News
Transportasi Darat Sumbang 87 Persen emisi, Bagaimana Kemenhub Percepat Dekarbonisasi?
Transportasi darat masih menjadi penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor transportasi di Indonesia. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat sekitar 87 persen emisi sektor transportasi berasal dari moda transportasi darat, sehingga pemerintah mempercepat berbagai langkah dekarbonisasi untuk menekan emisi sekaligus mendukung target Net Zero Emission (NZE).
Data tersebut disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Pusat Pengelolaan Transportasi Berkelanjutan (PPTB), Reza Hertantyo, dalam forum LINTAS (Ngobrolin Transportasi Bareng Komunitas), Jumat (17/7).
Menurutnya, besarnya kontribusi transportasi darat terhadap emisi menunjukkan perlunya transformasi sistem transportasi yang lebih berkelanjutan.
"Berdasarkan data inventarisasi emisi gas rumah kaca yang sudah kami lakukan bersama Kementerian Perhubungan, sekitar 87 persen emisi transportasi itu berasal dari transportasi darat," ujar Reza.
Perubahan iklim makin terasa
Reza menjelaskan, dampak perubahan iklim kini semakin nyata dirasakan masyarakat. Peningkatan suhu udara membuat cuaca terasa lebih panas dibandingkan sebelumnya.
Di sisi lain, pola musim juga semakin sulit diprediksi, mulai dari musim hujan yang datang lebih lambat hingga musim kemarau yang berlangsung lebih panjang. Kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak pada sektor pertanian, ketahanan pangan, hingga kesehatan.
Karena itu, menurut Reza, sektor transportasi menjadi salah satu sektor yang memiliki peran strategis dalam upaya menurunkan emisi karbon nasional.
Mendorong masyarakat beralih ke transportasi umum
Salah satu strategi yang ditempuh pemerintah adalah mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi melalui pengembangan Transit Oriented Development (TOD).
Konsep ini mengintegrasikan tata ruang dengan sistem transportasi publik sehingga masyarakat dapat menjangkau berbagai fasilitas dengan berjalan kaki, bersepeda, maupun menggunakan angkutan massal.
Melalui pendekatan tersebut, pemerintah berharap masyarakat memiliki alternatif mobilitas yang lebih efisien sekaligus menghasilkan emisi yang lebih rendah dibandingkan penggunaan kendaraan pribadi.
Selain mengembangkan kawasan berbasis TOD, Kemenhub juga terus meningkatkan layanan transportasi umum melalui penambahan jaringan serta elektrifikasi jalur kereta api. Langkah ini dinilai penting untuk menyediakan moda transportasi yang lebih efisien sekaligus rendah emisi.
Kendaraan listrik hingga efisiensi infrastruktur
Di sisi lain, pemerintah juga mempercepat pemanfaatan energi bersih melalui penggunaan kendaraan listrik dan bahan bakar alternatif. Upaya tersebut dilakukan sebagai bagian dari transisi untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil yang selama ini menjadi sumber utama emisi karbon di sektor transportasi.
Dekarbonisasi, lanjut Reza, tidak hanya menyasar kendaraan yang digunakan masyarakat, tetapi juga mencakup berbagai infrastruktur pendukung transportasi seperti stasiun, terminal, pelabuhan, dan bandar udara. Efisiensi energi di berbagai fasilitas tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam mendukung target pengurangan emisi nasional.
Seluruh strategi tersebut nantinya akan dituangkan dalam Peta Jalan Dekarbonisasi Sektor Transportasi yang saat ini hampir rampung disusun oleh Kementerian Perhubungan. Dokumen tersebut diharapkan menjadi panduan dalam mengarahkan transformasi sektor transportasi menuju sistem yang lebih rendah karbon.
Peran masyarakat dinilai tak kalah penting
Namun, keberhasilan dekarbonisasi tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah. Partisipasi masyarakat juga dinilai menjadi faktor penting dalam menekan emisi dari sektor transportasi.
Content creator Government Public Relations, Arif Ardiansyah Susilo, mengatakan penggunaan transportasi umum merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk berkontribusi mengurangi emisi karbon.
"Yang jelas setuju banget dengan adanya langkah kecil kita dalam menggunakan transportasi umum. Mungkin awalnya bisa dengan kesadaran, beralih dari transportasi pribadi ke transportasi umum, secara tidak sadar kita sudah membantu mengurangi emisi," katanya.
Meski demikian, ia menilai perubahan perilaku masyarakat perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas layanan transportasi publik. Menurut Arif, semakin luas jaringan dan semakin mudah akses transportasi umum, semakin besar pula peluang masyarakat meninggalkan kendaraan pribadi.
Ia mencontohkan pembangunan MRT Jakarta fase 2 yang akan menghubungkan Bundaran HI hingga Kota sebagai salah satu upaya memperluas akses transportasi publik.
"Harapannya transportasi umum ini bisa makin banyak rutenya. Dengan adanya penambahan rute, masyarakat yang sebelumnya menggunakan mobil atau motor bisa beralih menggunakan MRT hingga ke Jakarta Kota," ujarnya.