News

Menemukan Makna Pulang di Les: Belajar dari Nyoman Nadiana dan Desa Sejahtera Astra

Menemukan Makna Pulang di Les: Belajar dari Nyoman Nadiana dan Desa Sejahtera Astra
Ladang garam yang ada di Desa Les. (Dok. Pribadi/Nyoman)

Biasanya...

Setelah kita lama meninggalkan kampung halaman, kita akan merasa... bukan hanya kampungnya yang berubah, tetapi juga cara kita memandangnya.

Saya merasakannya setelah hidup jauh dari Kalimantan Timur dan kini tinggal di Jawa. Jarak membuat saya belajar bahwa kampung halaman bukan sekadar tempat yang kita tinggalkan untuk mengejar kehidupan yang dianggap lebih baik. Kampung juga menyimpan sesuatu yang sering baru terasa nilainya setelah kita pergi.

Karena itu, ketika membaca kisah Nyoman Nadiana dari Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, saya seperti sedang membaca potongan cerita tentang banyak orang yang pernah pergi dari kampungnya.

Bedanya, Bli Nyoman memilih pulang.

Dan yang lebih menarik, ia tidak pulang hanya untuk menikmati masa tua di kampung halaman. Ia pulang membawa pengalaman, lalu perlahan mengubah cara orang melihat potensi desanya.

Di sinilah cerita Desa Les menjadi menarik. Sebab perubahan di desa ternyata tidak selalu dimulai dari gedung baru, jalan besar, atau proyek yang kelihatan megah. Kadang perubahan justru dimulai dari seseorang yang mau melihat kembali apa yang selama ini dianggap biasa.

Dari Perantauan, Nyoman Kembali Melihat Desa Les dengan Cara Berbeda

Image from tatcala.co
Image from tatcala.co

Desa Les berada di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali. Desa ini memiliki bentang alam yang mempertemukan pegunungan dan pesisir.

Air Terjun Yeh Mampeh menjadi salah satu daya tarik alamnya, sementara kehidupan masyarakat pesisir, perikanan, serta tradisi pembuatan garam menjadi bagian penting dari identitas desa.

Bagi orang luar, semua itu mungkin terlihat sebagai potensi wisata.

Tetapi bagi Nyoman Nadiana, potensi tersebut awalnya justru terlihat dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Setelah sebelumnya bekerja sebagai pemandu wisata di Bali Selatan, Nyoman memilih kembali ke Desa Les. Di kampung halaman itu, ia tidak langsung sibuk membuat destinasi wisata baru. Ia mengamati aktivitas warga. Mulai dari petani garam, pembuat gula juruh, pengolah minyak kelapa, perajin bambu, nelayan dan berbagai pelaku usaha lainnya.

Dari pengamatan itulah muncul sebuah visi tentang Desa Les yang sebenarnya sudah memiliki banyak hal untuk ditawarkan. Masalahnya, belum banyak orang yang mengetahuinya.

Nyoman kemudian membantu memperkenalkan produk UMKM Desa Les melalui jaringan yang ia miliki. Garam palungan, gula juruh, minyak kelapa dan produk lokal lainnya mulai diperkenalkan ke luar desa.

Dari sini, gagasan pariwisata berbasis masyarakat kemudian berkembang.

Wisatawan tidak sekadar datang untuk berfoto, tetapi diajak mengenal kehidupan warga melalui konsep Tour de Les. Mereka dapat melihat proses pembuatan garam tradisional, mengunjungi rumah produksi UMKM, mengenal kuliner lokal, menikmati kehidupan pesisir hingga berjalan menuju Air Terjun Yeh Mampeh.

Buat saya, di sinilah letak menariknya cerita Bli Nyoman.

Ia tidak membawa sesuatu dari luar untuk menggantikan identitas Desa Les. Ia justru membantu warga melihat bahwa apa yang selama ini mereka miliki ternyata memiliki nilai.

Desa Les Tidak Hanya tentang Terumbu Karang, Tapi Juga Menawarkan Garam

Garam di Desa Les, Doc. Bli Nyoman (tatkala.co)
Garam di Desa Les, Doc. Bli Nyoman (tatkala.co)

Salah satu warisan yang terus diperjuangkan Nyoman adalah tradisi pembuatan garam.

Garam Desa Les dibuat melalui proses yang khas. Air laut terlebih dahulu dibiarkan meresap ke tanah. Tanah kemudian dikerik dan dimasukkan ke dalam tinjung, wadah berbentuk kerucut dengan bahan penyaring alami. Air yang dihasilkan, atau nyah, kemudian dijemur hingga menjadi kristal garam.

Menariknya, tradisi itu tidak dipertahankan dengan cara membekukan masa lalu.

Petani garam kini menggunakan membran plastik pada tahap penjemuran untuk beradaptasi dengan cuaca yang semakin sulit diprediksi. Pengetahuan tradisional tetap dipertahankan, sementara teknologinya menyesuaikan keadaan.

Di titik ini saya melihat satu pelajaran penting: melestarikan desa bukan berarti menolak perubahan.

Yang perlu dipertahankan adalah pengetahuan, nilai, budaya dan hubungan masyarakat dengan alam. Sementara cara mengelolanya boleh berkembang.

Hal serupa terlihat di laut.

Beberapa tahun lalu, ekosistem terumbu karang di perairan Desa Les menghadapi kerusakan. Penggunaan bahan peledak untuk menangkap ikan dan sampah dari daratan ikut mengancam kehidupan bawah laut. Nyoman kemudian mengajak pemuda dan tokoh masyarakat untuk melihat laut sebagai bagian penting dari masa depan desa.

Bersama kelompok masyarakat, dilakukan upaya konservasi terumbu karang, termasuk penetapan zona konservasi, pemeliharaan bibit karang dan pengelolaan limbah melalui gerakan Les Grow.

Jadi, ketika wisatawan datang menikmati laut Desa Les, yang mereka lihat sebenarnya bukan hanya air biru dan pemandangan bawah laut.

Ada proses panjang untuk memastikan laut tersebut tetap hidup.

Lalu, Apa Hubungannya dengan Desa Sejahtera Astra?

Di sinilah cerita Nyoman menjadi lebih besar daripada cerita seorang individu.

Desa Les resmi menjadi bagian dari program Desa Sejahtera Astra (DSA) pada 2024. Program ini kemudian memperkuat berbagai inisiatif masyarakat melalui empat bidang utama seperti bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan dan kewirausahaan.

Dengan kata lain, DSA bukan sekadar hadir sebagai pendukung kegiatan wisata. Tapi juga membangun ekosistem desa agar potensi alam dan budaya dapat berjalan beriringan dengan kualitas hidup masyarakat.

1. Kesehatan: Desa Wisata Harus Dimulai dari Warga yang Sehat
Pariwisata tidak akan banyak berarti jika masyarakat yang menjadi tuan rumah justru tidak mendapatkan manfaat dari perkembangan desanya.

Karena itu, bidang kesehatan menjadi salah satu bagian dari pengembangan Desa Les. Program DSA di desa ini turut memperkuat Posyandu, edukasi gizi keluarga serta perhatian terhadap kesehatan ibu dan anak.

Hubungannya dengan gerakan Nyoman sebenarnya cukup sederhana.

Ketika desa ingin dikenal karena alamnya, kebersihan lingkungan dan kualitas hidup masyarakat tidak bisa dipisahkan dari citra desa itu sendiri.

Laut yang bersih, lingkungan yang terkelola, sanitasi yang baik dan masyarakat yang sehat bukan sekadar pendukung pariwisata. Semua itu adalah fondasi kehidupan desa.

2. Pendidikan: Supaya Anak Muda Tidak Hanya Menjadi Penonton
Salah satu tantangan desa wisata adalah memastikan generasi mudanya tidak hanya melihat pariwisata sebagai peluang untuk pergi meninggalkan desa.

Di Desa Les, pendidikan diarahkan agar anak muda justru memiliki kemampuan untuk mengambil peran.

Pelatihan bahasa Inggris diberikan karena semakin banyak wisatawan mancanegara yang datang. Masyarakat juga mendapatkan pelatihan sebagai pemandu wisata.

Anak muda Desa Les tidak hanya belajar bahasa untuk bekerja. Mereka belajar menjelaskan desanya sendiri kepada orang lain: tentang budaya, alam, tradisi, kehidupan masyarakat dan kekayaan pesisir.

Pengetahuan yang sebelumnya hanya hidup dari cerita orang tua kepada anak, perlahan mendapat ruang baru melalui pariwisata.

3. Lingkungan: Menjaga Alam Berarti Menjaga Masa Depan Ekonomi
Kalau ada satu bidang yang paling kuat melekat dengan perjuangan Nyoman, mungkin inilah jawabannya.

Konservasi terumbu karang dan pengelolaan sampah menjadi bagian penting dalam pengembangan Desa Les. Melalui gerakan Les Grow, sampah organik juga diolah menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan kembali.

Konservasi ini bukan sekadar urusan lingkungan.

Terumbu karang adalah rumah bagi kehidupan laut. Ketika ekosistem laut membaik, ikan kembali memiliki habitat. Ketika laut terjaga, nelayan memiliki peluang mempertahankan sumber penghidupannya. Ketika laut tetap indah, pariwisata juga memiliki alasan untuk terus datang.

Jadi, menjaga karang pada akhirnya juga berarti menjaga ekonomi masyarakat.

4. Kewirausahaan: Mengubah Potensi Menjadi Pendapatan
Inilah bidang yang sejak awal sebenarnya sudah disentuh Nyoman ketika ia mulai mempromosikan produk warga.

Desa Les memiliki banyak produk dan aktivitas ekonomi yang lahir dari kehidupan masyarakat sendiri. Garam tradisional menjadi salah satu yang paling menonjol.

Kehadiran DSA kemudian membantu memperkuat sisi kewirausahaan melalui akses pemasaran dan pengembangan produk. Astra bersama BUMDes Giri Segara turut membantu membuka akses pasar yang lebih luas. Bahkan terdapat kemitraan dengan Pemerintah Provinsi Bali yang membuka peluang penjualan garam palungan sekitar satu ton per bulan. Sehingga, sebuah produk tradisional tidak hanya dipandang sebagai oleh-oleh semata, tapi bisa menjadi sumber penghasilan.

Dan ketika garam tradisional memiliki nilai ekonomi yang lebih baik, anak muda memiliki alasan untuk tidak buru-buru meninggalkan pekerjaan yang diwariskan leluhurnya.

Desa Les Mengajarkan Bahwa Pembangunan Tidak Harus Menghapus Identitas

Desa Sejahtera Astra, Desa Les doc: tatkala.co
Desa Sejahtera Astra, Desa Les doc: tatkala.co

Menurut data mengenai Desa Les, lebih dari 800 warga telah bergabung dalam berbagai program DSA dan pendapatan masyarakat disebut meningkat sekitar 25 persen. Desa Les juga meraih Juara Umum Anugerah Desa Wisata Indonesia 2024.

Angka dan penghargaan tersebut tentu penting. Tetapi bagi saya, bagian paling menarik justru ada di baliknya. Desa Les tidak berkembang dengan meninggalkan identitasnya.

Petani garam tetap menjadi petani garam. Nelayan tetap menjadi nelayan. Tradisi tetap dipertahankan. Laut tetap dijaga. Anak muda diberi keterampilan. Produk lokal diberi akses pasar. Pariwisata kemudian menjadi jembatan yang mempertemukan semuanya.

Itulah yang membuat kisah Nyoman terasa dekat dengan siapa pun yang pernah meninggalkan kampung halaman.

Saya membayangkan sambil duduk di teras rumah tua yang sudah nyaris 30 tahun saya tinggalkan, memandangi halaman yang mungkin dulu terasa biasa saja.

Barangkali kita pernah berpikir bahwa desa harus berubah menjadi seperti kota agar disebut maju. Padahal Desa Les menunjukkan hal yang berbeda.

Desa bisa maju justru ketika ia tahu apa yang harus dipertahankan dan apa yang harus dikembangkan.

Nyoman Nadiana menjadi salah satu orang yang membuka cara pandang itu. Sementara Desa Sejahtera Astra membantu memperkuat ekosistemnya melalui bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan dan kewirausahaan yang saling terhubung.

Astra sendiri menyebut empat bidang tersebut sebagai bagian dari kontribusi sosialnya, yang dijalankan melalui berbagai program pemberdayaan desa di Indonesia.

Pulang kampung ternyata tidak selalu berarti kembali ke tempat yang sama. Kadang kita pulang untuk melihat kampung dengan mata yang berbeda.

Saya bukan Bli Nyoman. Saya bukan tokoh penggerak desa. Saya juga tidak punya jawaban besar tentang bagaimana sebuah desa harus dibangun.

Tetapi kisah Desa Les membuat saya berpikir ulang tentang arti pulang. Mungkin pulang bukan soal membawa uang banyak. Bukan pula tentang datang sebagai pahlawan.

Pulang bisa sesederhana mau melihat kembali apa yang selama ini kita abaikan. Tanah yang kita anggap biasa. Laut yang kita kira akan selalu ada.

Tradisi yang kita pikir sudah ketinggalan zaman. Atau tetangga yang selama ini kita anggap hanya menjalani pekerjaan biasa, padahal dari tangannya mungkin sedang tumbuh masa depan desa.

Bagi saya pribadi, kisah Bli Nyoman dan Desa Les terasa seperti sebuah percakapan panjang di warung kopi: sederhana, tetapi membuat kita betah duduk lebih lama.

Sebab pada akhirnya, pembangunan desa bukan hanya tentang membuat desa terlihat maju. Tapi lebih dari itu, pembangunan adalah tentang membuat warga merasa bahwa tinggal di desanya sendiri juga punya masa depan.

Dan mungkin, itulah makna sebenarnya dari #DesaSejahteraAstra yang sebenarnya, yaitu bukan membuat desa menjadi seperti tempat lain, melainkan membantu masyarakat menemukan kekuatan yang sudah lama tumbuh di tanah mereka sendiri.

Saya berharap #YoursayAstra membuat lebih banyak cerita-cerita seperti Desa Les punya ruang untuk didengar lebih luas. Karena setiap desa punya cerita. Dan kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang mau pulang untuk menceritakannya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda