Rasa merupakan salah satu novel karya Tere Liye yang menghadirkan kisah remaja dengan nuansa berbeda. Berlatar kehidupan SMA di Jakarta, novel ini menggunakan bahasa gaul khas anak Jakarta Selatan (Jaksel) yang ringan dan penuh candaan. Namun di balik gaya santainya, cerita ini menyimpan konflik emosional yang cukup dalam. Novel ini berbicara tentang berbagai “rasa” dalam kehidupan: cinta, cemburu, kecewa, marah, hingga penerimaan.
Tokoh utama, Linda atau Lin, hidup dalam keluarga broken home bersama ibu dan kakaknya, Adit. Sosok ayahnya menghilang sejak ia kecil dan menjadi misteri di awal cerita. Lin digambarkan sebagai gadis tomboy, berbakat, tetapi keras kepala. Ia bekerja sebagai editor foto di studio Om Bagoes, lalu diangkat menjadi fotografer oleh Bang DT karena kemampuannya yang luar biasa.
Persahabatan Lin dengan Jo, anak seorang produser film terkenal, awalnya berjalan baik. Namun kehadiran Nando—teman masa kecil Lin yang kini menjadi aktor—membuat hubungan mereka renggang. Lin dan Jo sama-sama menyukai Nando. Persaingan, rasa cemburu, dan ego membuat persahabatan mereka retak. Puncaknya terjadi saat Lin membuat Nando batal datang ke pesta sweet seventeen Jo. Jo yang kecewa memarahi Lin di depan umum, dan konflik mereka semakin dalam.
Masalah keluarga Lin kemudian menjadi pusat emosi cerita. Ayahnya kembali ke rumah bersama Putri, teman lama Lin yang ternyata adalah saudari tirinya. Fakta bahwa ayahnya menikahi sahabat ibunya saat sang ibu sedang mengandung Lin membuatnya terpukul.
Tak hanya mengusir ayahnya, Lin pun pergi tanpa tujuan menaiki angkot hingga akhirnya terdampar di terminal. Di sanalah ia ditemukan oleh Agus, kemudian dibawa ke rumah guru BK mereka, Miss Lei. Sosok guru yang selama ini menakutkan bagi siswa ternyata menjadi pendengar yang baik dan membantu Lin menghadapi perasaannya.
Miss Lei pun sebenarnya sudha tahu permasalahan keluarga Lin melalui Putri yang selalu terbuka meminta saran dan nasihatnya. Melalui berbagai pendekatan psikologis, Miss Lei membantu Lin memahami bahwa setiap orang memiliki luka, termasuk Putri. Titik balik emosional terjadi ketika ibu Putri yang sakit keras menyampaikan pesan terakhir agar mereka saling menyayangi. Lin pun akhirnya menerima kenyataan dan memaafkan ayahnya.
Selain aspek psikologi, novel ini juga menyelipkan pengetahuan tentang fotografi. Pembaca diajak memahami dasar-dasar teknik fotografi, mulai dari pencahayaan (lighting), komposisi, sudut pengambilan gambar (angle), fokus, hingga timing yang tepat untuk menangkap momen. Dijelaskan pula bagaimana cahaya alami maupun buatan memengaruhi suasana foto, aturan sepertiga (rule of thirds), serta bagaimana emosi bisa ditangkap melalui ekspresi dan detail kecil dalam lensa kamera. Dunia fotografi tidak hanya menjadi latar pekerjaan Lin, tetapi juga metafora tentang cara melihat hidup: bahwa setiap peristiwa bisa dipandang dari sudut berbeda, dan cahaya sekecil apa pun dapat memberi makna pada gambar yang tampak gelap.
Kekurangan novel ini antara lain banyak candaan yang terasa garing dan kurang relevan dengan alur cerita. Humor-humor tersebut sering diselipkan di tengah peristiwa penting sehingga terkesan hanya sebagai tambahan tanpa pengaruh pada cerita. Alur di bagian awal juga terasa lambat; konflik utama baru muncul setelah hampir seratus halaman, membuat pembaca harus bertahan cukup lama untuk menikmati keseluruhan cerita. Meskipun begitu, bahasa gaul khas Jakarta tetap digunakan dengan memperhatikan EYD, sesuai gaya Tere Liye.
Identitas Buku
Judul: Rasa
Penulis: Tere Liye
Penerbit: PT Sabak Grip Nusantara
Tahun Terbit: April 2022
Tebal: 421 hlm; 20 cm
ISBN: 978-623-97262-3-2
Kategori: Novel Umum 15+