Industri perfilman Indonesia baru saja melewati tahun emas pada 2025. Sejarah baru tercipta melalui genre yang selama ini sering dianggap sebagai pelengkap pasar: animasi anak-anak. Film "Jumbo" garapan Visinema secara mengejutkan berhasil menembus angka 10 juta penonton. Sebuah pencapaian fantastis yang bahkan sempat bertengger di puncak film Indonesia terlaris sepanjang masa sebelum akhirnya digeser oleh "Agak Laen: Menyala Pantiku!".
Kini, memasuki musim Lebaran 2026, perhatian publik tertuju pada satu judul: "Na Willa". Pertanyaan besarnya adalah, mampukah "Na Willa" mengulangi atau bahkan melampaui kesuksesan "Jumbo"?
Salah satu faktor terkuat yang mendasari optimisme terhadap "Na Willa" adalah sosok di balik layar. Kedua film ini sama-sama disutradarai oleh Ryan Adriandhy. Ryan telah membuktikan melalui "Jumbo" bahwa ia memiliki kemampuan langka dalam meramu cerita anak-anak yang tidak hanya menghibur si kecil, tetapi juga menyentuh hati penonton dewasa.
Ryan membawa standar baru dalam kualitas visual dan kedalaman narasi di Indonesia. Jika "Jumbo" berhasil karena kedekatan emosional ceritanya mengenai perundungan (bullying), "Na Willa" yang diadaptasi dari novel populer berisi catatan masa kecil karya Reda Gaudiamo ini memiliki modal dasar yang serupa, yakni kejujuran dan kesederhanaan.
Pilihan Hiburan yang Inklusif

Pemilihan waktu tayang adalah salah satu kunci kesuksesan sebuah film blockbuster. "Jumbo" berjaya pada Lebaran 2025 karena hadir sebagai pilihan hiburan keluarga yang paling inklusif di tengah dominasi film genre horor dan dewasa selama musim libur panjang. Lebaran adalah momen saat kebutuhan akan hiburan bersama keluarga mencapai puncaknya, dari anak-anak hingga kakek-nenek.
"Na Willa" mengambil strategi yang identik dengan tayang pada musim Lebaran 2026. Momentum ini sangat menguntungkan bagi genre anak-anak karena menawarkan tontonan ramah semua umur (all-ages) yang mampu menjembatani selera anak-anak sekaligus tetap relevan bagi penonton dewasa.
Keberhasilan "Jumbo" menggaet 10 juta penonton pada periode yang sama tahun lalu membuktikan bahwa pasar film keluarga saat Lebaran memiliki potensi antusiasme penonton yang tidak terbatas jika digarap dengan serius. "Jumbo" memecahkan rekor sebagai salah satu film terlaris sepanjang masa bukan hanya karena grafisnya, melainkan karena genre anak-anak yang ditawarkan memiliki nilai tonton ulang (repeat value) yang tinggi. Berbeda dengan film horor yang mungkin cukup ditonton sekali, film anak-anak yang berkesan sering kali ditonton berulang kali oleh keluarga.
Sementara itu, "Na Willa" memiliki keunikan tersendiri. Sebagai cerita yang sudah memiliki basis massa di media literasi, film ini memiliki modal nostalgia. Genre anak-anak yang diusung Ryan Adriandhy biasanya menghindari patron "menggurui", melainkan lebih ke arah eksplorasi dunia batin anak yang polos. Pendekatan ini sangat disukai pasar modern. Jika "Na Willa" mampu mempertahankan standar narasi yang setara dengan "Jumbo", maka potensi untuk mencapai angka psikologis 10 juta bukanlah hal yang mustahil.
Tantangan di Lebaran 2026

Namun, tantangan bagi "Na Willa" tentu lebih besar. Film ini memikul beban ekspektasi publik yang telah "dimanjakan" oleh kualitas "Jumbo". Selain itu, peta persaingan pada tahun 2026 diprediksi akan lebih padat dengan film-film besar lainnya yang tentu ingin merebut kembali takhta film terlaris. Setidaknya ada enam film Indonesia yang sudah terkonfirmasi akan tayang serentak pada Lebaran 2026. Jumlah ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah penayangan di setiap Lebaran, yang pada tahun lalu mencapai lima film.
Secara analisis, "Na Willa" memiliki peluang besar untuk mengikuti kesuksesan "Jumbo". Faktor sutradara yang sama, genre yang konsisten ramah keluarga, dan pemilihan waktu rilis yang cerdas adalah tiga pilar utama pendukungnya. Meskipun "Jumbo" akhirnya harus menyerahkan takhta film terlaris kepada "Agak Laen 2", hal tersebut justru membuktikan bahwa pasar film Indonesia sedang sangat bergairah.
Mampukah "Na Willa" mengikuti kesuksesan "Jumbo"? Peluangnya sangat terbuka lebar. Selama Ryan Adriandhy tetap setia pada kekuatannya dalam bercerita dengan jujur, "Na Willa" akan menjadi lebih dari sekadar tontonan anak-anak. Film ini akan menjadi peristiwa budaya tahunan saat Lebaran. Sepuluh juta penonton adalah angka yang realistis untuk diraih kembali oleh genre ini, asalkan kualitas produksinya tetap menjaga standar tinggi yang telah ditetapkan oleh pendahulunya.
Tertarik menonton "Na Willa"? Siap tayang di bioskop mulai 18 Maret 2026.