Ulasan

Ulasan Film Animasi 'Elemental', Kisah Cinta Unik dari Dua Elemen Berbeda

Ulasan Film Animasi 'Elemental', Kisah Cinta Unik dari Dua Elemen Berbeda
Elemental (IMDb)

Salah satu film animasi terbaru yang tengah menjadi sorotan adalah Elemental, yang disutradarai oleh Peter Sohn. Nama Peter Sohn mungkin sudah tidak asing lagi, terutama setelah keberhasilannya dalam menggarap The Good Dinosaur pada tahun 2015. 

Elemental menandai film animasi panjang ke-27 yang diproduksi oleh Pixar Studios, sejak perilisan Toy Story tiga dekade lalu. 

Dengan bujet sebesar USD 200 juta, film ini menghadirkan suara dari bintang-bintang seperti Leah Lewis, Mamoudou Athie, Ronnie del Carmen, Shila Ommi, Wendi McLendon-Covey, dan Catherine O'Hara. 

Mengingat tren film Pixar yang belum kembali sukses secara komersial sejak awal pandemi, apakah Elemental mampu mengembalikan pamor studio besar ini?

Sinopsis Elemental

Elemental City adalah kota metropolitan yang dihuni oleh warga dari berbagai elemen: air, awan, api, dan kayu (earth). Orang tua Ember (disuarakan oleh Leah Lewis) adalah imigran dari tanah api yang telah tinggal di kota ini selama belasan tahun dan memiliki toko roti bernama Fireplace.

Ayah Ember, Bernie (disuarakan oleh Ronnie del Carmen), berharap putrinya kelak dapat menggantikan dirinya mengelola toko tersebut. 

Suatu ketika, seorang pengawas muda saluran air bernama Wade (disuarakan oleh Mamoudou Athie) secara tidak sengaja jatuh ke rumah Ember. Wade kemudian menemukan bahwa instalasi toko sudah tidak lagi layak dan harus ditutup. 

Ember berusaha mencegah penutupan tokonya hingga petugas dewan kota bernama Gale memberi mereka kesempatan untuk menyelidiki sumber kebocoran air di kota. 

Selama investigasi, kedua elemen yang bertolak belakang ini justru mulai saling menyukai.

Ulasan Elemental

Tema roman dan keluarga dari elemen (ras) yang berbeda dalam Elemental sebenarnya sudah cukup familiar dalam dunia film. Kisah cinta antara Ember dan Wade dituturkan dengan manis. 

Namun, masalah utama bukan pada naskahnya, melainkan pada visualisasi karakternya. Sosok-sosok unik berwujud elemen-elemen ini terasa sulit untuk diresapi oleh penonton. Ada jarak antara karakter dan penonton yang membuat wujud mereka tampak aneh. 

Walaupun kita tahu ini semua hanya metafora, namun berbeda dengan Inside Out di mana karakter-karakternya adalah wujud emosi dari manusia, relasi dengan manusia terasa lebih kuat.

Meskipun naskahnya tidak buruk, sebagai film Pixar, saya berharap lebih ada kedalaman dalam kisahnya. Ternyata, yang kita lihat hanyalah metafora secara eksplisit. Elemen-elemen ini adalah simbol ras yang berbeda untuk menyajikan tema keberagaman. 

Banyak hal bisa digali lebih dalam. Apa sebenarnya makna di balik warna api yang berbeda? Mengapa Ember bisa berubah menjadi ungu dan mengapa biru merupakan simbol tradisi? 

Lalu, Bunga Vivisteria, yang disebut sebagai bunga yang mampu hidup di segala elemen, mengapa ini tidak digunakan secara subtil sebagai pendukung utama cerita? Bukankah poin ceritanya adalah ini.

Elemental menyajikan kisah roman antar-ras yang menggemaskan, tetapi kemasan visualnya yang tidak biasa membuat penonton sulit berempati dengan karakternya. 

Dari sisi teknis, tentu tidak banyak komentar karena standar visual film produksi Pixar memang sangat tinggi. 

Ilustrasi musik bernuansa Asia Selatan (India) juga memberikan sentuhan unik, walaupun relasinya dengan budaya tersebut tidak begitu terlihat. 

Sebagai penutup, Pixar Studios tampaknya kehilangan sentuhan kedalaman naskahnya, seperti yang terlihat dalam seri Toy Story, Up, Inside Out, Coco, hingga Turning Red. 

Kita tunggu bagaimana Elemental bersaing dengan para pesaingnya dalam ajang Academy Awards tahun depan, film animasi Pixar Studios selalu mendominasi.

Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda