Ulasan

Ulasan Film Close: Cerita Humanis yang Menyentuh Isu Kesehatan Mental Anak

Ulasan Film Close: Cerita Humanis yang Menyentuh Isu Kesehatan Mental Anak
Poster film Close (IMDb)

Close adalah film drama Belgia yang disutradarai oleh Lukas Dhont, dirilis secara internasional pada tahun 2022 setelah tayang perdana di Festival Film Cannes. Film ini memenangkan Grand Prix di Cannes dan meraih nominasi Oscar untuk Film Internasional Terbaik.

Dengan durasi sekitar 104 menit, Close menyajikan narasi yang mendalam tentang persahabatan masa remaja, tekanan sosial, maskulinitas toksik, serta dampak tragis dari bullying dan kesalahpahaman. Melalui sinematografi yang lembut dan akting natural para pemeran muda, film ini berhasil menyentuh emosiku sebagai penonton dengan cara yang halus namun kuat.

Kisah Léo dan Rémi yang Penuh Kelembutan dan Tragedi

Salah satu adegan di film Close (IMDb)
Salah satu adegan di film Close (IMDb)

Cerita berfokus pada dua remaja berusia 13 tahun, Léo (Eden Dambrine) dan Rémi (Gustav De Waele), yang bersahabat sangat erat di pedesaan Belgia. Mereka menghabiskan hari-hari dengan bermain, bersepeda, berlari di antara ladang bunga, dan tidur bersama. Hubungan mereka digambarkan sebagai ikatan yang murni dan tak terpisahkan, hampir seperti saudara kandung. Orang tua Rémi bahkan menyambut Léo sebagai anak kedua.

Akan tetapi, segalanya berubah ketika mereka memasuki sekolah menengah baru. Teman-teman sekelas mulai mengomentari kedekatan fisik dan emosional mereka dengan nada ejekan, menuduh mereka sebagai pasangan gay. Meski Rémi tampak lebih tenang menghadapi hal tersebut, Léo merasa terganggu dan mulai menjaga jarak demi menyesuaikan diri dengan norma maskulinitas yang diharapkan teman-temannya. Ia bergabung dengan tim hoki es, meninggalkan Rémi yang semakin terisolasi dan terluka.

Tragedi pun terjadi, mengubah arah cerita secara dramatis. Film ini kemudian mengeksplorasi proses berduka, rasa bersalah, dan upaya penyembuhan Léo serta keluarga Rémi. Dhont berhasil menggambarkan bagaimana masyarakat, terutama di kalangan remaja laki-laki, sering kali membatasi ekspresi kasih sayang antar sesama jenis kelamin melalui stereotip dan tekanan teman sebaya. Film ini tidak hanya kritik terhadap homofobia halus, tetapi juga refleksi tentang hilangnya innocence masa kanak-kanak ketika menghadapi dunia dewasa yang penuh judgment.

Ulasan Film Close

Salah satu adegan di film Close (IMDb)
Salah satu adegan di film Close (IMDb)

Secara teknis, Close unggul dengan sinematografi indah karya Frank van den Eeden. Adegan-adegan awal penuh cahaya alami, warna-warna cerah ladang bunga, dan gerakan kamera yang mengikuti anak-anak dengan kebebasan, menciptakan rasa kehangatan dan nostalgia. Kontras ini sangat tajam dengan bagian kedua film yang lebih dingin, sunyi, dan penuh ketegangan emosional.

Akting Eden Dambrine sebagai Léo patut dipuji; ia menyampaikan kerumitan emosi remaja—dari kebahagiaan polos hingga rasa bersalah yang menghancurkan—dengan kedalaman luar biasa untuk usianya. Gustav De Waele juga meyakinkan sebagai Rémi yang lebih sensitif. Pendukung seperti Émilie Dequenne sebagai ibu Rémi memberikan lapisan emosional yang kuat.

Film Close tayang di bioskop Indonesia pada akhir Mei 2026, tepatnya mulai sekitar 23 Mei 2026 di jaringan seperti CGV dan Cinema 21. Ini merupakan kesempatan langka buatmu untuk menyaksikan film Eropa berkualitas di layar lebar, terutama mengingat tema universalnya yang relevan dengan isu-isu sosial di masyarakat kita saat ini.

Salah satu adegan paling emosional dan paling diingat setelah menonton adalah momen konfrontasi dan pelukan antara Léo dengan ibu Rémi, Sophie. Setelah tragedi yang menimpa Rémi, Léo berjuang dengan rasa bersalah yang mendalam. Adegan di mana Sophie dan Léo akhirnya bertemu, berpelukan, dan saling melepaskan emosi yang tertahan menjadi klimaks emosional yang mengharukan. Tidak ada dialog berlebihan; hanya air mata, pelukan erat, dan keheningan yang penuh makna. Adegan ini melambangkan penerimaan, pengampunan, dan proses healing bersama. Mataku pun berkaca-kaca karena intensitas kesedihan yang autentik.

Adegan lain yang tak kalah memorable adalah pengungkapan tragedi itu sendiri. Dhont menyajikannya dengan cara yang halus tapi menghantam: Léo yang menunggu Rémi untuk acara sekolah, kemudian ibunya datang dengan wajah penuh duka dan mengatakan bahwa Rémi “tidak lagi bersama kita”. Tidak ada adegan dramatis berlebihan, hanya reaksi Léo yang membeku dan dunia seolah berhenti.

Adegan ini diingat karena kejujurannya dalam menggambarkan shock dan denial setelah kehilangan mendadak. Selain itu, adegan Léo yang duduk sendirian di salju atau berbaring di tempat tidur sendirian setelah kehilangan sahabatnya meninggalkan kesan mendalam tentang kesepian yang diciptakan oleh pilihan sosial.

Jadi bisa kusimpulkan, Close adalah film yang menyayat hati sekaligus membuka mata. Ia mengingatkan kita betapa rapuhnya persahabatan di usia transisi dan bahaya dari kata-kata serta sikap acuh tak acuh yang seolah tak berbahaya. Meski berat, film ini tidak pesimis sepenuhnya; ada harapan kecil di akhir melalui proses penyembuhan.

Buat kamu yang menyukai drama karakter mendalam seperti Moonlight atau karya-karya Céline Sciamma, Close adalah tontonan wajib. Rating dariku: 9/10. Film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak introspeksi tentang bagaimana kita mendidik anak-anak laki-laki untuk mengekspresikan emosi tanpa takut dihakimi.

Catatan untuk pembaca: Ulasan ini diharapkan memberikan gambaran lengkap buatmu yang ingin menonton atau telah menonton. Close membuktikan bahwa cerita sederhana tentang anak-anak bisa menyampaikan pesan yang sangat powerful.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda