Membaca novel Dua Dini Hari yang ditulis oleh Chandra Bientang bagi saya bukan semata-mata untuk menikmati cerita misteri yang biasa. Buku ini seperti pukulan keras yang menyentuh sisi kemanusiaan kita. Chandra Bientang tidak hanya mengundang kita untuk menyelesaikan teka-teki pembunuhan, tetapi juga mengajak kita untuk merenungkan hal-hal yang sering kita lupakan: Siapa yang peduli dengan anak jalanan? Kehidupan mereka saja diabaikan, apalagi kematian mereka.
Penyelidikan di Balik Gang Sempit Jatinegara
Cerita ini menceritakan tentang Elang, seorang pemuda yang berani mencari tahu tentang kematian anak-anak jalanan di area Jatinegara. Menariknya, Elang bukanlah seorang polisi; dia hanya anak dari seorang polisi yang bahkan belum menyelesaikan pendidikan di Akpol.
Selama perjalanannya, Elang bertemu dengan Kanti, seorang illustrator freelance yang sedang mengambil cuti dari kuliahnya. Mereka bertemu di kantor polisi ketika Kanti melaporkan ancaman yang ia alami. Ternyata, Kanti secara tidak sengaja melihat sesuatu dari kamarnya yang tidak seharusnya ia lihat.
Sejak saat itu, mereka terus menerus diteror. Saya juga merasakan ketegangan saat membacanya; seolah diingatkan bahwa kematian bisa menimpa siapa saja, dan orang yang tak terduga pun bisa menjadi pelaku kejahatan.
Konspirasi "Rakyat Jelata" dan Aparat
Agak sulit untuk membahas novel ini tanpa mengungkapkan beberapa bagian penting, tetapi ada satu elemen yang sangat mengesankan saya: cara penulis menampilkan kolaborasi kejahatan yang begitu profesional.
Bayangkan saja, pemilik dari toko roti, pedagang di toko kelontong, hingga penyedia layanan untuk "menghilangkan orang-orang" dapat saling membantu dalam menciptakan kejahatan yang terorganisir bersama pihak berwenang. Chandra Bientang berhasil menyoroti sisi gelap Jatinegara—gang sempit, malam yang menakutkan, dan rasa aman yang ternyata hanyalah sebuah ilusi.
Ada satu kalimat pada halaman 223 yang membuat saya terkesan: “Hanya ada satu hukuman untuk para pendosa. Selamanya, mereka harus berbuat dosa. ”
Pernyataan ini bukan hanya sekedar kutipan yang menarik. Ini memberikan gambaran pahit tentang nasib karakter yang terjebak dalam siklus setan tanpa akhir. Penasaran mengapa kalimat ini diungkapkan? Kamu harus membaca bukunya sendiri!
Ending yang "Nyesek" dan Sulit Diungkapkan
Mendekati akhir, saya merasakan perasaan berada di batas antara dunia nyata dan imajinasi. Bagi saya, akhir cerita ini sangat menyedihkan untuk Kanti dan Elang. Penulis menyelesaikan narasi ini dengan cara yang tak terduga, meninggalkan teka-teki yang tampaknya tidak pernah sepenuhnya terjawab.
Dari segi teknik, ritmenya sangat baik—tidak lambat, tetapi juga tidak tergesa-gesa. Penulis paham kapan saat yang tepat untuk memberikan kejutan dan kapan harus menahannya.
Lebih dari Sekadar Thriller
Memiliki premis yang menarik, alur yang hebat, dan konflik yang saling terkait, saya merasa novel ini akan sangat menarik jika diadaptasi menjadi film.
Karena ini tidak hanya tentang tindakan kekerasan, tetapi juga menyentuh isu sosial, politik, kemanusiaan, dan kekuasaan.
Setelah menuntaskan buku ini, kata "keadilan" terasa sangat asing dan sekaligus familiar dalam waktu yang bersamaan. Keadilan malah semakin samar di mata saya. Sebenarnya, apa sih yang dimaksud dengan adil?