News
Cerita dari Taman Puring: Begini Serunya Mengikuti Latihan Komunitas Parkour Jakarta
Bagi sebagian orang, parkour mungkin hanya identik dengan aksi melompati tembok tinggi atau berpindah dari satu bangunan lain seperti di film-film action. Gambaran itu membuat banyak orang menganggap parkour sebagai olahraga ekstrem yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki kemampuan fisik luar biasa.
Namun, pandangan tersebut perlahan berubah ketika saya menyaksikan langsung kegiatan latihan komunitas Parkour Jakarta.
Suasana Latihan Pagi di Taman Puring
Hari itu suasana Taman Puring, Jakarta Selatan, tampak ramai. Ada yang sedang berolahraga, bermain bola, bermain sepeda, atau sekadar menghirup udara segar pagi hari. Bahkan taman semakin ramai saat air mancur dinyalakan, membuat anak-anak menyerbu dan bermain air.
Di salah satu sudut taman, saya melihat seorang pria mengenakan kaus bertuliskan parkour. Sebelumnya, saya memang telah membuat janji dengan pelatih komunitas Parkour Jakarta. Karena melihat atribut yang dikenakannya, saya menghampiri pria tersebut dan memastikan bahwa ia berasal dari komunitas yang saya cari.
Ia memperkenalkan dirinya sebagai Dani, salah satu anggota komunitas ini. Dani mengatakan bahwa latihan akan dimulai pada pukul 09.00 WIB. Tak lama kemudian, satu per satu anggota mulai berdatangan.
Di tengah keramaian taman, mereka saling menyapa sambil mempersiapkan diri untuk berlatih. Beberapa menit kemudian, saya akhirnya bertemu dengan Faiqo Rohman atau yang akrab dikenal Iqo, salah satu pelatih komunitas ini. Setelah memperkenalkan diri, saya dipersilakan untuk menyaksikan jalannya latihan dari dekat.
Latihan hari itu dipimpin oleh Dani dengan didampingi Iqo. Sebelum memulai latihan, semua anggota melakukan pemanasan terlebih dahulu.
Pada momen itulah membuat saya tersadar bahwa latihan parkour tidak diawali dengan aksi melompat dari tempat tinggi seperti yang selama ini saya bayangkan. Sebaliknya, setiap gerakan dimulai dengan pemanasan, pengenalan teknik, dan arahan dari pelatih agar latihan berlangsung aman.
Usai latihan, saya berkesempatan untuk berbincang dengan Iqo mengenai Komunitas Parkour Jakarta. Obrolan kami dimulai dari cerita tentang bagaimana komunitas ini dibentuk pertama kali.
Sejarah dan Tantangan Pascapandemi
Menurut Iqo, Parkour Jakarta merupakan bagian dari komunitas parkour yang lebih dulu dibentuk oleh sebuah forum pada Juli 2007. Setelah forum tersebut diresmikan, komunitas mulai berkembang ke berbagai daerah, termasuk Jakarta yang resmi berdiri pada 29 Agustus 2007.
"Kalau Parkour Jakarta itu terbentuk di sekitar tahun 2007-an. Udah banyak ini generasinya, lah," jelas Iqo.
Meski telah berdiri hampir dua dekade, perjalanan komunitas ini tidak selalu berjalan mulus.
Pandemi Covid-19 sempat melumpuhkan aktivitas latihan sehingga komunitas ini baru aktif kembali pada sekitaran tahun 2021 hingga 2022 akhir.
"Abis pandemi itu, baru mulai latihan lagi di tahun 2021 atau 2022 akhir lah," tambahnya.
Bagi Iqo, tantangan terbesar justru bukan hanya menjaga komunitas tetap berjalan, tetapi juga mengubah cara pandang masyarakat terhadap parkour.
Hingga kini masih banyak orang yang menganggap parkour hanya berisi aksi salto atau lompatan ekstrem.
"Padahal sebenarnya parkour itu tidak melulu tentang yang salto-salto aja. Sebenarnya, kita cuma ya lewatin obstacles-obstacles. Flip itu bagian dari parkour, tapi parkour bukan bagian dari flip, intinya itu sih," tegasnya.
Penjelasan tersebut membuat saya paham bahwa parkour bukan sekadar olahraga yang mempertontonkan aksi berbahaya. Di balik setiap gerakan, terdapat latihan teknik, pengendalian tubuh, dan perhitungan yang matang agar setiap lompatan dapat dilakukan dengan aman.
Terbuka untuk Pemula dengan Aturan Usia
Lebih lanjut, Iqo menjelaskan bahwa Komunitas Parkour Jakarta sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar. Pemula tidak harus langsung bisa menguasai gerakan sulit, karena seluruh latihan dilakukan secara bertahap dengan pendampingan dari pelatih maupun anggota yang lebih berpengalaman.
"Untuk pemula itu kita sarankan datang lebih awal. Karena mengikuti pemanasan. Apalagi buat orang-orang yang jarang olahraga, itu kita kan lompat-lompat, udah pasti pegel-pegel," katanya.
Meskipun terbuka untuk siapa saja, Iqo menyarankan bagi anak-anak yang tertarik dengan parkour itu mulai dari usia delapan tahun.
"Anak-anak kita batasin, itu di usia delapan tahun minimal. Karena anak-anak usia enam tahun itu masih gampang ke-distract, ya, dan masih belum bisa menerima instruksi," tambahnya.
Selain mengadakan latihan rutin di Taman Puring, komunitas Parkour Jakarta juga aktif menjalin silaturahmi dengan komunitas parkour dari berbagai daerah. Mereka rutin mengadakan kegiatan Jamming Regional (JamReg). Kegiatan ini menjadi ajang untuk berkumpul, berlatih bersama, sekaligus mempererat hubungan antarkomunitas.
"Mereka ini juga rutin buat ngadain JamReg," ujarnya.
Sebenarnya untuk skala yang jauh lebih besar, yakni JamNas atau Jamming Nasional. Namun, pandemi membuat acara tersebut tidak bertahan lama dan hanya tersisa JamReg.
"Sebenarnya ada JamNas juga, satu Indonesia. Cuma karena pandemi, nah itu ilang di situ. Dan yang masih berlanjut adalah JamReg-nya," tutur Iqo.
Meskipun sempat diterpa pandemi dan masih harus menghadapi berbagai stigma masyarakat, semangat Komunitas Parkour Jakarta tidak surut.
Bagi mereka, parkour bukan sekadar melompat tembok atau melakukan gerakan ekstrem, melainkan sebuah proses untuk mengenal kemampuan diri, melatih disiplin, dan tumbuh bersama dalam sebuah komunitas.
Iqo mewakili teman-teman komunitas berharap bahwa akan semakin banyak kompetisi agar orang-orang semakin tergugah untuk mengenal lebih jauh tentang parkour.
"Ya harapannya sih, lebih banyak diadain kompetisi kayak di TV gitu, Ninja Warrior. Itu mungkin sih, mungkin disiarkan di TV," ungkapnya.
Bagi mereka, semakin sering parkour hadir di ruang publik, maka besar pula kesempatan untuk mengubah anggapan orang-orang mengenai parkour yang sekadar aksi nekat berbahaya.