Tren Viral Transisi Imam Tarawih di TikTok: Syiar atau Riya?

M. Reza Sulaiman | Raja Lubis
Tren Viral Transisi Imam Tarawih di TikTok: Syiar atau Riya?
Umat Islam melaksanakan ibadah Salat Tarawih di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (18/2/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]

Ramadan di era digital seperti sekarang sering kali melahirkan tren unik yang memancing diskusi hangat. Tahun ini, beranda TikTok kita diramaikan oleh konten "Transisi Imam Tarawih". Konsepnya sederhana, namun visualnya memikat. Seseorang tampil dengan pakaian harian (mungkin kaus oblong atau kemeja kerja), lalu dalam satu kedipan transisi, ia sudah berdiri di depan jemaah dengan pakaian takwa yang rapi dan siap memimpin salat.

Konten ini segera membelah warganet menjadi dua kubu. Pertanyaannya satu: apakah ini syiar kreatif yang inspiratif atau sekadar pamer ibadah (riya) demi meraih validasi digital?

Jebakan Ria dalam Lensa Kamera

Contoh konten transisi Imam Tarawih yang viral (sumber tiktok.com/@weonnly)
Contoh konten transisi Imam Tarawih yang viral (sumber tiktok.com/@weonnly)

Bagi kelompok yang kontra, ibadah adalah wilayah yang sangat privat. Salat, apalagi posisi menjadi imam, dianggap sebagai puncak pengabdian yang seharusnya dijaga kesuciannya dari gangguan niat duniawi. Membawa kamera ke dalam masjid, menata sudut pandang (angle), hingga memikirkan sinkronisasi transisi video dianggap sebagai aktivitas yang mencederai kekhusyukan.

Kekhawatiran utama mereka adalah penyakit hati bernama riya. Ketika sebuah tindakan ibadah mulai "diproduksi" menjadi konten, ada risiko besar bahwa niat tulus berkomunikasi dengan Tuhan bergeser menjadi keinginan untuk dipuji manusia atau sekadar mengejar engagement. "Ibadah kok dikontenkan?" menjadi kritik yang paling sering terlontar sebagai bentuk penjagaan terhadap nilai sakral agama.

Namun, jika kita mau melihat dari perspektif yang lebih lebar, tren ini sebenarnya membawa misi syiar yang sangat relevan dengan zaman. Selama ini, figur imam sering kali dicitrakan sebagai sosok yang kaku atau hanya milik kalangan tua. Konten transisi ini mendobrak stigma tersebut. Tren ini menunjukkan bahwa menjadi anak muda yang modern, aktif bekerja, dan melek teknologi, tetap bisa berjalan beriringan dengan ketaatan di masjid.

Bagi generasi muda yang menghabiskan berjam-jam waktunya di TikTok, melihat konten ini boleh jadi memberikan efek psikologis yang positif. Kesalehan tidak lagi terlihat membosankan, melainkan sesuatu yang estetik dan membanggakan. Jika konten transisi ini bisa menggerakkan satu orang pemuda untuk datang ke masjid atau belajar memperbaiki bacaan Al-Qur'an-nya, bukankah itu sebuah keberhasilan syiar yang nyata?

Antara Niat Hamba dan Hak Prerogatif Tuhan

Ilustrasi tarawih bersama TikTok (sumber suara.com)
Ilustrasi tarawih bersama TikTok (sumber suara.com)

Perdebatan mengenai apakah konten tersebut riya atau inspirasi sebenarnya menemui jalan buntu jika kita hanya menilai dari kulit luar. Mengapa? Karena niat adalah sesuatu yang tertutup rapat di dalam hati. Tidak ada manusia yang memiliki otoritas atau alat deteksi untuk mengukur keikhlasan orang lain.

Menuduh seseorang riya atas sebuah konten yang mengajak pada kebaikan justru berisiko merusak hati kita sendiri dengan prasangka buruk. Kita harus ingat bahwa kualitas dan penerimaan ibadah adalah hak prerogatif Sang Pencipta. Apakah ibadah atau konten syiar itu akan diterima sebagai amal saleh, itu sepenuhnya keputusan "Admin Alam Semesta".

Meski demikian, bagi para kreator konten, penting untuk selalu melakukan audit niat secara berkala. Pastikan semangatnya adalah menginspirasi (fastabiqul khairat), bukan sekadar haus akan angka-angka di statistik media sosial. Sementara bagi kita sebagai penonton, jika sebuah konten membawa dampak positif bagi semangat ibadah kita, ambillah inspirasinya.

Pada akhirnya, saya jauh lebih senang melihat linimasa yang dipenuhi pemuda yang bangga dengan identitas spiritualnya daripada linimasa yang kering dari nuansa agama. Ramadan adalah bulan transformasi. Jika sebuah transisi video bisa memicu transisi spiritual pada diri seseorang, maka di situlah letak keberkahannya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak