Review Film AIU-EO Macam Betool Aja: Komedi Romantis Khas Medan yang Penuh Tawa

M. Reza Sulaiman | Ryan Farizzal
Review Film AIU-EO Macam Betool Aja: Komedi Romantis Khas Medan yang Penuh Tawa
Poster film AIU-EO Macam Betool Aja (Instagram/film.macambetoolaja)

Film komedi romantis Indonesia berjudul AIU-EO Macam Betool Aja (atau AIUEO Macam Betool Aja) resmi tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 12 Februari 2026. Disutradarai oleh Etiene Caesar dan diproduksi oleh TCK Entertainment bersama produser seperti Cing Kyatt, Michel Khatwani, serta Teezar Sjamsuddin, film berdurasi sekitar 121 menit ini langsung menyedot perhatian karena nuansa Medan yang kental.

Film ini dibintangi Lolox sebagai Alung, Oki Rengga sebagai Ujay, Andri Mashadi sebagai Igor, Michelle Ziudith sebagai Sofia, dan Adi Sudirja sebagai Udin, serta didukung pemain pendukung seperti Mathias Muchus, Nela Regar, Rina Sidabutar, Wak Limpol, Karyn Putri, dan lainnya. Film ini mengusung genre komedi romantis dengan sentuhan drama ringan yang relatable bagi anak muda.

Sinopsis: Tiga Sahabat Merintis Usaha EO di Ruko Pasar

Tangkapan layar salah satu adegan di film AIU-EO Macam Betool Aja (Instagram/film.macambetoolaja)
Tangkapan layar salah satu adegan di film AIU-EO Macam Betool Aja (Instagram/film.macambetoolaja)

Film ini mengisahkan Alung, Igor, dan Ujay, tiga sahabat karib asal Medan yang lelah menjadi tim event organizer (EO) freelance. Mereka memutuskan mendirikan usaha sendiri bernama AIU-EO yang berbasis di sebuah ruko sederhana dekat pasar. Awalnya, proyek-proyek mereka penuh kejutan dan kadang absurd.

Akan tetapi, kesempatan besar datang ketika seorang pengusaha kaya raya, Udin, memercayakan mereka mengurus pernikahan mewahnya. Di sinilah kekacauan dimulai. Calon pengantin perempuan, Sofia, ternyata adalah teman lama Igor semasa SMP. Pernikahan itu adalah perjodohan paksa, dan Sofia meminta bantuan untuk menggagalkannya dari dalam. Konflik pun muncul antara loyalitas bisnis, persahabatan, hati nurani, dan perasaan yang mulai tumbuh.

Hal yang membuat film ini istimewa adalah penggunaan logat Medan secara dominan. Dialog-dialognya natural, penuh slang khas seperti "macam betool aja" yang menjadi judul—ungkapan Medan yang santai, ekspresif, dan sering lucu. Sutradara Etiene Caesar berhasil menangkap gestur, intonasi, dan kultur Medan dengan sangat autentik. Jika Anda menonton, bisa jadi Anda merasa seperti sedang mengobrol di warung kopi Medan atau pasar tradisional. Film ini tidak hanya menghadirkan komedi, tetapi juga merayakan keberagaman budaya di Sumatera Utara: ada elemen Melayu, Batak, Tionghoa, dan India yang hadir secara organik melalui karakter dan latar. Hal ini jarang terjadi di film Indonesia mainstream yang biasanya lebih Jakarta-sentris.

Review Film AIU-EO Macam Betool Aja

Tangkapan layar salah satu adegan di film AIU-EO Macam Betool Aja (Instagram/film.macambetoolaja)
Tangkapan layar salah satu adegan di film AIU-EO Macam Betool Aja (Instagram/film.macambetoolaja)

Kekuatan utamanya terletak pada komedi situasional yang mengalir alami. Bukan humor slapstick murahan atau lelucon dangkal, melainkan kekocakan yang muncul dari karakter dan konflik sehari-hari. Persiapan pernikahan mewah yang kacau-balau, interaksi antar-sahabat yang penuh candaan sarkastik, serta dilema moral antara profesionalisme EO versus menolong teman menjadi sumber tawa yang konsisten. Jujur saja, saya sering tertawa terbahak-bahak hingga tidak bisa berhenti.

Porsi dramanya juga pas—tidak bertele-tele, tetapi cukup menyentuh soal persahabatan, tekanan orang tua, perjuangan anak muda membangun karier kreatif, dan pilihan cinta yang rumit. Tema hati nurani versus uang disajikan ringan tetapi tetap memiliki pesan.

Akting para pemain menjadi pilar utama kesuksesan film ini. Lolox sebagai Alung yang ambisius dan agak kepala batu memberikan komedi fisik yang pas. Oki Rengga sebagai Ujay yang lebih kalem tetapi punya timing humor tajam terasa segar. Andri Mashadi sebagai Igor berhasil membawa sisi emosional dan romantis tanpa berlebihan. Chemistry ketiga sahabat ini sangat kuat—mereka terlihat seperti teman sungguhan.

Michelle Ziudith sebagai Sofia tampil memukau; ia membawa karakter perempuan Medan yang tegas, cerdas, dan punya sisi vulnerable yang relate. Adi Sudirja sebagai Udin juga mencuri perhatian dengan peran yang awalnya glamor tetapi perlahan mengungkap lapisan lain. Pemain pendukung seperti Wak Limpol dan lainnya menambah warna dengan cameo atau peran kecil yang ikonik.

Secara teknis, sinematografi menangkap keindahan Medan dengan baik—dari lokasi ikonik hingga suasana ruko kumuh yang kontras dengan pesta mewah. Penyuntingannya cepat dan dinamis sesuai genre komedi. Musik dan lagu latar mendukung suasana tanpa mengganggu. Durasi 121 menit terasa pas; tidak ada bagian yang terlalu membosankan. Kekurangan kecil mungkin pada plot yang cukup bisa ditebak bagi penonton berpengalaman genre komedi romantis. Beberapa konflik diselesaikan agak cepat dan ada sedikit klise. Akan tetapi, hal ini tidak mengurangi hiburan secara keseluruhan karena kekuatan eksekusi dan chemistry aktor yang kuat. Film ini bukan pretensius ingin menjadi masterpiece, tetapi sukses sebagai hiburan ringan yang berkualitas dan penuh identitas lokal.

AIU-EO Macam Betool Aja adalah bukti bahwa perfilman Indonesia bisa berkembang dengan cerita daerah yang kuat. Film ini relatable bagi siapa saja yang pernah merintis usaha kecil, menjaga persahabatan di tengah godaan, atau menghadapi perjodohan dan tekanan keluarga. Bagi warga Medan dan Sumatera Utara, ini seperti homecoming yang membanggakan. Bagi penonton luar, ini adalah kesempatan belajar budaya dan logat Medan sambil tertawa lepas.

Secara keseluruhan, saya memberi rating 8/10. Film ini berhasil mengocok perut, menghangatkan hati, dan meninggalkan senyum setelah keluar bioskop. Cocok ditonton bersama teman atau pasangan, terutama di akhir pekan. Jangan lewatkan promo-promo bioskop seperti di XXI yang sedang ramai. Jika Anda suka film seperti Hangout, Cek Toko Sebelah, atau komedi lokal lain yang punya jiwa, AIU-EO Macam Betool Aja adalah pilihan tepat tahun ini.

Film ini bukan hanya hiburan, melainkan juga representasi bahwa cerita dari daerah bisa bersaing di tingkat nasional. Tayang mulai 12 Februari 2026—segera beli tiket sebelum habis, apalagi di bioskop Medan yang pasti ramai! Sangat saya rekomendasikan untuk ditonton di bioskop untuk pengalaman maksimal. Selamat menonton, Sobat Yoursay!

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak