Lebaran selalu menjadi momentum perayaan, perjumpaan, dan peneguhan makna kebersamaan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, ada satu ritual baru yang kian menguat di ruang digital: mengunggah OOTD Lebaran. Foto busana hari raya bukan lagi sekadar dokumentasi pribadi, melainkan bagian dari ekspresi identitas di hadapan publik media sosial. Dari Instagram hingga TikTok, lini masa dipenuhi potret keluarga dengan busana seragam, permainan warna pastel, hingga detail aksesori yang ditata sedemikian rupa.
Fenomena ini tidak lahir dari ruang hampa. Hal tersebut tumbuh di tengah budaya visual yang menjadikan citra sebagai bahasa utama komunikasi. Generasi digital membangun representasi diri melalui gambar, gaya berpakaian, dan estetika. Dalam konteks ini, OOTD Lebaran menjadi medium simbolik untuk menyampaikan pesan tentang selera, kelas sosial, bahkan kedekatan keluarga. Busana bukan lagi sekadar penutup tubuh, melainkan penanda status dan preferensi nilai.
Pada titik tertentu, tren ini juga menunjukkan sisi kreatif masyarakat. Industri fesyen lokal mendapatkan ruang apresiasi. Desainer muda bermunculan dengan koleksi modest wear yang inovatif. UMKM busana muslim merasakan lonjakan permintaan menjelang hari raya. Ada geliat ekonomi yang tidak bisa diabaikan. Namun, di balik dinamika itu, terselip pertanyaan penting: apakah OOTD Lebaran masih menjadi ekspresi personal atau telah berubah menjadi kewajiban sosial yang tidak tertulis?
Identitas di Tengah Budaya Pamer
Media sosial bekerja dengan logika atensi. Semakin menarik visual yang ditampilkan, semakin besar peluang mendapatkan respons. Dalam ekosistem seperti ini, OOTD Lebaran menjadi konten yang potensial. Ia menghadirkan warna, kebaruan, dan momen emosional. Tak heran jika banyak orang merasa terdorong untuk tampil maksimal demi mendapatkan pengakuan.
Budaya pamer yang kerap disangkal sebenarnya telah menjadi bagian dari keseharian digital. Pengguna media sosial belajar, secara sadar atau tidak, bahwa validasi hadir dalam bentuk tanda suka, komentar, dan jumlah tayangan. OOTD Lebaran kemudian bertransformasi menjadi ajang kompetisi halus: siapa yang paling serasi dengan keluarga, siapa yang paling up-to-date dengan tren, dan siapa yang mengenakan koleksi terbaru dari jenama populer.
Di sinilah identitas berkelindan dengan tekanan sosial. Banyak orang mungkin tidak benar-benar membutuhkan busana baru, tetapi merasa perlu membelinya agar tidak tertinggal. Rasa khawatir dianggap kurang pantas atau kurang mampu bisa muncul secara diam-diam. Dalam konteks masyarakat yang masih menjunjung tinggi gengsi dan citra, momen Lebaran menjadi panggung yang sensitif.
Lebaran yang seharusnya menjadi ruang refleksi spiritual dan perayaan kesederhanaan berpotensi tergeser oleh logika konsumsi. Identitas yang dibangun melalui OOTD pun kadang lebih berorientasi pada persepsi publik ketimbang kenyamanan pribadi. Kita tidak lagi hanya bertanya apakah pakaian ini nyaman dipakai salat Id, tetapi apakah pakaian ini cukup layak untuk diunggah.
Konsumerisme yang Terselubung
Industri tentu membaca peluang ini dengan jeli. Diskon besar-besaran, kampanye koleksi Lebaran, hingga kolaborasi dengan influencer menjadi strategi rutin setiap tahun. Narasi yang dibangun tidak jarang menyentuh sisi emosional: tampil kompak bersama keluarga, menciptakan momen tidak terlupakan, atau menjadi versi terbaik diri saat hari kemenangan.
Tidak ada yang keliru dengan membeli pakaian baru. Dalam tradisi, mengenakan busana terbaik saat Lebaran memang dianjurkan. Namun, persoalannya terletak pada intensitas dan dorongan psikologis di baliknya. Ketika pembelian didorong oleh rasa takut tertinggal tren atau tekanan lingkungan, konsumsi menjadi kurang reflektif.
Lebih jauh lagi, tren OOTD Lebaran juga berimplikasi pada isu keberlanjutan. Industri fesyen dikenal sebagai salah satu penyumbang limbah tekstil yang signifikan. Pakaian yang hanya dipakai satu atau dua kali untuk kebutuhan foto berpotensi menjadi bagian dari siklus fast fashion. Di tengah kesadaran lingkungan yang semakin menguat, praktik konsumsi musiman semacam ini perlu dipikirkan ulang.
Ada paradoks yang menarik. Di satu sisi, Lebaran identik dengan nilai kesederhanaan, berbagi, dan kepedulian sosial. Di sisi lain, ia bisa menjadi momentum konsumsi yang masif. OOTD Lebaran, dalam kerangka ini, menjadi simbol bagaimana nilai spiritual dan logika pasar saling bernegosiasi.
Menemukan Keseimbangan Baru
Alih-alih menolak tren OOTD secara total, mungkin yang lebih relevan adalah menemukan keseimbangan. Busana dapat tetap menjadi sarana ekspresi tanpa harus terjebak dalam perlombaan citra. Keluarga bisa tampil serasi tanpa harus memaksakan keseragaman yang mahal. Kreativitas dapat diwujudkan melalui mix-and-match pakaian lama atau memilih produk lokal yang berkelanjutan.
Penting pula membangun kesadaran bahwa media sosial hanyalah potongan realitas. Apa yang terlihat di lini masa sering kali merupakan versi paling terkurasi dari kehidupan seseorang. Membandingkan diri secara berlebihan hanya akan melahirkan tekanan yang tidak perlu. Lebaran seharusnya menjadi momen untuk mempererat relasi dan memperbaiki diri, bukan sekadar memperindah feed.
Pada akhirnya, tren OOTD Lebaran adalah cermin zaman. Ia merefleksikan bagaimana identitas dibangun, bagaimana pasar bekerja, dan bagaimana tekanan sosial beroperasi dalam masyarakat digital. Tantangannya bukan pada keberadaan tren itu sendiri, melainkan pada cara kita menyikapinya. Apakah kita menjadi subjek yang sadar dan reflektif atau sekadar objek dari arus konsumerisme yang terus bergerak.
Lebaran selalu menyimpan pesan tentang kembali pada fitrah. Mungkin, dalam konteks budaya visual hari ini, kembali pada fitrah juga berarti kembali pada makna: bahwa nilai diri tidak sepenuhnya ditentukan oleh apa yang dikenakan, melainkan oleh cara kita memaknai momen kebersamaan itu sendiri.