News

Peringatan Keras The Economist untuk Indonesia: Saatnya Rem Kebijakan yang Terlalu Ekspansif?

Peringatan Keras The Economist untuk Indonesia: Saatnya Rem Kebijakan yang Terlalu Ekspansif?
Menjaga Jangkar Stabilitas: Membaca Sinyal Pasar Setelah Peringatan The Economist

Laporan terbaru dari media ekonomi internasional, The Economist, memberikan catatan kritis yang sangat mendalam sekaligus menghentak bagi arah kebijakan ekonomi Indonesia. Dalam tinjauannya, rentetan kebijakan yang diambil dalam 1,5 tahun terakhir—seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), penguatan Koperasi Desa, serta beberapa proyek infrastruktur skala besar dinilai terlalu ekspansif, boros, dan membebani pos pengeluaran negara.

Isyarat ini menjadi alarm merah yang menakutkan ketika dikontekstualisasikan dengan kondisi makroekonomi kita hari ini: defisit anggaran yang dilaporkan nyaris menyentuh ambang batas psikologis 3 persen dari PDB dan nilai tukar rupiah yang melemah tajam hingga menembus level Rp17.550 per dolar AS. Kita sedang dihadapkan pada kenyataan pahit: sebuah taruhan buta makroekonomi yang mulai menagih bayarannya.

Di satu sisi, jaring pengaman sosial dan program berbasis pemenuhan gizi masyarakat memiliki basis argumen sosial-kemasyarakatan yang kuat. Upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini adalah investasi jangka panjang. Namun, di sisi lain, ketepatan momentum, skala eksekusi, dan ketersediaan ruang fiskal (fiscal space) adalah prasyarat mutlak agar niat baik politik tersebut tidak berbalik menjadi beban makroekonomi yang kontraproduktif. Ekonomi memiliki hukum gravitasinya sendiri, ia tidak bisa ditekuk oleh retorika politik.

Dilema Fiskal dan Tekanan Nilai Tukar

Pelemahan rupiah hingga menembus angka Rp17.550/USD mengonfirmasi adanya volatilitas dan runtuhnya sentimen positif di pasar keuangan global. Pasar cenderung membaca bahwa agresivitas belanja negara yang tidak diimbangi dengan pertumbuhan pendapatan negara (pajak dan nonpajak) yang sepadan akan memperlebar defisit. Ketika defisit anggaran mendekati plafon legal 3 persen yang selama ini disakralkan sebagai benteng pertahanan pascakrisis 1998, fleksibilitas pemerintah dalam merespons gejolak ekonomi global menjadi makin lumpuh.

Belanja negara yang didominasi oleh program-program bantuan langsung atau konsumtif memiliki daya dorong (multiplier effect) yang cenderung pendek di dalam negeri. Berbeda halnya jika anggaran dialokasikan untuk sektor-sektor produktif yang mampu memperbaiki rantai pasok atau mengurangi ketergantungan impor. Ketika biaya belanja membengkak dan harus ditutupi oleh penambahan pembiayaan utang, tekanan terhadap mata uang domestik sulit dihindari akibat meningkatnya risiko fiskal di mata investor global.

Dampak dari pelemahan nilai tukar ini pada akhirnya akan merembes ke sektor riil melalui jalur imported inflation (inflasi barang impor). Kenaikan biaya logistik dan harga bahan baku industri lambat laun akan menekan harga di tingkat konsumen. Ironisnya, kelompok masyarakat rentan yang menjadi target utama kebijakan populis justru berpotensi menjadi korban pertama yang menanggung beban inflasi ini dalam kehidupan sehari-hari mereka. Ini adalah ilusi kesejahteraan yang semu.

Mengembalikan Kredibilitas Kebijakan

Untuk meredam spekulasi dan mengembalikan kepercayaan pasar yang mulai goyah, diperlukan sinyal kebijakan yang kuat, berani, dan terukur dari otoritas fiskal dan moneter:

Penerapan Skala Prioritas dan Penahapan (Phasing): Program berskala besar seperti MBG atau Koperasi Desa tidak harus dipaksakan berjalan penuh secara instan. Diperlukan pengkajian ulang target sasaran (targeting) agar lebih selektif dan bertahap, menyesuaikan dengan kapasitas penerimaan negara yang riil.

Komitmen Mutlak terhadap Disiplin Fiskal: Pemerintah perlu menegaskan kembali komitmennya untuk menjaga batas defisit di bawah 3 persen secara ketat demi menjaga kredibilitas pengelolaan anggaran yang selama ini menjadi kekuatan utama Indonesia di mata dunia.

Penutup

Peringatan dari The Economist sepatutnya tidak direspons dengan pembelaan politik yang reaktif, melainkan ditempatkan sebagai cermin objektif untuk menakar ulang keseimbangan antara ambisi pembangunan sosial dan daya dukung finansial negara.

Menjaga stabilitas makroekonomi bukan berarti mengabaikan kesejahteraan rakyat, melainkan memastikan bahwa kesejahteraan yang dibangun hari ini tidak mengorbankan stabilitas ekonomi generasi masa depan. Sudah saatnya kita berhenti memanjakan hari ini dengan kebijakan instan yang menumbalkan masa depan. Navigasi ekonomi kita harus segera kembali pada peta jalan yang waras, terukur, dan berkelanjutan.
 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda