News

Konsep TOD: Rahasia di Balik Stasiun yang Penuh Sesak tapi Tetap Manusiawi

Konsep TOD: Rahasia di Balik Stasiun yang Penuh Sesak tapi Tetap Manusiawi
Ilustrasi Pengguna KRL Jalur Cikarang (commons.wikimedia.org/Christoph95)

Data yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta menunjukkan tren perilaku masyarakat kota hingga tahun 2026. Data ini bukan sekadar deretan angka, melainkan bukti kesadaran baru bahwa transportasi umum kini menjadi keharusan, bukan lagi sekadar pilihan.

Selama lima bulan pertama tahun 2026 (Januari hingga Mei), jumlah penumpang kereta api secara nasional mencapai angka mencengangkan: 234,77 juta orang. Ini adalah hasil nyata dari kepercayaan masyarakat yang terus meningkat terhadap moda transportasi publik berbasis rel.

Dari jumlah tersebut, kontribusi terbesar tentu datang dari KRL Jabodetabek. Sebanyak 147,5 juta penumpang tercatat menggunakan KRL pada periode Januari–Mei 2026. Ini membuktikan bahwa KRL telah menjadi tulang punggung mobilitas harian bagi jutaan pekerja, pelajar, dan keluarga di Jakarta serta daerah penyangganya.

Jika kita menengok ke belakang, jumlah penumpang KRL Jabodetabek meningkat 6,45 persen dari 328,1 juta orang pada tahun 2024 menjadi 349,3 juta orang pada tahun 2025. Angka ini menunjukkan bahwa KRL rata-rata digunakan oleh hampir 1 juta orang setiap hari.

Pada hari-hari tertentu, seperti peringatan Hari Bhayangkara, jumlah penumpang bahkan dapat melonjak hingga 1,2 juta dalam sehari. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri terkait kecepatan dan frekuensi operasional perjalanan.

Di luar KRL, moda transportasi lain juga menunjukkan pertumbuhan yang tak kalah mengesankan. MRT Jakarta, misalnya, pada Mei 2026 mencatatkan 3,86 juta penumpang. Angka ini tumbuh 5,03 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Lonjakan ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai merasakan kenyamanan dan ketepatan waktu MRT, terutama bagi mereka yang bepergian dari selatan menuju pusat Jakarta.

Sementara itu, LRT Jakarta juga mengalami tren positif dengan pertumbuhan tahunan 11,23 persen pada Mei 2026. Prospek ini semakin cerah mengingat rute Velodrome–Manggarai yang baru hampir rampung dan ditargetkan beroperasi penuh pada Agustus 2026. Dengan tambahan rute ini, diharapkan jumlah pengguna LRT akan meningkat secara signifikan.

Adapun Kereta Bandara dan Kereta Cepat Whoosh, meskipun volumenya tidak sebesar KRL, tetap mencatatkan tren impresif. Sepanjang Januari–Mei 2026, Kereta Bandara telah melayani 3,9 juta penumpang, sementara Whoosh mencatatkan 2,4 juta penumpang. Angka ini membuktikan bahwa masyarakat mulai melihat kereta cepat bukan lagi sebagai barang mewah, melainkan pilihan efisien untuk perjalanan antarkota dalam waktu singkat.

Lalu, apa yang membuat angka-angka ini terus menanjak? Mengutip pernyataan Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, peningkatan ini tidak terlepas dari upaya perusahaan dalam mendongkrak kapasitas layanan.

KAI mengoperasikan rata-rata 1.065 perjalanan KRL per hari pada tahun 2025 (naik 0,47 persen dibandingkan tahun sebelumnya). Frekuensi tertinggi berada di jalur Bogor dengan 392 perjalanan setiap hari, disusul rute Bekasi dan Rangkasbitung.

Selain itu, KAI juga memperbarui dan memperpanjang peron di beberapa stasiun, seperti Stasiun Bogor, untuk mengakomodasi rangkaian 12 kereta dalam satu perjalanan. Rangkaian ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas angkut hingga 30 persen dibandingkan rangkaian 8 kereta, sekaligus mendongkrak kenyamanan penumpang.

Dengan semua deretan data ini, satu hal menjadi sangat jelas: masyarakat sudah siap beralih ke transportasi publik. Kini, giliran pemerintah dan pengembang untuk menyediakan ekosistem yang mendukung. Di sinilah konsep Transit Oriented Development (TOD) memegang peranan krusial.

Melansir pemberitaan Kompas, TOD bukan sekadar membangun stasiun, melainkan menciptakan kawasan terpadu di sekitar stasiun yang menggabungkan hunian, perkantoran, dan ruang publik. Bukti nyatanya ada di Stasiun Tanjung Barat dan Pondok Cina. Setelah dikembangkan sebagai kawasan TOD, kedua stasiun ini mengalami lonjakan pengguna harian hingga lebih dari 100 persen.

Pendekatan TOD adalah strategi utama mewujudkan kota yang inklusif. Dengan membangun hunian vertikal terjangkau di sekitar stasiun—seperti yang sedang digarap BTN dan KAI di Manggarai—biaya transportasi pekerja yang selama ini menyedot 20 hingga 25 persen dari penghasilan bulanan bisa ditekan secara drastis.

Data mobilitas tahun 2026 merupakan sebuah peta jalan. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa kita sedang berada di jalur yang benar. Namun, perjalanan masih panjang.

Infrastruktur fisik saja tidak cukup; dibutuhkan perubahan budaya dan tata kelola yang berpihak pada kepentingan publik. Dengan terus mengintegrasikan data, kebijakan, dan tata ruang, kita bisa mewujudkan impian kota yang lebih manusiawi, di mana setiap orang bisa bergerak dengan mudah, terjangkau, dan berkelanjutan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda