Ulasan

Unfinished Fate: Ketika Cinta Tak Sempat Dikenal tapi Harus Dijalani

Unfinished Fate: Ketika Cinta Tak Sempat Dikenal tapi Harus Dijalani
Novel Unfinished Fate (DocPribadi/Miranda)

Pernahkah kamu membayangkan harus menikah dengan orang asing, jauh lebih tua, punya dua anak, dan kamu bahkan belum selesai mengenali dirimu sendiri?

Itulah yang dialami Marsha dalam novel Unfinished Fate karya Liarasati. Di usia 20 tahun, ketika banyak orang baru mulai merancang masa depan, Marsha justru dipaksa menikah dengan Ibnu Anggoro—seorang duda 38 tahun, ayah dua anak, yang tidak pernah ia kenal, apalagi cintai.

Sebagai pembaca, aku langsung terhanyut oleh ironi ini. Pernikahan Marsha dan Ibnu bukan pertemuan dua hati yang saling mencinta, melainkan kompromi yang dipaksakan oleh orang tua. Tapi justru dari situlah cerita ini tumbuh. Liarasati membawa kita menyelami sisi-sisi terdalam dari dua tokoh yang saling asing tapi dipaksa saling menerima.

Pernikahan Bukan Akhir Bahagia, Tapi Awal dari Kekacauan

Yang membuatku jatuh cinta pada novel ini adalah realitas yang dihadirkannya. Tidak ada ilusi. Pernikahan tidak otomatis menyatukan dua insan. Yang ada justru kebingungan, canggung, konflik, bahkan keinginan untuk lari.

Marsha, yang masih remaja dalam banyak aspek, harus mendadak menjadi istri dan ibu sambung. Sementara Ibnu, yang terlihat tenang dan dewasa, ternyata menyimpan trauma masa lalu yang membuatnya sulit mengekspresikan kasih sayang. Mereka berdua seperti berjalan di dua rel yang berbeda, dan tidak tahu bagaimana caranya bertemu di tengah.

Sebagai pembaca, aku berkali-kali merasa gemas. Marsha yang keras kepala dan mudah tersinggung. Ibnu yang dingin dan diam, padahal sebenarnya peduli. Tapi di sinilah kekuatan novel ini: karakternya manusiawi. Penuh salah paham, gengsi, dan luka yang belum selesai.

Sudut Pandang Ganda: Cara Jitu Membuat Pembaca Berpihak Pada Keduanya

Salah satu teknik yang sangat aku apresiasi adalah penggunaan dua sudut pandang. Di awal cerita, kita melihat semua dari kacamata Marsha. Kita merasa dia korban. Tapi ketika cerita bergeser dan kita memasuki isi kepala Ibnu, semuanya menjadi lebih kompleks. Ternyata, setiap sikap dingin dan diamnya punya alasan.

Dari sini aku belajar satu hal penting: tidak semua masalah bisa dilihat dari satu sisi. Kadang kita terlalu cepat menilai, tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang diperjuangkan seseorang dalam diamnya.

Typo dan Alur yang Lambat, Tapi Emosinya Kuat

Jujur saja, ada beberapa bagian yang membuatku lelah. Alurnya kadang terasa lambat, konfliknya berputar-putar, dan beberapa dialog agak repetitif. Beberapa typo juga muncul. Tapi anehnya, aku tetap lanjut membaca—karena emosinya terlalu kuat untuk dilewatkan.

Liarasati menulis dengan empati. Setiap pertengkaran, setiap renungan batin, terasa sangat nyata. Aku merasa seperti ikut berada di tengah rumah itu, menyaksikan dua orang yang sama-sama terluka, mencoba saling menyembuhkan tanpa tahu caranya.

Kesimpulan: Cinta Bisa Hadir di Tengah Keterpaksaan

Unfinished Fate bukan novel cinta yang manis. Tapi justru di situlah keindahannya. Ia bicara tentang cinta yang tumbuh tidak dari romansa, tapi dari kesabaran, kejujuran, dan kesediaan untuk saling memahami.

Bagiku, ini adalah novel yang menyentuh hati karena terasa dekat dengan realitas banyak orang. Tentang pernikahan yang tidak ideal, tentang luka yang dibawa dari masa lalu, dan tentang harapan yang tetap menyala meski kecil.

Dan mungkin itulah makna dari judulnya: takdir mereka belum selesai—karena dalam kehidupan nyata, cinta pun seringkali tak pernah benar-benar selesai. Ia hanya terus diuji, dibentuk, dan diperjuangkan.

Kalau kamu sedang mencari bacaan yang tidak hanya menghibur, tapi juga mengajakmu merenung tentang makna hubungan, Unfinished Fate layak kamu baca.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda