News
Di Tengah Ramainya Malioboro, Komunitas Andong Ini Terhubung Lewat Selapan
Dulu, pertama kali datang ke Jogja, perjalanan berhenti di Stasiun Tugu. Dari sana, cukup menoleh ke arah Malioboro, suasana kota langsung terasa hidup. Di antara keramaian itu, ada satu hal yang paling mencuri perhatian: andong.
Saat itu, andong hanya terlihat sebagai bagian dari lanskap kota, ikon wisata yang seolah selalu ada. Tidak banyak pertanyaan muncul tentang siapa yang menggerakkannya, atau bagaimana kehidupan di baliknya berjalan.
Pandangan itu mulai berubah pada Minggu (19/04/2026) pagi, sekitar pukul 07.00 WIB.
Udara masih terasa segar, dengan sinar matahari yang mulai hangat perlahan menyentuh halaman rumah Pak Dyono. Suasana jauh dari hiruk-pikuk Malioboro. Yang terdengar justru suara ayam berkokok, kambing yang bergerak pelan di kandang, dan aktivitas pagi yang masih berjalan perlahan.
Di samping rumah, seekor kuda betina berdiri. Namanya Juwita.
Pak Dyono (51) menyambut dengan santai. Raut wajahnya tenang, tidak banyak berubah sepanjang percakapan. Namun dari caranya berbicara, terasa pengalaman panjang yang ia jalani.
Seiring percakapan berjalan, Pak Dyono mulai menceritakan titik awal ia terlibat dalam dunia andong yang kini ia jalani.
“Aku mulai tahun 1988 akhir, sekitar September. Dulu bapak, terus nggak ada yang nerusin, ya saya. Saya nggak sekolah, langsung ngurus kuda itu. Saya SD sudah ngurus kuda,” kata Pak Dyono saat ditemui Yoursay.id di rumahnya pada Minggu (19/04/2026).
Kalimat itu mengalir tanpa jeda panjang. Tidak terdengar dramatis, tetapi justru dari kesederhanaannya terasa berat. Hidup yang berjalan sejak awal tanpa banyak pilihan.
Sejak saat itu, hari-harinya diisi dengan merawat kuda, memahami kebiasaannya, hingga akhirnya mulai menarik andong sendiri. Semua dijalani tanpa pola yang benar-benar diajarkan, lebih banyak dari pengalaman yang terus terbentuk seiring waktu.
Percakapan kemudian bergerak ke masa lalu, tentang tempat yang dulu menjadi pusat para kusir.
“Dulu semua di Gembira Loka, belum ada di Malioboro. Pas krisis itu pindah ke Malioboro. Sekarang satu pun andong nggak ada di Gembira Loka,” bebernya.
Perubahan itu terasa jelas. Dari satu titik yang ramai, berpindah ke pusat kota yang kini menjadi wajah utama andong.

Namun di balik perpindahan itu, komunitas mereka tetap bertahan melalui sistem yang lebih terstruktur. Komunitas kusir andong di Yogyakarta berada di bawah koperasi yang dibentuk untuk menjaga kesejahteraan para kusir. Dari koperasi ini, terbentuk kelompok-kelompok kecil, salah satunya kelompok Gembira Loka tempat Pak Dyono berada.
Di dalam kelompok ini, hubungan antaranggota terasa setara. Tidak ada struktur yang kaku, karena semuanya berjalan sebagai sesama pelaku di lapangan.
Kelompok ini juga masih menjaga tradisi berkumpul secara rutin. Ada pola waktu yang disebut selapan, yakni sekitar 35 hari sekali dalam hitungan Jawa. Pada momen ini, anggota kelompok bergiliran menjadi tuan rumah untuk arisan.
“Kalau arisan itu satu bulan sekali. Kalau paguyuban dua bulan sekali. Kumpul cuma ngobrol, bahas ketertiban,” ungkap Pak Dyono.
Pertemuan itu tidak hanya soal arisan, tetapi juga menjadi ruang untuk menjaga komunikasi dan kebersamaan di antara mereka. Selain pertemuan selapan, ada juga paguyuban yang lebih besar dari koperasi, yang digelar setiap dua bulan sekali dengan perwakilan dari tiap kelompok.
Di situ, komunitas ini tidak hanya bergerak di jalanan Malioboro, tetapi juga dalam ritme sosial yang mereka jaga sendiri.
Di sela percakapan, perhatian kembali tertuju pada Juwita. Kuda itu berdiri tenang di samping rumah, menjadi bagian dari rutinitas yang sudah akrab setiap hari. Pak Dyono kembali menjelaskan dengan sederhana.
“Yang penting makannya. Katul itu vitaminnya. Kuda bisa tidur sambil berdiri,” ungkapnya.
Penjelasan itu terdengar ringan, tetapi menunjukkan bagaimana keseharian mereka tidak bisa dilepaskan dari perawatan yang terus berjalan.
Dari rumah itu juga terlihat bagaimana pola kerja berlangsung.
“Nggak ada jadwal, sudah jadwal alam. Berangkat sendiri-sendiri,” ujar Pak Dyono.
Tidak ada sistem waktu yang ketat. Semua mengalir mengikuti kebiasaan yang sudah terbentuk lama. Saat ditanya mengenai kondisi di jalan, ia menjelaskan dengan sedeerhana.
“Kalau sepi paling 2–3 kali jalan. Kalau liburan bisa ramai. Tergantung musim,” lanjutnya.
Di situ terlihat bahwa di balik pengalaman wisata yang tampak sederhana, ada ritme yang tidak selalu pasti.
Waktu perlahan bergerak di halaman rumah itu. Udara pagi yang segar mulai berubah menjadi hangat. Aktivitas di sekitar ikut meningkat, sementara suasana pagi yang tenang perlahan bergeser.
Saat berpamitan, matahari sudah naik lebih tinggi. Cahaya pagi jatuh di halaman, mengenai Juwita yang tetap berdiri tenang.
Dari momen itu, muncul kesadaran bahwa andong yang pertama kali terlihat saat turun di Stasiun Tugu bukan sekadar bagian dari pemandangan kota.
Di baliknya, ada kehidupan yang berjalan panjang, ada komunitas yang tetap menjaga ritme sendiri, dan ada cara hidup yang terus bergerak pelan di tengah Malioboro yang tidak pernah benar-benar berhenti.