News
Menelisik Garam Palungan Desa Les: Saat Warisan Leluhur Bertahan di Tengah Modernisasi
Saat mengunjungi sebuah pulau, kita pasti mencari tahu apa yang menarik dari pulau tersebut. Mengapa harus dijadikan destinasi wisata, betul? Meski saya lahir dari keturunan Bali asli, yakni Ibu saya berasal dari pulau Dewata. Tetapi saya belum sepenuhnya berkunjung, ke semua destinasi yang ada di sana.
Desa Les, yang ada di kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng di Provinsi Bali termasuk salah satu target yang ingin saya datangi. Saya penasaran dengan Garam Palungan, di mana garam tersebut menjadi garam dari warisan leluhur yang terus diwariskan.
Tidak hanya itu di Desa Les ada air terjun Yeh Mampeh, wisata bawah laut dengan terumbu karang yang dijaga, mata air Yeh Anakan sebagai tempat suci untuk tradisi melukat, dan juga Dapur Bali Mula yang menyediakan masakan tradisional autentik. Sungguh lengkap di Desa Les ini, tidak heran kalau banyak wisatawan juga yang ingin menginjakkan kaki di sana.
Mengenal Nyoman Nadiana, Local Heroes di balik Kebangkitan Garam Tradisional
Siapa sangka denyut nadi kebangkitan ekonomi Desa Les didalangi oleh satu sosok penggerak utama adalah Nyoman Nadiana. Warisan yang hampir punah tersebut, yakni garam palungan kembali bangkit di selamatkan oleh beliau bahkan sudah menembus pasar modern.
Nyoman Nadiana tidak hanya sosok penggerak kebangkitan ekonomi tapi yang juga Ketua Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata), tapi sekaligus local champion di program Desa Sejahtera Astra (DSA).
Di desa Les, garam bukan sekadar dijemur lantas selesai. Banyak proses yang dilakukan hingga bisa dijual di pasaran.
Garam Desa Les masih menggunakan cara tradisional warisan leluhur
Umumnya yang kita tahu garam itu air laut yang dijemur, hehehe ... ternyata di desa Les pembuatan garam tidak semudah itu. Garam desa Les merupakan warisan leluhur, yang sudah menghidupi sampai empat generasi.
Nyoman Nadiana yang biasa disapa Bli Nyoman, mengungkapkan bahwa garam di desa Les lebih rumit dan mengandalkan kolaborasi murni dengan alam.
Jika digambarkan prosesnya berawal dari menyiramkan air laut ke petak-petak tanah khusus, agar kandungan garam dan mineralnya mengendap secara alami. Jika sudah mengendap barulah dikerik dan dimasukkan ke dalam wadah, yang berbentuk kerucut disebut dengan tinjung.
Tinjung ini dibuat dari anyaman bambu dan dilapisi daun lontar, kerikil serta pasir sebagai penyaring alami fungsinya. Tetesan dari cairan pekat dari tinjung, inilah yang disebut "nyah", sebagai biang garam.
Nyah lantas dijemur dalam palungan, adalah wadah tradisional dari batang kelapa yang dibelah. Lantas mengkristal menjadi garam yang siap dipanen. Cara kerja tersebut itulah yang kemudian menjadi cikal bakal nama garam Palungan, yang melekat dengan desa ini.
"Proses produksi sangat mengandalkan cahaya matahari," ucap Nyoman Nadiana.
Fakta di lapangan memang demikian proses tradisional dari pembuatan garam palungan, mengandalkan cahaya matahari. Tetapi makin ke sini, cuaca yang tidak bisa diprediksi membuat bli Nyoman memutar otak. Kearifan lokal ini mau tidak mau harus terus beradaptasi, seiring dengan permintaan yang makin banyak.
Penggunaan palungan mulai beradaptasi dengan menggunakan membran plastik. Peralihan ini bukan semata meninggalkan cara tradisional, tidak hanya saja menjadi strategi demi bertahan hidup para petani garam. Karena jika cuaca tiba-tiba hujan, menggunakan membran plastik membuat garam bisa diselamatkan dengan cepat, karena langsung bisa lipat serta dipindahkan. Namun jika tetap menggunakan palungan, tidak bisa diselamatkan.
Tetapi dengan adanya membran plastik tidak lantas meninggalkan cara tradisional. Karena tanah juga masih digunakan, tinjung juga menjadi bagian dari prosesnya, menghasilkan biang garam juga melalui proses tradisional.
Proses pembuatan garam juga menjadi ajang atraksi, yang bisa dinikmati oleh wisatawan yang datang dan ingin melihat bagaimana proses pembuatan garam palungan yang terkenal di seluruh penjuru tersebut.
Sinergi yang Berbuah Prestasi dan Peran ASTRA di dalamnya
Yang terjadi selama bertahun-tahun di desa Les ini, permasalahan utama bukan dari cara berproduksi malah bagaimana cara memasarkan yang tepat. Peran Bli Nyoman dan intervensi PR Astra International Tbk (Astra) ada di dalamnya.
Ya, melalui program DSA (Desa Sejahtera Astra) di tahun 2024, dengan membawa empat pilar utama pengembangan, lingkungan, pendidikan, kesehatan, dan kewirausahaan desa Les berhasil memasarkan kan jauh lebih baik dari sebelumnya. Dari sektor kewirausahaan yang berkolaborasi dengan BUMDES (Badan Usaha Milik Desa) dan Bli Nyoman sebagai penggeraknya inilah garam Palungan berhasil menjadi wajah garam yang baru.
Beberapa dukungan yang dilakukan astra dalam sektor kewirausahaan pembuatan garam di desa Les ini adalah, bantuan infrastruktur dan alat seperti injeksi dana, traktor mini, mesin pengupas kelapa, pengadaan mesin pengering, sampai dengan kendaraan roda tiga yang dapat mengangkut sampah warga.
Kerja keras dari Bli Nyoman dan warga diganjar dengan kesuksesan predikat Juara Umum Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) di tahun 2024 dari Kementerian Pariwisata. Yang di mana kemenangan ini banyak memicu wisatawan lokal dan mancanegara datang, baik itu melihat proses pembuatan garam secara tradisional maupun juga wisata kuliner yang mana tanpa garam kuliner tidak akan menjadi seenak itu.
Sekalipun modernisasi datang, ternyata tidak lantas membunuh tradisi? Dibuktikan dari sebutir kristal garam dari desa Les ini. Warisan leluhur tidak hanya membuat seseorang bisa bertahan hidup, namun juga mampu menembus batas yang tidak pernah disadari oleh siapapun. Semuanya berbuah dari keseimbangan yang dilakukan oleh semua penjuru, oleh manusia itu sendiri dan alam yang turut membantu.
Demikianlah #DesaSejahteraAstra sebenarnya, bukan membuat siapa dan tempat mana menjadi yang bukan dirinya, hanya saja membantu masyarakat menemukan potensi dan kekuatan yang ada dalam dirinya yang butuh jembatan sebagai pendobraknya.