Chauvinisme: Sebuah Istilah yang Diambil dari Nama Prajurit Napoleon

Ayu Nabila | Armand IS
Chauvinisme: Sebuah Istilah yang Diambil dari Nama Prajurit Napoleon
Illustrasi Tentara Napoleon yang Menjadi Sumber Istilah Chauvinisme (Unsplash) / Michal Matlon

Membicarakan tentang bahasan kebangsaan tentu tidak terlepas dari penanaman nilai nasionalisme, seperti yang selalu bermunculan dalam acara-acara dialog kebangsaan yang dibawakan oleh berbagai instansi pemerintah. Tidak lupa, di akhir pembicaraan akan muncul pesan seperti "kita boleh menjadi seorang nasionalis, tetapi kita tidak boleh menjadi seorang chauvinis."

Kalimat tersebut memang sudah tidak bisa dimungkiri memiliki kebenaran yang relevan untuk diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, sering kita hanya berpaku kepada definisi yang baku tanpa meresapi latar belakang munculnya istilah tersebut. Oleh karena itu, akan timbul pertanyaan seperti: "Apa yang dimaksud dengan chauvinisme?" tanpa mempertanyakan "Bagaimana istilah chauvinisme muncul?"

Berangkat dari keresahan akan pertanyaan tersebut, maka izinkan penulis mengajak pembaca untuk menelusuri asal mula istilah chauvinisme.

Diambil dari kisah seorang prajurit Napoleon

Konon dikisahkan oleh beberapa sejarawan ada seorang prajurit yang mengabdi kepada kaisar Napoleon pada era terror kaisar tersebut. Prajurit itu bernama Nicolas Chauvin, entah Nicolas merupakan orang asli atau tidak, tapi para sejarawan sepakat bahwa kisah ini menjadi akar dari istilah tersebut. Diceritakan bahwa Chauvin merupakan seorang prajurit yang begitu cinta kepada kaisarnya. Ia digambarkan berjuang hingga luka parah dan hampir meninggal akibat terus berperang tanpa henti.

Sebagai penghargaan atas jasanya, Napoleon sendiri menganugerahinya sebuah penghargaan berupa pedang antik yang menyimbolkan kehormatan sekaligus memberinya dana pensiun sebesar 200 Franc. Rasa cinta Chauvin kepada Napoleon tidak berhenti meskipun ia hampir mati membelanya. Bahkan, Chauvin tetap menunjukkan fanatisme kepada Napoleon, meski kaisar tersebut sudah diasingkan dan dicap sebagai diktator dan penjahat.

Chauvin tetap menjadi seorang Bonapartist setia meskipun masyarakat sudah tidak percaya lagi kepada kaisar tersebut dan sudah muak akan peperangan yang Napoleon mulai. Bahkan, rekan sesama Bonapartist-nya meninggalkannya sendiri dan lawan politiknya mengolok-ngoloknya. Chauvin tetap teguh, sehingga orang-orang mulai mengistilahkan sikap yang ia bawa dengan 'chauvinism.'

Menggambarkan sikap yang diambil oleh prajurit tersebut

Chauvinisme menggambarkan sikap yang sama dengan apa yang diambil oleh prajurit tersebut. Meskipun apa yang ia cintai selama ini merupakan hal yang usang dan sudah tidak relevan, Ia tetap mati-matian membelanya hanya memperoleh olokan dan tangan kosong. Bahkan, apa yang ia bela tidak memberikan timbal balik dan hanya sekadar memanfaatkannya sebagai alat.

Chauvinisme dalam konteks kontemporer

Seorang cendekiawan politik bernama Hannah Arendt menggambarkan sikap chauvinisme sebagai bentuk konsep nasionalisme paling usang, yakni sekadar membela sebuah rezim tirani yang bahkan tidak memberikan dirinya apa-apa kecuali merugikan diri sendiri dan menambah musuh.

Pada konteks tersebut, chauvinisme merupakan sebuah sikap irasional, karena tidak ada bukti klaim objektif jika suatu suku, bangsa, maupun negara memiliki superioritas dibandingkan dengan kelompok lainnya. Oleh karena itu, sikap chauvinisme sejatinya dapat kita pahami sebagai sebuah sikap yang menunjukan superioritas moral terhadap kelompok lainnya dan menjadi sebuah justifikasi atas penindasan serta pertumpahan darah.

Memahami chauvinisme adalah upaya penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jangan sampai kita cinta negara kita, tetapi menjadi pisau bermata dua dan membenarkan penindasan terhadap kelompok lain. Chauvinisme juga dapat kita pahami secara luas di konteks lainnya, seperti pada kesetiaan terhadap perusahaan hingga pasangan.

Referensi

  • Arendt, Hannah (October 1945). "Imperialism, Nationalism, Chauvinism". The Review of Politics
  • Barnhart, Clarence Lewis (1967). The New Century Handbook of English Literature
  • Encyclopædia Britannica.  "Chauvinism"
  • Grammar Girl. "15 Words You Didn't Realize Were Named After People"

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak