News
Curah Hujan Tinggi tapi Kekeringan, Ahli UGM Ungkap Masalah Air Jawa Barat
Jawa Barat dikenal sebagai wilayah dengan curah hujan relatif tinggi dibandingkan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun, kondisi tersebut tidak membuat wilayah ini terbebas dari kekeringan, terutama ketika fenomena El Nino memperkuat kondisi kering.
Kekeringan yang terjadi pun dinilai tidak bisa lagi dipandang sekadar sebagai dampak musim kemarau. Perubahan iklim yang membuat kondisi cuaca semakin ekstrem membuat pengelolaan sumber daya air dan daerah aliran sungai (DAS) perlu dipersiapkan sejak jauh hari.
Ahli Hidrologi dan Pengelolaan DAS Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Ir. Hatma Suryatmojo, S.Hut., M.Si., IPU, ASEAN Eng., mengatakan krisis air dapat terjadi ketika kebutuhan air lebih besar dibandingkan ketersediaannya.
"Kalau bicara mengenai krisis air itu ada dua hal kemungkinan. Yang pertama karena kebutuhan itu lebih tinggi daripada ketersediaan. Sehingga secara neraca air, kebutuhan untuk akses air lebih besar daripada ketersediaan air itu sendiri," ujar Hatma, seperti dikutip dari laman UGM, Jumat (25/9).
![Warga menggembala ternak di persawahan yang kering terdampak musim kemarau di Desa Wening Galih, Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (28/8/2026). [ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/bar]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/08/28/84180-puncak-musim-kemarau-di-jawa-barat-sawah-kekeringan-ilustrasi-kekeringan-kemarau.jpg)
Menurutnya, persoalan tersebut juga berkaitan dengan kondisi DAS. Jawa Barat yang semestinya memiliki curah hujan tinggi tetap dapat mengalami kekeringan apabila sistem DAS tidak mampu menyimpan air dengan baik.
"Berarti ada dua kemungkinan besar. Satu, memang kebutuhannya semakin lama semakin tinggi. Sehingga ketika ketersedian air itu terbatas, muncul krisis air, atau memang ada kerusakan sistem DAS," katanya.
Peningkatan jumlah penduduk menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong kenaikan kebutuhan air. Di saat yang sama, perubahan penggunaan lahan juga dapat mengurangi kemampuan DAS dalam menyerap dan menyimpan air.
Kawasan hulu yang semestinya berfungsi sebagai daerah lindung dan resapan dapat terdesak oleh pembangunan permukiman maupun industri.
"Ketika fungsi resapan hilang maka tidak ada air hujan yang dapat ditahan dan ditampung dalam sistem DAS," jelas Hatma.
Akibatnya, air hujan yang seharusnya tersimpan sebagai cadangan untuk menghadapi musim kemarau justru lebih banyak mengalir sebagai air permukaan menuju sungai.
Perubahan Iklim Membuat Kekeringan Perlu Diantisipasi
Menurut Hatma, kondisi tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan iklim. Fenomena seperti El Nino dan La Nina perlu dipahami sebagai bagian dari perubahan pola iklim yang dampaknya semakin nyata.
“Saya memandang bahwa dampak perubahan iklim ini sudah makin nyata dan kita sudah mengalaminya. Kita harus memahami ini bukan sebagai sebuah anomali, tetapi memang ini adalah sebuah kenormalan baru dari iklim di dunia termasuk di Indonesia,” tuturnya.
Karena itu, penanganan kekeringan tidak cukup dilakukan ketika masyarakat sudah kesulitan mendapatkan air. Pengelolaan DAS perlu diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan air.
“Intinya mengelola DAS itu mengelola neraca air. Air itu kemudian akan dipergunakan untuk produktivitas, mulai dari kegiatan pertanian, peternakan, perikanan, industri sampai kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Untuk jangka pendek, distribusi air bersih menggunakan mobil tangki tetap dibutuhkan. Langkah tersebut diperlukan karena air merupakan kebutuhan dasar yang tidak dapat ditunda.
“Dalam jangka pendek itu solusi yang paling memungkinkan. Karena kebutuhan air itu mutlak. Penanganan jangka pendek itu dengan cara suplai air,” kata Hatma.
Namun, bantuan air bersih hanya menyelesaikan persoalan dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, kemampuan DAS menyimpan air perlu dipulihkan, terutama dengan mengembalikan fungsi kawasan resapan.
“Kalau ada fungsi resapan ya harus dipulihkan fungsi resapannya,” tegasnya.
Kekeringan Berdampak ke Banyak Sektor
Kekurangan air tidak hanya berdampak pada kebutuhan rumah tangga. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi pertanian, ketahanan pangan, kesehatan, ekonomi, hingga pendidikan.
Karena itu, pengelolaan DAS membutuhkan keterlibatan berbagai pihak yang memanfaatkan sumber daya air.
“Semua pihak harus aware terkait dengan bagaimana kita memastikan bahwa sistem DAS itu bekerja dengan baik. Tidak hanya orang-orang yang ditugasi mengelola DAS, tetapi semua orang harus aware dengan DAS,” tuturnya.
Hatma juga mendorong masyarakat menggunakan air secara lebih bijak. Penghematan air dapat menjadi salah satu langkah sederhana untuk membantu menjaga ketersediaan air ketika kekeringan terjadi.
“Karena air itu sifatnya tidak tak terbatas, maka mari kita lebih bijak dalam menggunakan air," pungkasnya.
Penulis: Chairunisa