suara hijau

News

Jinakkan El Nino Pakai Garam Laut: Ide Brilian atau Malapetaka Baru?

Jinakkan El Nino Pakai Garam Laut: Ide Brilian atau Malapetaka Baru?
Ilustrasi El Nino yang semakin panas (dok.Pexels/Quang Nguyen Vinh)

Menurut penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances, mencerahkan awan di atas Samudra Pasifik menggunakan partikel garam laut berpeluang untuk mengurangi kekuatan El Nino.

Dalam jurnal tersebut mengemukakan bahwa intervensi melalui simulasi komputer dilakukan guna membantu meringankan sebagian dampak dari cuaca ekstrem yang dipicu oleh fenomena iklim tersebut.

Meskipun demikian, para peneliti menegaskan teknologi tersebut masih berada pada tahap penelitian dan belum bisa untuk diaplikasikan.

Selain menghadapi tantangan dari segi teknis, metode ini juga berpotensi memicu dampak iklim yang merugikan wilayah lain sehingga masih memerlukan kajian lebih mendalam.

Cara Kerja Marine Cloud Brightening

Penelitian tersebut menguji teknik marine cloud brightening (MCB). Teknik geoengineering ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan awan dalam memantulkan sinar matahari.

Caranya adalah dengan menyemprotkan partikel garam laut berukuran sangat kecil dan halus ke atmosfer. Partikel tersebut akan mendorong produksi air di dalam awan sehingga menjadi lebih cerah dan memantulkan lebih banyak radiasi matahari kembali ke angkasa. Efeknya adalah berkurangnya pemanasan permukaan laut.

"Jangka waktu intervensi yang lebih singkat ini bisa menjadi cara yang sangat ampuh bagi geoengineering untuk masuk ke dalam portofolio respons terhadap perubahan iklim," kata penulis utama sekaligus peneliti pascadoktoral di Universitas Chicago, Jessica Wan.

El Nino merupakan suatu fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur yang memengaruhi cuaca secara global. Dampaknya bisa berupa kekeringan dan meningkatnya risiko kebakaran hutan di sejumlah wilayah, hujan lebat, serta naiknya suhu rata-rata dalam skala global.

Fenomena ini telah mengakibatkan banyaknya korban jiwa dan kerugian ekonomi hingga triliunan dolar di berbagai negara.

Simulasi pada El Nino 1997 dan 2015

Melalui penelitian tersebut, para ahli mengaplikasikan model iklim untuk melakukan simulasi penerapan marine cloud brightening (MCB) pada dua peristiwa El Nino yang sangat kuat, yakni pada tahun 1997 — 1998 dan 2015 — 2016.

Simulasi dilaksanakan dengan menerapkan pencerahan awan di kawasan berbentuk persegi panjang yang membentang di Pasifik khatulistiwa.

Secara teori, metode tersebut bisa dilakukan menggunakan kapal yang difasilitasi oleh nosel, semacam alat berbentuk pipa untuk memecah cairan menjadi bentuk semprotan, dengan menyemprotkan garam laut ke atmosfer bagian bawah.

Hasil dari simulasi tersebut memperlihatkan bahwa intervensi berhasil jika dimulai sejak Juni hingga Februari tahun berikutnya. Mereka bisa menekan pemanasan permukaan laut di area Pasifik. Wilayah yang sebelumnya diprediksi akan lebih panas cenderung mengalami penurunan suhu dan perubahan pola hujan mendekati posisi normal.

"Namun, alasan orang-orang peduli tentang hal ini bukanlah suhu di dalam sebuah ruangan di Pasifik, melainkan bagaimana dampaknya terasa di daratan," kata Wan.

Ide penelitian ini sebenarnya berawal dari pengamatan terhadap kebakaran hutan besar (Black Summer) di Australia pada 2019—2020.

Penelitian terdahulu memperlihatkan bahwa asap dari kebakaran tersebut memboyong partikel aerosol—partikel kecil yang melayang di udara—ke atmosfer yang secara alamiah membuat awan jadi lebih cerah.

Peristiwa itu memicu terhadap pembentukan La Nina—fase dingin yang ditandai dengan turunnya suhu muka laut di Samudra Pasifik—selama tiga tahun berturut-turut. Dari peristiwa tersebutlah yang melatarbelakangi para peneliti untuk menguji apakah efek serupa dapat dihasilkan secara sengaja melalui teknik geoengineering.

Tantangan Teknis dan Risiko Geoengineering

Meski terlihat sangat menjanjikan, para peneliti memperingatkan bahwa teknologi ini masih menghadapi berbagai tantangan.

Terhitung hingga saat ini, perangkat penyemprot garam laut yang sedang dikembangkan masih belum mampu memproduksikan volume partikel yang diperlukan. Bahkan jika teknologinya berhasil disempurnakan, tetap membutuhkan sekitar 2.400 kapal untuk mendapatkan dampak yang cukup signifikan terhadap pola iklim.

Selain terkendala teknis, simulasi turut menyoroti kemungkinan munculnya konsekuensi yang tidak diharapkan. Peneliti juga belum begitu mengetahui dampak jangka panjang apabila teknik tersebut dipraktikkan berulang kali untuk menekan El Nino.

Wan menilai penelitian terhadap geoengineering tetap penting diterapkan, mengingat dunia telah berada di kondisi pemanasan global.

"Kita sudah melewati titik di mana kita bisa mematikan emisi hari ini dan semuanya akan baik-baik saja. Jadi cara saya memandang geoengineering adalah bagaimana kita dapat mengurangi dampak terburuknya sambil kita berusaha mencari solusi jangka panjang," terangnya.

Ia menegaskan bahwa mengabaikan riset mengenai teknologi tersebut justru memperparah kondisi dunia di saat tantangan perubahan iklim semakin besar.

"Saya rasa akan menjadi tindakan yang tidak bertanggung jawab jika kita tidak melakukan riset, mengingat konteks yang kita hadapi saat ini," pungkasnya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda