Dilema Midnight Sale Jelang Lebaran: Pilih Tidur Nyenyak atau Checkout Seragam Keluarga Estetik?

M. Reza Sulaiman | Sri Rahayu
Dilema Midnight Sale Jelang Lebaran: Pilih Tidur Nyenyak atau Checkout Seragam Keluarga Estetik?
Ilustrasi belanja online (pexels/cottonbro studio)

Saat jarum jam menyentuh angka dua belas malam, atmosfer di dalam rumah biasanya berubah sunyi. Suami sudah mendengkur, anak-anak terlelap pulas. Di momen inilah, banyak ibu rumah tangga memulai "ritual" paling berbahaya dalam hidup mereka: me-time digital. Di bawah selimut, sebuah layar ponsel menyala terang, memantulkan cahaya biru ke mata yang lelah, sementara jempol mulai menari lincah di aplikasi e-commerce.

Inilah fenomena Midnight Sale Ramadan. Sebuah jebakan psikologis yang dikemas dengan label "diskon gede-gedean" dan "stok terbatas". Bagi para ibu, momen ini seolah menjadi oase di tengah padatnya tugas domestik siang hari. Namun, sadarkah kita bahwa di balik kesenangan sesaat memindahkan barang ke keranjang belanja, ada ancaman serius yang mengintai kesehatan mental dan stabilitas kantong keluarga?

FOMO (Fear of Missing Out) atau ketakutan akan ketinggalan tren adalah bahan bakar utamanya. Media sosial telah berhasil menciptakan standar baru: Lebaran tidak sah tanpa baju seragam keluarga yang estetik, mukena berbahan premium, hingga toples kue yang bentuknya harus kekinian.

Ibu-ibu dipaksa berkompetisi dalam perlombaan yang tidak pernah ada garis finisnya. Ada ketakutan irasional jika tidak segera checkout, maka mereka akan menjadi "satu-satunya" orang yang tampil biasa saja saat Idulfitri nanti.

Dampaknya? Yang paling nyata adalah perampokan waktu istirahat. Tubuh yang seharian bekerja keras dan harus bangun lebih awal untuk menyiapkan sahur, justru dipaksa terjaga demi memelototi kilatan diskon. Akibatnya, ibu-ibu sering kali memulai hari dengan kondisi cranky, kurang fokus, dan emosi yang mudah meledak. Ibadah puasa yang seharusnya melatih kesabaran justru ternoda oleh mood yang berantakan akibat kurang tidur yang sengaja dicari.

Secara finansial, ini adalah "tsunami" kecil dalam rumah tangga. Algoritma toko online jauh lebih pintar dari logika kita saat mengantuk. Di tengah malam, fungsi kontrol di otak depan manusia cenderung melemah. Kita lebih mudah berkata "ya" pada barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Diskon 50% sering kali menipu; kita merasa hemat padahal sebenarnya sedang membuang uang yang seharusnya bisa dialokasikan untuk kebutuhan yang lebih krusial, seperti biaya pendidikan anak atau dana darurat pasca-Lebaran.

Lebih jauh lagi, fenomena ini menciptakan tekanan psikologis berupa "kecanduan dopamin". Kepuasan saat berhasil mendapatkan barang incarannya hanya bertahan beberapa menit, lalu diikuti oleh rasa cemas saat melihat saldo rekening yang menipis. Alih-alih mendapatkan ketenangan di bulan suci, yang didapat justru beban pikiran baru tentang bagaimana menutupi lubang keuangan hingga akhir bulan nanti.

Ramadan seharusnya menjadi ajang detoksifikasi diri, termasuk dari gaya hidup konsumtif. Keindahan hari raya tidak ditentukan oleh seberapa mewah kain yang melekat di tubuh, melainkan seberapa bersih hati yang kita bawa saat bersalam-salaman. Jika baju baru dibeli dengan cara mengorbankan kesehatan fisik dan kedamaian finansial keluarga, maka makna "kemenangan" di hari Idulfitri menjadi patut dipertanyakan.

Sudah saatnya para ibu—sang manajer keuangan keluarga—untuk meletakkan ponselnya saat jam tidur tiba. Ingatlah bahwa me-time terbaik bukanlah menelusuri katalog belanja, melainkan mengistirahatkan raga agar esok pagi bisa melayani keluarga dengan senyuman, bukan dengan mata panda.

Jangan biarkan layar ponsel yang hanya berukuran sekian inci itu menjajah kebahagiaan rumah tangga Anda. Karena pada akhirnya, anak dan suami tidak akan ingat apa merek baju yang mereka pakai saat Lebaran, tapi mereka akan selalu ingat betapa hangat dan sabarnya seorang ibu yang tidak kelelahan akibat begadang demi gengsi digital.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak