News
Susah Fokus Bukan Cuma karena 'Gadget': Memahami Mitos Attention Span di Era Digital
Pernah membuka ponsel hanya untuk membalas satu pesan, tapi beberapa menit kemudian sudah beralih dari Instagram ke TikTok, lalu ke YouTube Shorts?
Pernahkah kamu berniat membaca satu artikel sampai habis, tapi hanya beberapa paragraf saja sudah merasa lelah dan ingin melakukan hal lain?
Di tengah banyaknya informasi digital yang mengalir deras, mempertahankan perhatian memang terasa sulit. Notifikasi, media sosial, video singkat, serta kebiasaan berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain terus menggoda perhatian untuk beralih.
Namun, ada satu anggapan yang perlu diluruskan. Attention span bukan berarti jumlah detik yang secara pasti bisa digunakan seseorang untuk fokus. Tidak ada satu angka universal yang berlaku untuk semua orang.
Mudahnya, attention span adalah kemampuan seseorang untuk tetap fokus pada tugas atau informasi tertentu selama waktu tertentu. Kemampuan ini bisa berbeda tergantung usia, kondisi seseorang, jenis pekerjaan yang dilakukan, dan lingkungan di mana mereka berada.
Penelitian yang dilakukan oleh Simon dan timnya terhadap 262 orang dengan usia antara 7 hingga 85 tahun menunjukkan bahwa kemampuan untuk mempertahankan perhatian berbeda-beda tergantung pada usia seseorang. Dalam penelitian itu, jangka perhatian yang diukur secara langsung biasanya lebih lama pada orang muda dibandingkan anak-anak dan orang dewasa yang lebih tua.
Jadi, kalau kadang-kadang sulit fokus, itu tidak berarti seseorang pasti memiliki attention span yang buruk.
Ketika Jempol Terbiasa Scroll
Salah satu kebiasaan yang sering berkaitan dengan kesulitan fokus adalah memakai sosial media terlalu banyak, terutama ketika seseorang terus beralih dari satu konten ke konten lainnya.
Bayangkan kamu sedang mengerjakan tugas, lalu membuka WhatsApp, memeriksa Instagram, kemudian menonton sebuah video pendek sebelum kembali ke laptop. Belum usai satu tugas, perhatian sudah beberapa kali bergeser.
Kebiasaan seperti ini dikenal sebagai multitasking. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada kaitan antara kebiasaan menggunakan media secara bersamaan dengan beberapa bagian perhatian dan kemampuan mengendalikan pikiran. Namun, hasil penelitian tentang dampaknya tidak selalu sama. Oleh karena itu, tidak benar untuk langsung menyatakan bahwa menggunakan teknologi pasti akan membuat kemampuan memperhatikan seseorang berkurang secara selamanya.
Hal serupa terlihat dalam penelitian Medvedskaya (2022). Penelitian ini membandingkan tiga kelompok, yaitu orang dewasa yang menggunakan internet, orang dewasa yang membaca buku, dan pemuda yang menggunakan internet. Kelompok orang dewasa memiliki kemampuan untuk fokus lebih baik dibandingkan para pengguna internet yang aktif. Namun, karena penelitian ini bersifat perbandingan, hasilnya tidak bisa digunakan untuk menunjukkan bahwa penggunaan internet adalah penyebab langsung dari perbedaan kemampuan berfokus.
Artinya, masalahnya bukan hanya soal “internet buruk untuk otak”. Yang paling penting adalah cara teknologi digunakan, seberapa sering dia digunakan, dan apakah kebiasaan itu mulai mengganggu kegiatan lainnya.
Benarkah Video Pendek Bikin Fokus Menurun?
Video pendek dibuat agar bisa memberikan informasi dengan cepat. Setelah video pertama selesai, pengguna bisa langsung beralih ke video berikutnya dengan sekali gerakan jari.
Pola konsumsi seperti ini kemudian sering dikaitkan dengan perhatian. Penelitian yang dilakukan Asif dan Kazi (2024) tentang video pendek dan prestasi akademik menunjukkan bahwa semakin lama seseorang menonton video pendek, semakin rendah nilai ujian yang diperoleh dari sampel penelitian tersebut. Penelitian tersebut juga mempelajari pengalaman orang-orang yang mengalami kesulitan dalam mempertahankan fokus perhatian mereka.
Namun, temuan tersebut perlu dibaca dengan hati-hati. Hubungan bukan berarti sebab-akibat. Penelitian itu belum cukup untuk menyatakan bahwa menonton video pendek langsung membuat perhatian semakin pendek atau nilai akademik menurun.
Sebab itu, lebih tepat menyatakan bahwa penggunaan video pendek yang tinggi mungkin terkait dengan pola perhatian tertentu menurut beberapa penelitian, bukan berarti setiap orang yang sering menonton TikTok, Reels, atau Shorts pasti mengalami penurunan kemampuan fokus.
Ini penting karena teknologi itu bukan sesuatu yang selalu buruk. Video pendek bisa dipakai untuk belajar, memperoleh informasi, atau hanya untuk menonton dan bersenang-senang. Masalahnya terletak pada cara penggunaannya dan kemampuan untuk mengontrol perhatian.
Fokus Bisa Buyar Bukan Karena Gadget Saja
Ponsel memang mudah menjadi tersangka ketika seseorang sulit berkonsentrasi. Padahal, ada banyak faktor lain yang dapat membuat perhatian lebih mudah terpecah.
1. Kurang tidur
Tubuh dan otak perlu beristirahat agar bisa menjalankan tugas-tugas sehari-hari dengan baik. Tidur yang kurang, bisa membuat seseorang terasa lelah, sehingga lebih sulit fokus dan menyelesaikan pekerjaan.
Karena itu, sulit fokus setelah begadang bukan hal yang aneh.
2. Stres dan kecemasan
Ketika pikiran penuh dengan kecemasan, perhatian bisa teralihkan ke hal-hal yang sedang dipikirkan. Tubuh mungkin berada di depan buku atau laptop, tapi pikiran malah terus-menerus memikirkan masalah lain.
Akibatnya, jadi lebih sulit untuk fokus sepenuhnya pada tugas yang sedang dikerjakan.
3. Lingkungan yang penuh distraksi
Suara orang berbicara, televisi, notifikasi HP, hingga orang yang lewat bisa membuat perhatian sering berpindah.
Lingkungan yang lebih tenang dan teratur bisa membantu mengurangi gangguan ketika seseorang sedang mencari fokus.
4. Terlalu sering berpindah tugas
Mengerjakan beberapa tugas sekaligus memang terlihat lebih efisien. Namun, setiap kali beralih dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, perhatian juga perlu diubah.
Jika dilakukan terus-menerus, kegiatan itu bisa membuat pekerjaan terasa lebih berantakan.
5. Kondisi tertentu
Kesulitan mempertahankan fokus juga bisa terjadi dalam situasi tertentu, seperti ADHD, gangguan kecemasan, depresi, atau gangguan tidur.
Namun, kadang-kadang sulit fokus bukan berarti otomatis mengarah pada gangguan tersebut. Diagnosis membutuhkan pengecekan oleh ahli dan melihat gejala secara lengkap.
Bagaimana Melatih Fokus agar Tidak Mudah Buyar?
Kabar baiknya, menjaga perhatian tidak berarti harus mematikan ponsel atau menghilang dari dunia digital.
Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat dicoba.
1. Kurangi notifikasi yang tidak penting
Notifikasi tetap menarik perhatian karena ada alasan untuk berpindah. Matikan notifikasi yang tidak penting dan aktifkan mode fokus saat sedang belajar atau bekerja.
Bahkan, meletakkan ponsel di luar jangkauan saat bekerja bisa jadi cara mudah untuk mengurangi kesenangan yang mengganggu.
2. Kerjakan satu hal terlebih dahulu
Ketika sedang membaca, cobalah membaca. Ketika sedang menulis, fokuslah menulis.
Jangan dipaksa fokus terus-menerus selama berjam-jam. Mulai dengan durasi yang realistis, lalu tingkatkan secara perlahan.
3. Gunakan teknik Pomodoro
Teknik Pomodoro mengatur pekerjaan dengan membaginya menjadi beberapa bagian, yaitu waktu fokus dan waktu istirahat. Salah satu pola yang sering digunakan adalah bekerja selama 25 menit lalu beristirahat selama 5 menit.
Metode ini bukanlah solusi instan untuk meningkatkan kemampuan berpikir otak. Namun, membagi waktu menjadi sesi yang lebih singkat bisa membuat tugas terasa lebih rapi dan lebih mudah dimulai.
4. Prioritaskan tidur
Orang dewasa biasanya membutuhkan tidur sekitar 7 hingga 9 jam setiap malamnya.
Tidur teratur, mengurangi penggunaan gawai sebelum tidur, dan memperbaiki suasana kamar bisa membantu meningkatkan kualitas tidur.
5. Berikan waktu tanpa distraksi
Tidak semua waktu harus diisi dengan scrolling.
Coba baca beberapa halaman buku tanpa mengambil ponsel, jalan kaki sejenak tanpa terus melihat notifikasi, atau nikmati makanan tanpa beralih aplikasi satu sama lain.
Tujuannya bukan agar hidup tidak menggunakan teknologi, tetapi memberi kesempatan untuk melakukan satu kegiatan tanpa terus mencari hal menarik berikutnya.
6. Latih perhatian dengan mindfulness
Mindfulness bisa jadi salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran akan hal-hal yang sedang dilakukan.
Caranya sederhana. Duduk dengan rileks dan fokuskan perhatianmu pada napasmu. Ketika pikiran mulai terbawa jauh, sadari perasaan itu lalu perlahan kembalikan fokus ke napas.
Tidak usah marah pada diri sendiri ketika pikiran kembali teralihkan. Sebaliknya, proses mengembalikan perhatian tersebut justru merupakan bagian dari latihan itu sendiri.
7. Jangan lupakan kebutuhan dasar
Makan makanan bergizi, bergerak secara teratur, tidur cukup, serta istirahat sejenak di tengah aktivitas tetap penting untuk menjaga kinerja tubuh dan kemampuan fokus.
Tidak ada makanan, aplikasi, atau cara cepat yang bisa membuat seseorang langsung memiliki daya perhatian yang tahan lama.
Fokus terbentuk dari kebiasaan yang dilakukan terus-menerus.
Bukan Soal Berapa Detik Kita Bisa Fokus
Pada akhirnya, attention span bukan perlombaan untuk melihat siapa yang mampu duduk paling lama tanpa menyentuh ponsel.
Perhatian manusia memang dapat berubah-ubah. Bahkan, penelitian Simon beserta timnya menunjukkan bahwa kemampuan untuk tetap fokus berbeda-beda tergantung usia seseorang dan bisa berubah seiring waktu selama mereka melakukan suatu tugas yang membutuhkan perhatian terus-menerus.
Karena itu, ketika fokus mulai menghilang, tidak perlu langsung menyalahkan diri sendiri atau menyalahkan teknologi.
Coba perhatikan lebih dekat: apakah tubuh kamu sedang merasa lelah? Apakah pikiran sedang penuh? Apakah lingkungan terlalu ramai? Atau mungkin tangan kamu memang sudah terlalu terbiasa melakukan satu hal, yaitu scroll?
Teknologi tidak harus menjadi musuh. Ponsel, media sosial, dan video pendek tetap bisa bermanfaat asalkan digunakan dengan bijak.
Yang perlu dijaga adalah kemampuan untuk memilih kapan harus melihat layar dan kapan harus mengalihkan perhatian kembali kepada hal yang benar-benar penting.
Karena di tengah dunia yang terus bersaing untuk menarik perhatian, kemampuan menentukan ke mana fokus perhatian kita diberikan mungkin menjadi salah satu keterampilan yang paling penting.