News

Lebih dari Konflik Istana, The King's Warden Soroti Mirisnya Pendidikan Era Joseon

Lebih dari Konflik Istana, The King's Warden Soroti Mirisnya Pendidikan Era Joseon
Cuplikan Trailer The King's Warden (Youtube/Cinepolis Indonesia)

The King's Warden tak hanya membawa penonton kembali ke masa Dinasti Joseon dan kisah tragis Raja Danjong. Di balik konflik istana, film ini juga memperlihatkan kehidupan masyarakat biasa yang harus berhadapan dengan kemiskinan dan keterbatasan akses terhadap pendidikan, terutama di Desa Gwangcheon, Yeongwol, tempat di mana Raja Danjong diasingkan.

Bagi mereka, pendidikan bukan hanya bisa membaca dan menulis. Eom Heung-do menganggap, pendidikan bisa jadi harapan baru agar ia dan warga desa dapat hidup dengan lebih baik. Lalu, bagaimana film The King's Warden menggambarkan situasi ini?

Pendidikan Belum Merata untuk Rakyat Joseon

Cuplikan The King's Warden (Youtube/)
Cuplikan The King's Warden (Youtube/)

Tidak semua rakyat Joseon yang hidup di masa itu bisa mengenyam bangku pendidikan. Kesempatan belajar jadi sesuatu yang mewah yang hanya bisa diakses secara terbatas oleh kaum atas. Jarang sekali rakyat kecil Joseon yang bisa membaca dan menulis. Karena itu, banyak rakyat miskin Joseon yang kesulitan untuk mengubah nasibnya.

Bahkan, Eom Heung-do dan warga desa Gwangcheon masih banyak yang berburu rusa untuk konsumsi sehari-hari yang dianggap kuno oleh desa-desa sekitarnya.

Eom Heung-do Melihat Pendidikan sebagai Jalan Keluar Nasibnya

Cuplikan The King's Warden (Youtube/ SHOWBOX)
Cuplikan The King's Warden (Youtube/ SHOWBOX)

Saat mendengar akan ada pejabat yang diasingkan, Eom Heung-do, kepala desa Gwangcheon di Yeongwol, dengan senang hati mengajukan desanya sebagai destinasi. Ini berawal dari cerita yang ia dapat dari desa tetangga yang menjadi tempat pengasingan, Desa Noru. Di sana ada Menteri Kehakiman yang diasingkan. Ia mengajari para warga membaca hingga salah satunya bisa lulus ujian kenegaraan.

Mendengar cerita ini, Eom Heung-do seperti melihat secercah harapan. Kondisi Desa Noru yang sebelumnya tak jauh berbeda dengan Gwangcheon bisa berubah drastis setelah terjamah tulisan. Ia yang akrab dengan warganya mendorong Taesan dan Makdong, anak muda berpotensi di Desa Gwangcheon, untuk giat belajar saat pejabat negara datang. 

Ujian Kenegaraan yang Jadi Harapan Eom Heung-do untuk Taesan

Cuplikan The King's Warden (Youtube/ SHOWBOX)
Cuplikan The King's Warden (Youtube/ SHOWBOX)

Meski pendidikan masih terbatas, masyarakat Joseon sebenarnya memiliki satu jalur yang memungkinkan seseorang dari latar belakang tertentu untuk memperbaiki kehidupannya, yaitu gwageo, ujian kenegaraan untuk memilih pejabat pemerintahan. Secara prinsip, ujian ini memberikan kesempatan bagi laki-laki dari berbagai kalangan untuk masuk ke birokrasi berdasarkan kemampuan mereka, bukan semata-mata karena keturunan.

Eom Heung-do melihat potensi yang bagus pada putranya, Taesan, dan menyuruhnya untuk belajar mempersiapkan ujian tersebut. Meskipun awalnya menolak, Eom Heung-do tetap memberinya semangat untuk terus belajar. Ia berharap pendidikan bisa menjadi jalan bagi Taesan untuk memiliki kehidupan yang lebih baik daripada dirinya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda