Eksplorasi Museum Wayang Jakarta: Perpaduan Sejarah Klasik dan Teknologi Hologram

M. Reza Sulaiman | Daffa Binapraja
Eksplorasi Museum Wayang Jakarta: Perpaduan Sejarah Klasik dan Teknologi Hologram
Museum Wayang Jakarta (Dok. Pribadi/Daffa Binapraja)

Sekitar November 2025 lalu, saya sempat berkunjung ke Museum Wayang yang terletak di dekat Kota Tua, tepatnya di Jalan Pintu Besar Utara No. 27-29, Pinangsia, Tamansari, Jakarta Barat.

Museum Wayang ini merupakan bagian dari kawasan Kota Tua Jakarta, persis di tengah-tengah kompleks Taman Fatahillah. Bersebelahan dengan museum-museum lain seperti Museum Sejarah Jakarta serta Museum Seni Rupa dan Keramik, papan nama Museum Wayang yang berwarna biru terlihat sangat jelas.

Begitu masuk ke dalam, saya tidak menyangka harga tiketnya sangat terjangkau. Hanya dengan Rp5.000, saya bisa mengeksplorasi gedung dua lantai ini untuk mempelajari sejarah perwayangan serta melihat berbagai koleksi wayang.

Di lantai satu, saya disambut oleh sepasang figur wayang besar bernama Gatotkaca dan Pergiwa. Di tengahnya, terdapat figur burung emas yang dinamai Blencong. Awalnya, saya mengira Blencong adalah nama salah satu tokoh wayang. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, Blencong ternyata merupakan alat penerangan untuk pertunjukan wayang kulit zaman dahulu.

Selain mempelajari ragam koleksi, pengunjung juga disuguhi informasi mengenai sejarah gedung museum itu sendiri. Tahukah Anda bahwa Museum Wayang ini ternyata dulunya adalah sebuah gereja? Dikutip dari situs resmi Museum Wayang Jakarta, gedung ini awalnya merupakan Gereja Lama Belanda (Oude Hollandsche Kerk) pada tahun 1640, sebelum direnovasi pada tahun 1732 menjadi Gereja Baru Belanda (Nieuwe Hollandsche Kerk).

Kemudian, pada tahun 1912, gedung ini dirombak menjadi gudang sebelum akhirnya difungsikan sebagai museum.

Setelah puas membaca sejarah museum melalui kumpulan foto dan teks yang informatif (walaupun pencahayaan lampu di dekat area foto membuat pengambilan gambar sedikit sulit), saya melihat-lihat beragam tokoh wayang. Di sana terdapat Ramawijaya, Rahwana, Duryudana, pasangan Rama dan Sinta, Anoman, hingga Bima dalam lakon Dewa Ruci.

Bagi Anda yang tertarik dengan koleksi wayang golek, di lantai satu ini juga tersedia Wayang Golek Pakuan Bogor, Cepak Cirebon, Menak Kebumen, dan Menak Pekalongan. Bahkan, koleksi wayang tokoh Si Pitung lengkap dengan kompeni Belanda pun tersedia di sini.

Kejutan sesungguhnya ada di lantai dua. Ternyata, Museum Wayang tidak hanya memamerkan wayang asal Indonesia. Di sana terdapat berbagai variasi wayang lokal dan boneka kayu dari luar negeri. Koleksinya meliputi wayang Malaysia, boneka kayu Thailand, boneka kuda kayu India, hingga boneka Rusia (Matryoshka).

Ada pula beberapa boneka ikonik seperti boneka Guignol dari Prancis, Punch and Judy dari Inggris, Wayang Potehi asal Tiongkok, hingga koleksi legendaris lokal, Si Unyil.

Museum Wayang ini juga sudah mengadopsi teknologi canggih. Terdapat komputer yang memberikan informasi serta mengeluarkan suara alat musik wayang berdasarkan peralatan yang dipamerkan di depannya. Tidak lupa, terdapat hologram karakter wayang yang ditampilkan melalui kipas LED berputar kencang sebagai media informasi tambahan bagi pengunjung.

Selesai berkunjung, Anda bisa membeli suvenir, air minum, atau es krim di pintu keluar. Namun, pastikan Anda menyiapkan uang tunai kertas, ya, karena transaksi di pintu keluar ini belum bisa menggunakan uang receh logam maupun pembayaran digital tertentu.

Jika Anda tidak membawa uang tunai untuk membeli makanan atau minuman, jangan khawatir. Terdapat banyak kantin dan tempat makan di sekitar museum, terutama di Kantor Pos Kota Tua dan Café Batavia.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak