Ulasan
Cinta Suci Nadia: Saat Kesalehan Diuji oleh Masa Lalu yang Kelam
Romansa religi populer kini menjadi salah satu jenis novel dengan pembaca terbanyak di Wattpad. Biasanya kisahnya memadukan unsur lelaki berandal, tampan, dan kaya raya dengan gadis salehah yang sederhana serta polos. Novel Cinta Suci Nadia karya Rachma Fadil termasuk dalam genre tersebut. Saya membacanya setelah novel ini terbit dalam bentuk buku, yang mengangkat kisah nyata seorang dokter—meskipun namanya disamarkan.
Sinopsis
Cerita diawali dengan cinta pada pandangan pertama dari Daniel Marcellino Assegaf, putra pemilik rumah sakit Indonesia General Hospital, kepada dokter cantik bernama Nadia Zulaikha Wiratmaja. Daniel bukanlah laki-laki suci tanpa noda, tetapi ia menginginkan hubungan serius dengan seorang perempuan baik-baik untuk dijadikan istri sekaligus ibu bagi anak-anaknya kelak.
Nadia sendiri baru saja dipatahkan hatinya oleh Fathir. Ia bahkan sempat menangis diam-diam ketika Daniel menemukannya. Bantuan dan hiburan dari Daniel pun sempat ia tepis. Nadia sama sekali tidak terpesona oleh sosok Daniel, yang sebenarnya sangat populer di rumah sakit maupun di luar lingkungan kerjanya. Daniel dikenal sebagai pria tampan yang telah menyelesaikan pendidikan S2 di Cambridge dan dikelilingi banyak perempuan.
Jika selama ini Daniel bisa mendapatkan perempuan dengan mudah, hal itu tidak berlaku bagi Nadia. Dokter Nadia menolak secara halus ajakan Daniel untuk berpacaran. Akhirnya Daniel harus belajar memahami cara ta’aruf yang benar.
Rencananya sedikit berhasil. Setidaknya orang tua mereka saling bersahabat sehingga bisa mempertemukan keduanya. Nadia memang belum sepenuhnya membuka hati untuk siapa pun, tetapi lamaran Daniel tidak langsung ditolak. Ia meminta agar hubungan mereka dilakukan melalui proses ta’aruf.
Namun, ketika hati Nadia mulai sedikit terbuka, Fathir—mantan kekasih yang dahulu meninggalkannya demi menikahi Hafizah yang salehah—datang kembali dan kembali mengacaukan keadaan. Fathir datang karena istrinya telah meninggal dunia.
Melalui perantara Om Hasan, masa lalu Daniel perlahan terungkap. Sejak SMP ia sudah mengenal rokok dan alkohol, bahkan mulai melakukan hubungan bebas sejak SMA. Tidak ada masa lalu yang ia tutupi, sekalipun hal itu membuat Nadia goyah. Nadia yang selama ini menjaga kesucian dirinya dan selalu berdoa mendapatkan pasangan yang baik mulai bertanya-tanya mengapa ia dipertemukan dengan pria seperti Daniel.
Ibunya menasihatinya bahwa sikap tersebut bisa saja termasuk kesombongan—meremehkan orang yang ingin bertaubat. Tidak ada yang tahu masa depan seseorang. Orang yang kini terlihat suci bisa saja tergelincir, dan orang yang dahulu penuh dosa bisa berubah menjadi lebih baik.
Kedatangan Fathir membuat hubungan Nadia dan Daniel semakin memburuk. Daniel hampir mengalami depresi hingga melukai dirinya sendiri. Namun, keadaan itu justru membuat Daniel berusaha memperbaiki diri. Ia mulai belajar mengaji kepada Abah, mempelajari akidah, fikih, serta berbagai dasar agama yang sebelumnya tidak pernah ia pahami.
Masalah terbesar muncul ketika Fathir memberikan catatan harian milik Aira, saudarinya yang telah meninggal dunia saat mengambil beasiswa di Amerika. Dari halaman demi halaman catatan tersebut terungkap bahwa Daniel pernah merusak masa depan Aira. Semua cita-cita dan harapan Aira hancur, bahkan ia sempat memiliki anak di luar nikah yang kemudian dititipkan di panti asuhan sebelum akhirnya meninggal.
Anak itu bernama Ella. Keberadaan Ella membuat hati Nadia semakin perih, terlebih ketika keluarga Daniel menolak anak tersebut karena dianggap anak haram. Padahal anak sekecil itu tentu tidak menanggung dosa orang tuanya.
Keteguhan Nadia akhirnya mempertemukan Daniel dengan Ella. Bagaimanapun juga, Daniel adalah ayah kandungnya. Tentu saja hal ini membuat Daniel marah dan bingung, karena selama menjalin hubungan dengan Aira ia selalu menggunakan pengaman. Ia akhirnya menganggap hal ini sebagai teguran dari Allah.
Permintaan Nadia hanya satu: Daniel harus bertanggung jawab dan merawat Ella dengan baik. Sementara itu, Nadia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan kedokterannya ke luar negeri. Ia juga mengucapkan terima kasih atas keberanian Daniel mengungkapkan perasaannya serta kejujurannya kepada kedua orang tua Nadia.
Perpisahan mereka terasa berat, terutama bagi Ella yang telah memanggil Nadia dengan sebutan mama. Namun penulis memberikan akhir cerita yang cukup bahagia: mereka dipertemukan kembali ketika semuanya sudah siap—saling menerima satu sama lain, termasuk kehadiran Ella.
Kelebihan Cerita
Penulis cukup menjaga batasan hubungan antara laki-laki dan perempuan, terutama dengan menyoroti bahaya pergaulan bebas dan pacaran yang dapat merusak masa depan. Pesan ini bisa menjadi pelajaran bagi generasi muda yang gemar membaca novel.
Pembagian konflik dan penyelesaiannya juga cukup seimbang. Alur cerita tidak selalu berjalan mulus, sehingga membuat konflik terasa lebih hidup. Selain itu, tokoh-tokohnya tidak digambarkan terlalu sempurna; mereka tetap memiliki kekurangan sebagaimana manusia pada umumnya.
Kekurangan Cerita
Penggambaran latar, baik dari segi suasana, aroma, maupun visual, masih terasa kurang kuat. Misalnya dalam dunia kedokteran yang seharusnya penuh dengan aktivitas medis, alat-alat kesehatan, atau bahkan nama obat-obatan, hal tersebut hampir tidak digambarkan secara detail.
Selain itu, latar tempat seperti Jerman, Jakarta, maupun Amerika juga belum terasa hidup dalam deskripsi cerita.
Penulis juga memasukkan unsur ajaran tertentu seperti anjuran memakai celana cingkrang atau memotong celana di atas mata kaki sebagai perintah Nabi. Menurut saya, bagian ini agak terasa janggal karena pendapat tersebut masih memiliki banyak perbedaan pandangan di kalangan ulama.
Identitas Buku
Judul: Cinta Suci Nadia
Penulis: Rachma Fadil
Penerbit: Araska Publisher
Tahun Terbit: 2025
ISBN: 978-623-7537-68