Setelah mengguncang pembaca global dengan dua rilisan novelnya, yaitu Convenience Store Woman (Grove Books, 2018) dan Earthlings (Grove Books, 2020), penulis perempuan asal Jepang, Sayaka Murata, ini akan merilis kumpulan cerpen pertamanya pada tahun 2022. Buku itu berjudul Life Ceremony (Grove Books, 2022) yang edisi bahasa Inggrisnya diterjemahkan oleh Ginny Tapley Takemori.
Buku ini berisi dua belas cerita pendek yang bernuansa khas Sayaka Murata: Unik, aneh, bahkan sedikit horor. Cerita-cerita itu mengambil tempat di masa modern Jepang, sehingga isu yang terdapat di dalamnya erat kaitannya dengan masyarakat kontemporer. Sebagai bocoran cerita, dari kedua belas cerita tersebut, kita bisa mendapati beberapa penjelasan dari empat judul yang diletakkan dalam blurb buku. Apa saja empat cerita tersebut? Berikut penjelasannya:
1. A First-Rate Material
Cerpen ini bercerita tentang sepasang kekasih bernama Nana dan Naoki. Keduanya sudah bertunangan dan merasakan kebahagiaan atas hubungan mereka, tetapi ada satu hal yang membuat Naoki tidak nyaman, yaitu adanya pakaian, aksesoris, dan furnitur yang bahan bakunya dari bagian tertentu tubuh manusia yang sudah meninggal. Dari ketidaknyamanan akan isu tersebut, hubungan mereka pun terancam dan berpotensi menggagalkan hari pernikahan mereka yang secara matang dan sempurna direncanakan. Apakah mereka berhasil menikah?
2. Lovers on the Breeze
Cerpen ini tidak kalah unik, sebab mengambil pilihan tirai kamat tidur sebagai pengisah atau sudut pandang orang pertama. Perkaranya juga sedikit konyol: Dikisahkan, bahwa si tirai merasa cemburu melihat penghuni kamarnya, yaitu seorang perempuan muda bernama Naoko, melakukan ciuman pertamanya dengan teman laki-laki di kelasnya. Atas rasa cemburu itu, si tirai sebisa mungkin menggagalkan tindakan tersebut dengan melakukan usaha terbaiknya. Apakah usaha si tirai berhasil?
3. Eating the City
Cerpen ini menggambarkan dan mengeksplorasi soal berbagai norma aneh seputar makanan dan usaha orang-orang mencari makan.
4. Hatchling
Cerpen ini disebut sebagai penutup buku yang menggambarkan kisah seseorang yang berusaha keras untuk menyesuaikan diri. Namun, usaha itu tidaklah mudah dan justru membuat kepribadian serta jati dirinya tercerabut atas norma-norma yang ada di masyarakat.
Seperti biasanya, kekhasan Murata Sayaka memang ada pada pemilihan topik kisahnya yang aneh dan absurd. Namun, kisah-kisahnya beririsan dengan kehidupan masa kini, sebab terdapat berbagai isu masyarakat seperti soal persahabatan, seks dan keintiman, juga kebersamaan serta kesendirian. Selain itu, Murata juga kerap mengajukan pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan norma dan nilai-nilai di dalam masyarakat. Dan kerap kali, ia memiliki jawaban yang unik dan tak terduga. Sebagai contoh, pada novelnya yang terdahulu Convenience Store Woman, yang edisi bahasa Indonesia terbit menjadi Gadis Minimarket (GPU, 2020), Murata Sayaka mempertanyakan standar kenormalan yang ada di masyarakat. Dalam novel tersebut, sang tokoh utama dikisahkan sebagai sosok yang abnormal, sebab ia bekerja sebagai penjaga minimarket paruh waktu selama hampir 18 tahun dan belum menikah di usianya yang ke-36 tahun.
Dari penggambaran itu, Murata Sayaka kemudian mengajukan pertanyaan: Memangnya apa saja standar kenormalan itu? Menikah, punya karier bagus, dan sukses? Kalau iya, standar itu memang untuk apa? Kenapa pula orang-orang sibuk mengurus kehidupan orang lain dengan menciptakan standar-standar semacam itu? Itu adalah sekian pertanyaan yang secara tak langsung dipertanyakan di dalam novelnya. Ia ingin pembacanya berpikir ulang tentang keadaan, nilai, dan norma masyarakat hari ini.
Kesan itu pulalah yang dijanjikan oleh Murata dari rilisan buku terbarunya ini. Kendati dengan tema cerita yang absurd, tetapi selalu ada kesegaran terkait perspektif yang ia tawarkan dalam kisah-kisahnya tersebut. Namun, pembaca Indonesia agaknya perlu bersabar kalau ingin membaca buku ini. Sebab, buku yang akan dirilis bulan Juli nanti ini baru keluar edisi bahasa Inggrisnya. Pembaca Indonesia, kalau keburu penasaran bisa membacanya dalam bahasa Inggris sambil berharap semoga kelak ada penerbit Indonesia yang tergerak ingin menerbitkan edisi terjemahannya.