News
Bli Nyoman dan Desa Les: Ketika sebuah Desa Tumbuh tanpa Kehilangan Akarnya
Dewasa ini kemajuan selalu indentik menuntut adanya perubahan. Perubahan yang kadang ironis tanpa sebuah pilihan, mengubah dan meninggalkan nilai luhur yang lama dianyam. Lalu adakah tempat yang membuat kita sadar bahwa kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu?!
Desa Les, di kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali, adalah salah satunya.
Di sana, laut masih menjadi bagian dari sendi kehidupan. Garam masih dibuat dengan cara yang diwariskan lintas generasi. Anak muda belajar bahasa Inggris untuk menyambut wisatawan. Sampah dipilah, daun diolah dan terumbu karang ditanam kembali.
Sepintas, semua seperti berjalan melalui prosesnya masing-masing. Namun jika diperhatikan lebih lama, ada satu hal yang menghubungkan semuanya: keinginan masyarakat untuk tumbuh tanpa kehilangan apa yang selama ini membuat mereka tetap menjadi masyarakat Desa Les.
Di tengah proses itulah, ada sosok penggerak lokal, Bli Nyoman. Bukan tentang seberapa besar seseorang mampu mengubah sebuah desa seorang diri. Barangkali pertanyaan yang lebih penting adalah: seberapa banyak orang yang bisa ia ajak percaya bahwa perubahan memang layak diperjuangkan bersama?
Sebab perubahan yang meaningful hampir tidak pernah lahir dari satu tangan. Perubahan tumbuh dari banyak tangan yang mau bekerja, banyak kepala yang mau berpikir, dan banyak hati yang masih memiliki sense of belonging terhadap tempat yang mereka sebut rumah.
Les, sebuah Desa Tidak Hanya tentang Angka
Kita sering membaca pembangunan melalui angka. Pendapatan naik 25 persen. Lebih dari 800 masyarakat terjangkau. Puluhan tenaga kerja baru terserap. Produk lokal mendapatkan penyerapan pasar hingga 100 persen. Ya, memang semua itu penting.
Tetapi kehidupan manusia jarang sesederhana statistik. Nyatanya di balik satu angka peningkatan pendapatan, ada seseorang yang mungkin akhirnya memiliki ruang lebih besar untuk membiayai pendidikan anaknya.
Di balik puluhan tenaga kerja baru, ada orang-orang yang mungkin tidak lagi harus pergi terlalu jauh untuk mencari kesempatan. Dan di balik sebuah produk lokal yang berhasil menembus pasar, ada tradisi yang mendapatkan alasan baru untuk tetap hidup.
Makanya sejak mendapatkan pendampingan melalui Desa Sejahtera Astra pada 2024, Desa Les dikembangkan dengan pendekatan yang menyatukan ekonomi, budaya, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Di titik ini, program bukan lagi sekadar tentang apa yang diberikan kepada desa. Tetapi apa yang bisa dilakukan masyarakat dengan potensi yang sudah mereka miliki saat ini.
Itulah empowerment: bukan menggantikan kemampuan masyarakat, tetapi membuka ruang agar kemampuan itu terus tumbuh dan berkembang. Agaknya di situlah peran local hero menjadi penting.
Bli Nyoman dan Seni Menggerakkan Orang
Ada perbedaan antara menjadi orang yang berada di depan dan menjadi orang yang membuat orang lain mau berjalan. Yang pertama mungkin terlihat. Yang kedua sering kali tidak.
Bli Nyoman hadir dalam cerita Desa Les sebagai salah satu penggerak lokal yang terlibat dalam perjalanan pemberdayaan masyarakat. Perannya menjadi bagian dari ecosystem of change yang mempertemukan masyarakat, potensi lokal, dan dukungan Desa Sejahtera Astra.
Nyatanya sebuah program akan sulit meninggalkan jejak apabila masyarakat hanya ditempatkan sebagai penerima. Perubahan membutuhkan orang-orang yang memahami bahasa kampungnya sendiri. Mereka tahu kapan harus berbicara, kapan harus mendengar, dan kapan harus membiarkan masyarakat menemukan jalannya sendiri.
Barangkali di situlah makna seorang local hero. Langkah-langkah kecil, ketika dilakukan bersama, bisa menciptakan gelombang perubahan yang jauh lebih besar.
Dari Garam, Ada Cerita tentang Harga Diri
Salah satu kekuatan Desa Les adalah garam palungan tradisional. Garam tersebut dibuat menggunakan metode tradisional dan alami. Pada musim kemarau, produksinya dapat mencapai sekitar dua hingga tiga ton dalam satu kali panen.
Namun yang menarik bukan hanya jumlahnya. Ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar hasil produksi. Sebuah tradisi yang masih bertahan berarti ada pengetahuan yang belum putus. Ada tangan-tangan yang masih mengingat bagaimana leluhur mereka bekerja. Sebuah desa yang masih memiliki sesuatu untuk diceritakan kepada dunia.
Melalui dukungan terhadap produksi dan pemasaran, garam Desa Les kini dapat menjangkau pasar yang lebih luas. BUMDes Giri Segara ikut memperkuat pemasaran, sementara permintaan dari Pemerintah Provinsi Bali mencapai sekitar satu ton per bulan atau sekitar Rp25 juta per bulan.
Di sini kita bisa melihat bahwa kewirausahaan tidak harus membuat sebuah desa menjadi sesuatu yang lain. Justru sebaliknya. Kewirausahaan bisa menjadi cara agar sesuatu yang sudah dimiliki desa mendapatkan penghargaan yang lebih layak. Bukan mengubah identitas desa, melainkan memberinya panggung yang lebih luas.
Desa Sejahtera Bukan Hanya tentang Uang
Ada hal yang lebih sulit dihitung daripada pendapatan: kualitas hidup. Karena itu, empat bidang dalam Desa Sejahtera Astra—kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan—seperti empat kaki sebuah meja. Satu saja rapuh, keseimbangannya ikut terganggu.
Di bidang kesehatan, masyarakat dan kader desa didukung melalui kegiatan Posyandu, edukasi kehamilan, serta pemberian makanan tambahan bagi anak stunting dan gizi buruk. Di bidang pendidikan, generasi muda mendapatkan kelas bahasa Inggris dan pelatihan pariwisata. Mereka dipersiapkan untuk menjadi local guide yang mampu menyambut wisatawan sekaligus memperkenalkan desanya melalui cara mereka sendiri.
Ada sesuatu yang menarik di sana. Anak muda tidak hanya diajarkan untuk pergi mencari masa depan. Mereka juga diajak melihat bahwa masa depan mungkin sedang tumbuh di tempat mereka berdiri. Itulah masa depan yang sedang dicari. Sebuah masa depan yang cukup menjanjikan untuk membuat generasi muda tidak merasa harus meninggalkan rumah demi menemukan kehidupan yang lebih baik.
Menjaga Laut sebelum Terlambat
Lalu ada lingkungan. Ini bagian yang sering terdengar klise sampai kita melihat sendiri apa yang dipertaruhkan. Bagi masyarakat pesisir, laut bukan dekorasi. Laut adalah halaman depan.
Karena itu, pengelolaan sampah melalui program Les Grow, pengolahan sampah daun menjadi kompos, serta konservasi dan transplantasi terumbu karang menjadi bagian dari perjalanan Desa Les.
Ada pelajaran sederhana di sana: kita sering baru menghargai sesuatu setelah menyadari bahwa ia bisa hilang. Terumbu karang tidak bisa tumbuh kembali hanya dengan slogan. Laut tidak bisa bersih hanya karena satu orang membuang sampah pada tempatnya.
Desa membutuhkan kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang, oleh banyak orang, bahkan ketika tidak ada kamera yang merekam. That is where real sustainability begins. Bukan pada slogan yang terdengar indah, tetapi pada kebiasaan sederhana yang terus dilakukan ketika tidak ada yang sedang melihat.
Desa Les memiliki wisata alam dan budaya, pesisir, aktivitas nelayan tradisional, homestay berbasis masyarakat, hingga produksi garam yang menjadi identitas lokal. Potensi-potensi tersebut dikembangkan bersama masyarakat.
Bahkan, Desa Les meraih Juara Umum ADWI 2024. Tetapi penghargaan, pada akhirnya, hanyalah satu titik dalam perjalanan. Dan jauh lebih penting adalah apa yang terjadi setelah tepuk tangan selesai.
Apakah masyarakat masih memiliki alasan untuk menjaga laut? Apakah anak muda masih melihat kampung halamannya sebagai tempat yang layak untuk membangun masa depan? Apakah garam tradisional masih memiliki tempat di tengah perubahan zaman?
Dan apakah desa masih menjadi rumah, bukan sekadar destinasi? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membuat Desa Les terasa lebih dari sekadar cerita tentang keberhasilan sebuah program. Ia menjadi cerita tentang identitas. Tentang kemajuan yang tetap memiliki akar.
Bli Nyoman dan Orang-Orang yang Memilih untuk Tetap Peduli
Mungkin kita terlalu sering mencari pahlawan dalam bentuk yang besar. Padahal, perubahan sosial hampir selalu dibangun oleh orang-orang yang namanya tidak masuk berita setiap hari.
Mereka hadir dalam rapat desa. Mendampingi warga. Membuka percakapan. Mengajak anak muda. Mencari pasar. Memikirkan lingkungan. Dan terus mengulang hal yang sama ketika hasilnya belum terlihat. Bli Nyoman menjadi bagian dari wajah itu di Desa Les.
Sementara Desa Sejahtera Astra memberikan ruang kolaborasi agar potensi masyarakat dapat dikembangkan melalui empat bidang: kesehatan, pendidikan, lingkungan, dan kewirausahaan. Pendekatan ini memang dirancang dengan melibatkan local champion sebagai penggerak perubahan di desa.
Pada akhirnya, mungkin desa yang sejahtera bukanlah desa yang paling cepat berubah. Melainkan desa yang tahu apa yang boleh berubah dan apa yang harus tetap dijaga. Desa Les sedang belajar tentang itu.
Semuanya saling terhubung. Orang-orang yang memilih untuk peduli dan percaya bahwa kampung halaman tidak harus ditinggalkan untuk menjadi lebih baik. Mungkin itulah makna paling sederhana dari sebuah desa yang sejahtera: ketika kemajuan datang, tetapi akar tidak ikut tercabut.