Ulasan
Terkurung Sumpah Purba: Gugatan Cinta dan Fanatisme Kasta dalam Lakuna
Bagaimana rasanya ketika masa depan dan kisah cinta kita di masa kini harus dikendalikan oleh dendam serta sumpah serapah dari masa lalu? Premis yang memikat sekaligus mendalam inilah yang ditawarkan oleh Khrisna Pabichara dalam novelnya yang berjudul Lakuna.
Membaca novel ini ibarat memasuki sebuah ruang di mana modernitas kehidupan anak muda modern harus berbenturan langsung dengan dinding tebal hukum adat.
Sesuai dengan judulnya, kata lakuna yang berarti ruang kosong membawa pembaca menyelami kekosongan hati manusia yang terbentur oleh ketatnya tradisi.
Sinopsis
Cerita berpusat pada jalinan asmara antara Emir Sulaiman Makkarawa dan Andi Nayanika Marennu. Emir adalah seorang mahasiswa doktoral sekaligus anak saudagar kaya dari Jeneponto, sedangkan Naya merupakan perempuan cerdas dari kalangan bangsawan Bugis.
Hubungan mereka menjadi semakin rumit karena kehadiran tokoh ketiga, yaitu Tata, seorang dokter yang juga selebritas lokal di Makassar.
Sekilas, konflik ini tampak seperti kisah cinta segitiga biasa yang klise. Namun, penulis berhasil membalutnya dengan unsur yang jauh lebih menegangkan, yaitu kutukan sumpah leluhur dan fanatisme kasta.
Eksplorasi budaya dalam Lakuna tidak sekadar menjadi latar belakang tempat belaka, melainkan penggerak utama dari seluruh plot cerita.
Pembaca akan melihat bagaimana sumpah masa lalu dari garis keturunan Naya yang menolak menikahi keturunan hamba sahaya benar-benar membayangi kehidupan mereka di masa kini.
Melalui narasi ini, penulis memperlihatkan dua sisi dari sebuah tradisi. Di satu sisi, ada nilai-nilai luhur dan petuah tradisional (pappaseng) yang sarat akan kebijaksanaan hidup.
Namun di sisi lain, ada kebiasaan lama yang sudah sepatutnya ditinggalkan karena bertentangan dengan kemanusiaan, mulai dari kesombongan status sosial hingga praktik mistis gelap sejenis santet yang disebut doti-doti.
Salah satu kekuatan utama novel ini terletak pada kekayaan bahasanya. Bagi pembaca yang belum pernah berkunjung ke Sulawesi Selatan, Lakuna menjadi sebuah gerbang kebudayaan yang sangat informatif.
Di sepanjang cerita, kita akan diperkenalkan dengan berbagai istilah lokal seperti Sinrilik, Siri’, mammanuk-manuk, Cenning Rara, hingga epos Ilagaligo.
Istilah-istilah tersebut dijalin dengan pilihan kata bahasa Indonesia yang cantik, puitis, dan beberapa di antaranya mungkin jarang kita temukan dalam percakapan sehari-hari. Hal ini tentu menjadi nilai tambah karena dapat memperkaya kosakata pembaca.
Meski demikian, novel ini bukan tanpa celah. Karena jumlah karakter yang muncul cukup banyak, beberapa bagian cerita terasa memiliki plot-hole atau lubang alur.
Selain itu, pacing atau tempo penceritaan di paruh akhir terasa bergerak lumayan cepat. Penggambaran tokoh antagonisnya pun dibuat sangat intens, tipe karakter yang tampaknya sengaja diciptakan untuk memancing emosi pembaca secara instan.
Walau begitu, kekurangan minor tersebut berhasil ditutupi dengan baik oleh kehadiran plot twist di bagian akhir. Eksekusi ending-nya terbilang berani dan menjadi salah satu konklusi paling mengejutkan dari karya-karya Khrisna Pabichara.
Secara keseluruhan, Lakuna adalah novel fiksi budaya yang sukses memberikan sudut pandang dan pelajaran hidup yang baru mengenai manusia dan kepercayaannya.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa cinta sering kali membutuhkan dua hal, yaitu pernyataan dicintai dan kenyataan untuk membuktikannya.
Bagi kamu yang menyukai drama keluarga yang dibalut misteri, ketegangan mistis, dan kearifan lokal yang kental, buku ini sangat layak untuk dibaca.
Kabar baiknya, novel ini juga sudah bisa diakses secara legal dan gratis melalui aplikasi iPusnas. Selamat tenggelam dalam riak budaya Bugis-Makassar yang memikat!
Identitas Buku
Judul: Lakuna
Penulis: Khrisna Pabichara
Edisi: Cetakan Pertama
Penerbit: Diva Press, Yogyakarta
Tahun Terbit: 2021
Deskripsi Fisik: 336 Halaman; 20 cm
ISBN: 978-602-391-855-3