News

Dari Masjid Ke Masjid, Menyusuri Jejak Sejarah di Sudut Jakarta

Dari Masjid Ke Masjid, Menyusuri Jejak Sejarah di Sudut Jakarta
Masjid Jami Baitul Mughni di kawasan Setiabudi, Kuningan, Jakarta Selatan. (dok. Dari Masjid Ke Masjid/Pramudya)

Bagi kebanyakan orang, masjid adalah tempat untuk beribadah. Namun, bagi Pramudya, setiap masjid menyimpan cerita tentang sejarah, budaya, dan perjalanan sebuah kota.

Ketertarikannya pada cerita-cerita di balik masjid itu kemudian ia tuangkan melalui akun media sosial bernama Dari Masjid Ke Masjid. Melalui akun tersebut, Pram mengajak orang-orang melihat masjid dari sudut pandang yang lebih luas, bukan sekadar bangunan tempat ibadah, melainkan juga bagian dari jejak sejarah yang membentuk wajah Jakarta.

Berawal dari Sebuah Masjid Tua

Pendiri akun Dari Masjid Ke Masjid, Pramudya. (dok. Pramudya)
Pendiri akun Dari Masjid Ke Masjid, Pramudya. (dok. Pramudya)

Ide tersebut sebenarnya berawal dari pengalaman sederhana pada Ramadan 2018.

Saat itu, ia mengikuti kegiatan walking tour bersama sebuah komunitas. Salah satu tujuan perjalanan tersebut adalah sebuah masjid tua di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Pram mengaku kerap melewati masjid tersebut karena bekerja di sekitar lokasi. Namun, ia tidak mengetahui betapa besar pengaruh masjid itu dalam perjalanan sejarah Jakarta.

Pengalaman itulah yang membuka sudut pandang baru baginya. Ia menyadari bahwa sejarah Jakarta tidak hanya berkaitan dengan tempat-tempat besar, seperti Kota Tua, Monas, atau bangunan ikonik lainnya.

"Ternyata ada sisi lain yang membentuk Jakarta dan itu hadir di dunia masjid, maksudnya dunia religi," ujar Pramudya saat dijumpai secara daring, Sabtu (31/10).

Dari pengalaman tersebut, ketertarikannya untuk menelusuri masjid semakin menguat. Ia kemudian mulai memikirkan cara untuk membagikan cerita-cerita itu melalui media sosial.

Sebetulnya, Pram sendiri memiliki ketertarikan pada sejarah dan kuliner. Namun, ia melihat kedua topik tersebut sudah memiliki banyak penggagas.

"Sebenarnya saya maunya fokus di makan (kuliner), cuma wah udah banyak nih yang bikin, jadi coba deh cari pembeda dari niche itu," katanya.

Di situlah ia berusaha menemukan pendekatan yang berbeda. Salah satu referensinya adalah buku Jejak Masjid-Masjid Tua di Jakarta karya Achmad Sofiyan, Mu'tashim Billah, dan Reyhan Biadillah.

Ia mencoba menyusun daftar masjid yang ada dalam buku tersebut ke dalam format digital. Dari sana, gagasan untuk mengemas informasi sejarah masjid menjadi konten media sosial mulai berkembang.

Namun, perjalanannya tidak langsung menemukan format yang tepat. Pramudya sempat mempertimbangkan untuk membuat konten video. Wacana itu urung dilakukan karena keterbatasannya dalam penyuntingan atau editing video.

Di tengah keterbatasan tersebut, kemunculan Threads pada 2023 membuka peluang baru. Ia melihat platform itu sebagai ruang untuk bereksperimen dengan berbagai format konten.

Beragam percobaan dilakukan sepanjang 2024 hingga akhirnya ia menemukan pendekatan storytelling yang kemudian menjadi format tetap sejak 2025.

"Sampai di 2023 ini ada Threads. Platform baru, belum ada pemainnya dan nyoba-nyoba banyak format. Masih trial and error sampai nemu format yang tepat," terangnya.

Merangkai Sejarah, Transportasi, hingga Kuliner

Buku
Buku "Jejak Masjid-Masjid Tua di Jakarta" karya Achmad Sofiyan, Mu'tashim Billah, dan Reyhan Biadillah

Selama perkembangan itu, konten Dari Masjid Ke Masjid sendiri tidak hanya berorientasi pada sejarah. Pramudya melengkapinya dengan memasukkan informasi mengenai transportasi umum dan rekomendasi kuliner di sekitar masjid.

Menurutnya, informasi akses transportasi umum dapat membantu pembaca merencanakan perjalanan. Pendekatan tersebut secara tidak langsung menjadi pembeda dari konten wisata religi lainnya.

Dalam memulai penelusuran, Pram biasanya melakukan pencarian sejarah atau cerita di balik sebuah masjid yang akan dikunjungi. Setelah itu, ia mencari tahu pilihan transportasi umum dan kuliner di sekitaran masjid.

"Pendekatan awalnya tuh sejarah, lalu saya balik, ini transportasi umumnya ke sini (masjid) ada apa ya, lalu ada kuliner apa di sana, baru deh ke sejarahnya," tutur Pram.

Untuk pemilihan masjid, salah satu aspek terpenting yang menjadi perhatiannya adalah akses transportasi umum. Ia cenderung mengutamakan lokasi yang mudah dijangkau pembaca.

Selain itu, proses penelurusannya sebagian besar dilakukan seorang diri. Pramudya biasanya mengunjungi masjid pada akhir pekan atau memanfaatkan perjalanan dinas ke daerah tertentu.

Ia bahkan sesekali sampai mengikuti kegiatan walking tour. Kegiatan itulah yang sangat membantunya bertemu narasumber dan memperoleh informasi tambahan mengenai masjid yang dikunjungi.

Sampai saat ini, Pram kurang lebih sudah mengunjungi 13 hingga 15 masjid berbeda. Beberapa di antaranya bahkan ia datangi lebih dari sekali untuk mencari informasi ataupun mengambil dokumentasi.

Untuk kebutuhan visual, Pram mengandalkan kamera berlensa lebar (ultra wide) dan drone. Ia memilih menyajikan kondisi bangunan secara langsung dengan penyuntingan minimalis.

Menemukan Cerita di Balik Masjid

Masjid Al-Mubarok di daerah Gatot Subroto, Kuningan, Jakarta Selatan. (dok. Dari Masjid Ke Masjid/Pramudya)
Masjid Al-Mubarok di daerah Gatot Subroto, Kuningan, Jakarta Selatan. (dok. Dari Masjid Ke Masjid/Pramudya)

Salah satu masjid yang meninggalkan kesan baginya adalah Masjid Al Mubarok atau Masjid Pangeran Kuningan yang terletak di daerah Kuningan, Jakarta Selatan.

Melansir dari hasil penelurusannya, ia secara tidak langsung menemukan sejumlah cerita yang menghubungkan masjid tersebut dengan sejarah kawasan Kuningan dan sosok Pangeran Kuningan.

Pram bercerita bahwa masjid tersebut dibangun oleh seorang Pangeran bernama Pangeran Adipati Awangga yang mempunyai gelar Pangeran Kuningan.

Pada tahun 1527 seusai menang mengusir penjajah, Pangeran Kuningan memilih untuk menetap di wilayah selatan untuk menyebarkan agama Islam dengan mendirikan masjid tersebut.

"Kalau tau daerah Kuningan, itu kan awalnya ternyata nama seorang Pangeran, Pangeran Kuningan. Nama kuningan itu, karena dia seperti orang bule. Akhirnya banyak orang menyebutnya kuning, jadilah Kuningan," jelasnya.

Meskipun demikian, ia menyadari informasi sejarah tidak selalu harus punya satu versi yang mutlak. Karena itu, ia mencoba untuk menyampaikan catatan atau penjelasan ketika dijumpai informasi yang masih diperdebatkan.

"Tapi kan yang namanya sejarah, kebenarannya nggak ada yang absolut," tekannya.

Merangkai Ingatan Lewat Cerita

Masjid Cut Meutia di daerah Menteng, Jakarta Pusat. (dok. Dari Masjid Ke Masjid/Pramudya)
Masjid Cut Meutia di daerah Menteng, Jakarta Pusat. (dok. Dari Masjid Ke Masjid/Pramudya)

Tak hanya menjadi ruang berbagi cerita, akun tersebut juga menjadi tempat Pramudya mengembangkan kemampuan menulis.

Sehari-harinya, ia terbiasa berkutat dengan dunia kepenulisan bergaya formal. Melalui mdia sosial, ia jadi berlatih untuk menggunakan gaya bercerita yang lebih luwes.

"Kegiatan ini membantu banget. Karena pekerjaan saya lebih ke penulisan yang baku, tapi ada kalanya diminta menulis untuk keperluan media sosial, saya masih lemah di situ. Intinya ya dengan ini bisa saya jadiin wadah untuk berlatih," katanya.

Lebih lanjut, Pram menuangkan harapannya dari konten yang ia buat untuk dapat membantu masyarakat dalam memanfaatkan transportasi umum ketika mengunjungi masjid.

Menurutnya, Jakarta memiliki begitu banyak fasilitas transportasi yang dapat memudahkan mobilitas warga.

"Mudah-mudahan dengan ini, bisa memudahkan pembaca mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Jadi lebih aware gitu sama transportasi umum," harapnya.

Adapun Pramudya ingin mengajak masyarakat untuk lebih bisa menghargai sejarah kota tempat mereka tinggal. Baginya, keberadaan masjid merupakan salah satu bagian dari ingatan kolektif yang perlu dijaga.

Ia berharap masyarakat tidak hanya berfokus pada kekurangan dari Jakarta itu sendiri. Sebaliknya, warga juga perlu melihat berbagai kemudahan dan cerita yang tersimpan di dalamnya.

Melalui Dari Masjid Ke Masjid, Pramdya berusaha merawat ingatan tersebut. Ia ingin membuktikan bahwa perjalanan mengenal Jakarta tidak harus selalu diawali dari tempat-tempat wisata populer.

Terkadang, cerita di balik sebuah kota justru bisa dijumpai dengan memasuki halaman masjid.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda