News
Yoursay Class: Tak Sekadar Curhat, Ini Cara Menulis Opini Personal yang Relatable dan Berdampak
Banyak penulis pemula yang masih merasa ragu ketika ingin menyampaikan opininya karena merasa pengalaman hidup mereka terlalu sederhana atau tidak cukup penting untuk dibahas.
Namun, dalam sesi Yoursay Class yang diadakan melalui Zoom pada Selasa (7/4/26) lalu, Editorial Suara.com, Bimo Aria Fundrika menekankan sebuah konsep kuat tentang "Personal is Political".
Artinya, apa yang kita alami secara pribadi sebenarnya tidak pernah berdiri sendiri. Ia pasti mempunyai kaitan dengan struktur sosial yang lebih besar.
Membedah Struktur di Balik Keresahan
Mengapa kita harus membawa sisi personal ke dalam tulisan opini? Jawabannya adalah karena pembaca hari ini tidak lagi sekadar mencari informasi mentah atau rangkuman fakta.
Di laman berita, orang-orang bisa mendapatkan fakta dan info terkini yang sedang terjadi. Namun, di Yoursay, mereka kini bisa mendapatkan perspektif lain melalui cerita-cerita dan opini berkaitan dengan isu-isu yang lebih dekat dengan masyarakat.
Saat ini pembaca tidak lagi sekadar mengejar kecepatan informasi, tetapi ingin menemukan sebuah kedekatan (relatability) melalui pengalaman nyata.
Bimo menjelaskan bahwa pengalaman personal itu adalah cerita yang valid dan jujur. Baginya, pengalaman ini bukan sekadar curhatan, melainkan instrumen yang membantu orang lain untuk melihat konteks yang lebih luas sebelum mengambil keputusan.
“Satu hal yang kita rasakan secara personal, itu sebetulnya punya kaitan yang cukup kompleks, punya struktur sosial yang juga cukup kompleks. Jadi, sebetulnya pengalaman kita sehari-hari itu dibentuk. Keputusan yang kita ambil sekarang itu juga akan memengaruhi,” ujarnya.
Dengan memahami hal ini, seorang penulis bisa menarik satu kejadian kecil. Misalnya kesulitan mengatur waktu antara kuliah dan kerja sampingan bisa menjadi sebuah kritik terhadap sistem pendidikan atau tuntutan dunia kerja saat ini.
Di sinilah sebuah "curhatan" berubah menjadi opini yang berbobot dan punya perspektif luas.
Identitas Sebagai Niche
Sering kali, penulis takut dianggap tidak kompeten jika tidak memiliki gelar ahli di bidang tertentu. Atau merasa bahwa dirinya oversharing ketika menceritakan pengalaman pribadi. Padahal, identitas asli kita, entah itu sebagai mahasiswa, guru, pekerja lepas, atau ibu rumah tangga sekalipun bisa menjadi senjata utama untuk menemukan niche atau ciri khas tulisan.
Identitas ini bukan penghalang, melainkan kacamata unik yang membuat tulisan kita berbeda dari orang lain.
“Identitas-identitas itu yang bisa kita kembangkan jadi ide-ide tulisan. Hal-hal seperti itu yang kemudian bisa berangkat dari hal yang kelihatannya tenang-tenang, kita juga bisa membedah bahwa di belakangnya ada satu struktur yang lebih kompleks,” jelas Bimo.
Mengubah Pengalaman Menjadi Nilai Lebih
Menemukan ide tidak perlu dari hal yang jauh. Menurut Bimo, kamu bisa mulai dengan bertanya pada diri sendiri seperti: isu apa yang sedang ramai dan bagaimana kaitannya dengan pengalaman yang terjadi.
Teknik riding the wave atau mengaitkan isu viral dengan perspektif personal adalah cara efektif agar tulisan kita relevan secara kontekstual.
Bimo sendiri dalam tulisan yang ia bagikan, menceritakan keresahannya terkait sulitnya untuk melanjutkan studi di tengah situasi ekonomi yang tidak pasti.
“Aku mengangkat LPDP yang waktu kemarin itu lagi cukup banyak dibahas dengan identitas pribadi ataupun pengalaman pribadiku sebagai seorang laki-laki, kemudian juga suami, ayah, sekaligus anak. Di sini aku mencoba menggabungkan itu menjadi satu tulisan,” ungkapnya.
Ia menyampaikan keinginannya untuk bisa melanjutkan studinya, tetapi tetap dikaitkan dengan konteks yang lebih luas.
“Mungkin teman-teman juga tahu bahwa belakangan di Indonesia situasi ekonomi juga sangat tidak pasti. Banyak PHK, layoff, dan juga segala macam serba naik. Jadi walaupun mungkin dengan beasiswa, aku mau mencoba membangun bahwa ini tuh kayak kasus yang ekstrim, kayak berjudi gitu ya karena bertaruhnyabukan cuma karirku, tapi juga sebagai seorang generasi sandwich dengan situasi kehidupan yang juga harus memenuhi kebutuhan keluarga,” jelas Bimo.
Di Yoursay, keberpihakan dan POV (Point of View) yang jujur justru menjadi nilai lebih. Penulis tidak harus selalu menjadi netral.
Selama argumen yang disampaikan didukung oleh data yang valid dan fakta yang bisa diuji, opini tersebut akan menjadi ruang gagasan yang mengundang diskusi sehat bagi pembaca millennial dan Gen Z.
Jadi intinya, jangan takut dianggap tidak penting. Pengalaman personalmu itu valid, unik, dan punya tempat dalam diskursus publik. Dengan berani membedah struktur sosial di balik cerita keseharian, kamu tidak hanya sedang bercerita, tapi juga sedang memberikan kontribusi bagi perubahan perspektif di masyarakat.