facebook

Mengulik Sentra Dodol Betawi di Pejaten Timur Jakarta Selatan

Dwi Handriyani
Mengulik Sentra Dodol Betawi di Pejaten Timur Jakarta Selatan
Dodol Betawi di Pejaten Timur. (dok.pribadi/whieandri)

Lahir dan besar di Jakarta, tak luput mendapatkan tempaan kebudayaan Betawi yang mewarnai lingkungan tempat saya dibesarkan. Berbagai kuliner khasnya sudah menjadi santapan favorit yang menggelitik lidah seperti nasi uduk, semur jengkol, ketoprak, ketupat sayur, soto Betawi, laksa, hingga dodol Betawi.  

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, dodol Betawi menjadi tradisi yang wajib terhidang di kalangan warga Betawi. Siapa sih yang tak kenal dodol Betawi. Panganan manis yang lembek dan lengket di dalam proses pembuatannya membutuhkan perjuangan.

Dirangkum dari situs Kebudayaan Kemdikbud, dengan berbahan baku beras ketan putih/hitam, gula merah, gula pasir, dan santan untuk membuat dodol Betawi perlu tenaga ekstra dalam mengaduk adonan dodol. Maklum saja, satu panci kuali besar dengan diameter satu meter, adonan dodol harus diaduk selama tujuh jam tanpa berhenti. Kalau berhenti adonan akan keras dan rasanya tidak merata.

Untuk membuat dodol Betawi sebanyak satu kuali memerlukan beberapa bahan dasar berupa gula merah sebanyak tiga peti, gula pasir empat plastik, santan kelapa tiga ember, dan 10 liter ketan hitam. Beberapa adonan dasar tersebut kemudian dicampur menjadi satu ke dalam kuali besar yang nantinya dapat menghasilkan 20 besek dodol Betawi.

Jalan Damai dan Jalan Angsana I Menjadi Pusat Dodol Betawi

Salah satu tempat pembuatan dan penjualan Dodol Betawi di Jalan Damai
Salah satu tempat pembuatan dan penjualan Dodol Betawi di Jalan Damai (dok.pribadi/whieandri)

Sudah hampir 36 tahun tinggal di kawasan Pejaten Timur, Jakarta Selatan dan mengetahui bahwa sekitar Jalan Damai dan Angsana I menjadi sentra dodol betawi. Namun, belum sempat mengulik tempat-tempat favorit dodol Betawi yang ternyata cukup banyak dan sudah berjualan selama puluhan tahun. Ibarat kata, kawasan ini seperti sentra bakpia di daerah Pathuk, Yogyakarta.

Menyusuri Jalan Damai yang tidak jauh dari tempat tinggal, ku sempatkan mampir membeli dodol di rumah Ibu Mariyam. Sembari membeli dodol wijen ketan hitam dan ketan putih, Pak Dolah yang bertugas menjual dodol Ibu Mariyam menceritakan sedikit sejarah pusat dodol di wilayah Pejaten Timur, Jakarta Selatan.

“Di Jalan Damai, Rukun, dan Angsana I, Pejaten Timur, kira-kira ada pembuat-penjual dodol 10-30 orang, termasuk musiman kalo Lebaran. Yang tetap ada 10, udah ada yang sampe generasi keempat seprti Dodol Ibu Mariyam ini”, ungkap Pak Dolah dari Dodol Betawi Ibu Mariyam di Jalan Damai I.

Selain Dodol Ibu Mariyam, di Jalan Damai itupun terdapat Dodol Ibu Zakiyah, Dodol Ibu Yuyun, Dodol Atik Cicik, dan Pusat Pondok Dodol “Citra Rasa” Bu Nonong/Fatmah. Adapula di Jalan Angsana I, yang dekat dengan rumah orang tua saya terdapat Dodol Ibu Mimin dan Dodol Wan Husein yang sering ku nikmati kelegitan rasanya semenjak kecil. 

Para pembuat dan penjual dodol yang disebutkan di atas merupakan penjual tetap yang sukses mempertahankan tradisi Betawi sekaligus menjadi sumber penghasilan keluarga turun-temurun. Strategi pemasaran pun sudah mengalami perkembangan. 

Mereka tidak hanya menjual secara langsung dengan gerai etalase di depan rumah/warung, tetapi juga memanfaatkan teknologi informasi melalui perantara ojek online, marketplace. Jadi, parents tak perlu galau ya untuk bisa menikmati dodol Betawi jika tidak bertempat tinggal di wilayah Pejaten Timur. Hanya dengan menggerakan jempol, melalui gawai pintar, kita dapat memesan dan membeli dari berbagai wadah penjualan daring.

Ketersediaan dodol Betawi di Jalan Angsana I dan Damai, Pejaten Timur, tidak hanya pada Bulan Ramadhan saja. Namun, juga tersedia sepanjang tahun. Diakuinya memang omset dodol Betawi untuk panganan Lebaran melesat hingga 7x dari hari biasa.

Filosofi Dodol Betawi

Suasana di Gerai Dodol Ibu Salmah
Suasana di Gerai Dodol Ibu Salmah (dok.pribadi/whieandri)

Dengan pembuatan berjam-jam lamanya, dodol Betawi ini dapat bertahan hingga berbulan-bulan. Tidak mudah basi dan berjamur, layaklah dodol Betawi dikatakan sebagai primadona sajian untuk Hari Raya Idul Fitri. Sebenarnya dodol Betawi tidak hanya tersaji pada Hari Idul Fitri saja, menurut tetangga saya yang Betawi tulen, dodol juga sering dihidangkan pada hajatan-hajatan besar seperti sunatan dan kawinan.

Di sisi lain, dilihat dari pembuatan dodol, ternyata tersirat makna sosial. Karena begitu sulit dalam membuat dodol, maka semangat gotong royong, keriangan dan semangat persaudaraan diperlukan dalam pembuatannya. Maka tak heran masyarakat Betawi begitu menganggap pembuatan dodol Betawi merupakan kerja tim dan bertujuan mempererat tali persaudaraan.

Dodol Betawi bisa dinikmati dari berbagai kalangan, tanpa memandang usia dan status sosial karena harganya terjangkau dengan tekstur makanan yang kenyal nan lembut. Untuk melestarikan produk-produk tradisional yang menjadi kekhasan dari berbagai wilayah di Indonesia, salah satunya adalah dodol Betawi ini, orang tua bisa mengenalkan panganan ini sejak dini kepada anak-anaknya. 

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak