Dunia remaja sering kali digambarkan sebagai fase pencarian jati diri yang penuh warna, tawa, dan romansa manis di balik seragam sekolah.Namun, kenyataannya tidak selalu indah. Di koridor sekolah, sering kali ada persaingan kekuasaan dan ego yang melukai murid-murid lemah. Fenomena inilah yang ditangkap sangat apik oleh Yohananic_ dalam novelnya yang berjudul Prince. Novel ini adalah sebuah cermin tentang bagaimana harga diri, luka, dan empati bertarung dalam sebuah proses pendewasaan yang rumit.
Novel ini tidak dibuka dengan adegan manis atau pertemuan romantis yang membosankan. Sebaliknya, pembaca langsung dihadapkan pada sosok Prince Liam Hussein, sang "pangeran" sekolah yang memiliki watak angkuh dan tak segan menginjak perasaan orang lain demi egonya.
Kehidupan Sheila Antariksa, seorang gadis yang hanya ingin menjalani masa SMA dengan tenang, tiba-tiba berubah menjadi "neraka" duniawi hanya karena sebuah insiden sepele. Tali sepatunya lepas, ia berusaha mengambilnya, namun malang bagi Liam, ia tersandung sepatu tersebut dan jatuh secara memalukan di depan murid lainnya.
Bagi Liam yang sangat memuja citra diri, kejadian itu adalah penghinaan besar. Sebagai bentuk balas dendam yang konyol, ia memaksa Sheila menjadi kekasihnya—bukan karena cinta, melainkan untuk menindas dan menjadikan Sheila sebagai "mainan" di bawah kendalinya. Di sinilah Yohananic_ mulai merajut konflik emosional yang mendalam.
Penulis mengajak pembaca merenungkan kembali: bagaimana rasanya ketika martabat seorang manusia hanya dianggap sebagai alat pemuas ego bagi mereka yang memiliki kuasa? Sheila menjadi gambaran nyata dari banyak orang yang terjebak dalam situasi intimidasi namun dipaksa untuk bertahan.
Novel setebal 312 halaman ini tampil memikat berkat cara penulis mengolah karakter yang sangat bertentangan. Liam Hussein menjadi cermin bahwa keuntungan berupa ketampanan dan kekayaan dapat menjadi senjata berbahaya jika tanpa empati. Meski bergelimang materi, ia sebenarnya sosok yang miskin rasa hormat terhadap sesama. Penulis dengan berani menghadirkan tokoh utama pria yang pada awalnya sangat sulit untuk disukai, sebuah langkah berani untuk membangun busur karakter yang kuat.
Namun, seiring berjalannya halaman, kita diajak melihat pergeseran yang halus namun bermakna. Sheila, dengan segala kerapuhan, air mata, namun juga keberaniannya untuk tetap bersuara, menjadi pemicu utama bagi perubahan karakter Liam. Hubungan yang awalnya penuh tekanan perlahan mulai menanggalkan jubah keangkuhan. Melalui interaksi mereka, penulis berhasil menunjukkan bahwa proses untuk "menjadi manusia seutuhnya" sering kali membutuhkan kehadiran orang lain yang berani menegur ego kita.
Salah satu daya tarik utama yang membuat novel ini sulit untuk diletakkan adalah dinamika hubungan antartokohnya yang terasa sangat "hidup". Transformasi rasa benci menjadi cinta, dibangun dengan porsi yang pas; tidak terburu-buru dan tidak dipaksakan secara instan. Pembaca bisa merasakan transisi emosi yang menggemaskan sekaligus menyesakkan. Dinamika ini didukung oleh dialog-dialog segar dan memiliki getaran emosi yang dalam.
Novel ini menyelipkan kritik tajam tentang kasta di sekolah, mempertanyakan mengapa status sosial bisa membuat seseorang merasa berhak menguasai orang lain. Pesannya jelas: jangan gunakan kekuasaan untuk menjatuhkan derajat sesama.
Melalui Sheila, kita belajar untuk bijak bertindak dan berani menyuarakan kebenaran. Didukung kehadiran sahabat Liam sebagai penyeimbang ego, cerita ini membuktikan bahwa pertemanan yang jujur mampu mengembalikan sisi kemanusiaan yang sempat hilang.
Tentu saja, novel terbitan Coconut Books ini tidak lepas dari catatan kecil. Sebagai cerita remaja, novel ini menggunakan tema yang sudah umum, yaitu hubungan antara murid populer yang nakal dan gadis biasa.
Bagi yang mencari alur cerita yang benar-benar baru, ceritanya mungkin terasa mudah ditebak. Namun, kekurangan itu tertutupi oleh perkembangan karakter dan emosi yang sangat kuat di setiap bab. Hubungan antartokoh yang menarik inilah yang membuat pembaca tidak bosan dan ingin terus membaca sampai selesai.
Pada akhirnya, Prince bukan sekadar cerita cinta SMA biasa. Novel ini mengingatkan kita bahwa kekuasaan tidak boleh dipakai untuk merendahkan orang lain. Kita belajar bahwa cinta sejati tidak akan tumbuh dari paksaan, melainkan dari rasa saling menghargai. Jika kamu mendambakan kisah remaja yang mampu mengaduk emosi sekaligus memberikan pandangan baru tentang pendewasaan, novel ini adalah kawan membaca yang tepat.
Identitas Buku
Judul: Prince
Penulis: Yohananic_
Penerbit: Coconut Books
Tahun Terbit: 2021
Jumlah Halaman: 312 halaman
ISBN: 978-623-6456-20-0