari Kementerian Luar Negeri tersebut menitipkan sebuah pesan penting kepada puluhan calon pahlawan devisa yang hadir. Ia mengingatkan para PMI untuk senantiasa menjaga sikap, profesionalitas, serta kewaspadaan selama bekerja di Jepang, agar citra baik pekerja migran asal Indonesia tetap terjaga di mata internasional.
Melalui kegiatan pembekalan ini, diharapkan pengetahuan tentang literasi keamanan digital dan kesadaran akan bahaya manipulasi psikologis dapat menjadi tameng pelindung bagi para pekerja migran. Sekaligus, menjadi langkah mitigasi agar kejahatan love scam tidak lagi memakan korban di masa mendatang.