News

Terdesak Pakan Mahal, Peternak Gunungkidul 'Jual Sapi Demi Sapi'

Terdesak Pakan Mahal, Peternak Gunungkidul 'Jual Sapi Demi Sapi'
Ilustrasi peternakan sapi. (Suara.com/rico barino)

Peternak di Kalurahan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan pakan ternak saat musim kemarau. Kondisi tersebut terungkap dalam diskusi bersama warga yang berlangsung pada Minggu (25/10/2026).

Tingginya harga pakan hijauan membuat sebagian peternak terpaksa menjual salah satu sapinya untuk membeli pakan bagi ternak yang tersisa. Warga setempat menyebut kondisi ini sebagai fenomena “sapi makan sapi”.

Perwakilan Komunitas Tanggap Kahanan (Kontak) Semanu, Marwanto, mengatakan praktik tersebut terjadi ketika peternak tidak lagi mampu menanggung biaya pakan harian. Peternak yang memiliki dua ekor sapi, misalnya, terpaksa menjual satu ekor untuk menjaga agar sapi lainnya tetap mendapat pakan.

“Dampak ke ternak saat situasi seperti ini bisa dikatakan ‘sapi makan sapi’. Maksudnya, kalau peternak punya dua ekor sapi, yang satu terpaksa dijual untuk membeli pakan bagi sapi yang tersisa,” ujar Marwanto saat diwawancarai dalam kegiatan diskusi warga di Semanu, Minggu (25/10/2026).

Ia mengatakan harga pakan yang tinggi membuat biaya pemeliharaan ternak semakin berat. Menurutnya, uang Rp10.000 hanya cukup untuk membeli seikat kecil pakan, sedangkan kebutuhan pakan satu ekor sapi bisa mencapai Rp50.000 per hari dan jumlah tersebut belum tentu mencukupi.

Krisis pakan juga dipengaruhi terbatasnya ketersediaan hijauan di sekitar permukiman. Ketika rumput lokal mengering selama musim kemarau, peternak harus mendatangkan pakan dari luar daerah. Pasokan tersebut bahkan disebut masuk menggunakan truk dari Provinsi Banten, sehingga peternak semakin bergantung pada pasokan dan harga dari luar wilayah.

Marwanto juga menggambarkan kondisi tersebut sebagai beban yang terus berulang setiap musim kemarau. Ia menyebut warga dapat melihat langsung kedatangan kendaraan pengangkut pakan di kawasan Patung Semar.

“Memberi makan sapi dengan cara ‘sapi makan sapi’ atau bahkan ‘kambing makan sapi’ adalah kenyataan yang sangat getir dan pahit. Kalau mau tahu buktinya, besok bangunlah pagi-pagi dan jalan ke Patung Semar untuk menunggu mobil pakan ternak. Setiap hari di dusun ini, biaya pakan minimal Rp50.000 per hari, padahal jumlah itu pun sebenarnya tidak cukup,” tuturnya.

Persoalan air turut menjadi perhatian warga karena ketersediaannya berkaitan dengan keberlangsungan pertanian dan penyediaan pakan ternak. Muslih, seorang pemuda Semanu, mengatakan sejumlah petani muda mulai kembali mengembangkan budidaya bawang merah. Namun, biaya penyediaan air masih menjadi beban besar.

“Akhir-akhir ini si petani milenial, petani muda itu sudah mau bangkit lagi. Itu terbukti dengan sekarang banyak petani muda yang nanam berambang. Nah, dengan biaya yang cukup gede, satu bulan itu nyampai Rp3 juta itu untuk pembayaran air PDAM karena tidak ada air. Kuncinya di air,” kata Muslih dalam diskusi warga pada Minggu (25/10/2026).

Warga bersama jaringan komunitas kini mengupayakan pengangkatan air tanah dari aliran sungai bawah tanah di gua setempat. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu menyediakan air untuk kegiatan pertanian dan memungkinkan warga membudidayakan pakan ternak secara mandiri.

“Makanya besok kalau air itu bisa keangkat, kan bisa nanam pakan sendiri, jadi tidak usah beli,” ujar Marwanto dalam diskusi tersebut.

Wahyu, aktivis pendamping jaringan warga, juga menyoroti persoalan kekeringan yang berulang di Gunungkidul. Menurutnya, potensi lahan dan produktivitas masyarakat belum dapat dimanfaatkan secara optimal ketika ketersediaan air masih menjadi kendala.

“Di Gunungkidul ada istilah ‘sapi makan sapi’. Ini kenyataan yang terjadi di sekitar kita, bukan karangan. Musim kemarau di sini memicu kekeringan permanen, padahal dari segi lahan dan SDM, wilayah ini sangat produktif. Kuncinya hanya satu, yaitu air,” kata Wahyu dalam diskusi warga tersebut.

Warga berharap tersedianya akses air dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pakan dari luar daerah. Dengan dukungan air untuk pertanian, peternak di Semanu diharapkan memiliki alternatif untuk memproduksi hijauan sendiri dan menekan biaya pemeliharaan ternak saat musim kemarau.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda