Film Taneuh Kalaknat adalah film horor Indonesia terbaru yang dirilis pada 2026, disutradarai oleh Gierendy. Film ini tayang perdana di bioskop Indonesia pada 19 Februari 2026, dan masih diputar di berbagai jaringan seperti Cinema XXI, CGV, dan Cinepolis hingga saat ini, termasuk di Surabaya seperti di Ciputra World atau Tunjungan Plaza. Dengan durasi 87 menit dan rating R13+, film ini menargetkan penonton remaja dan dewasa yang menyukai cerita mistis berlatar budaya lokal.
Petualangan Konten Kreator ke Tanah Terlarang

Sinopsis film mengikuti sekelompok kreator konten YouTube bernama The Eyes, yang terdiri dari Dara (Adinda Thomas), Monty (Nagra Kautsar), Nana (Annette Edoarda), Obi (Rizky Mochil), Fikri (Aga Dirgantara), dan Erik (Halilintar Syumanjaya). Mereka spesialis dalam mengeksplorasi tempat-tempat angker untuk konten viral.
Kali ini, mereka mendapat informasi tentang Tanah Kalaknat, sebuah wilayah terpencil di tanah Pasundan yang diyakini terkutuk. Meski banyak peringatan dari warga lokal, kelompok ini nekat pergi demi views tinggi. Di sana, mereka bertemu Opa (Egi Fedli), penduduk misterius yang tinggal bersama keluarganya.
Keanehan demi keanehan mulai muncul: suara aneh, penampakan, dan peristiwa tragis yang mengancam nyawa mereka. Cerita berfokus pada bagaimana ekspedisi yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi mimpi buruk, di mana kutukan masa lalu menghantui setiap langkah.
Sebagai film horor, Taneuh Kalaknat mengandalkan elemen found-footage ala YouTuber, yang membuatnya terasa autentik dan relatable bagi generasi muda yang akrab dengan vlogging. Sutradara Gierendy berhasil membangun atmosfer tegang sejak awal, dengan pengambilan gambar handheld yang meniru rekaman amatir.
Latar belakang desa terpencil di Jawa Barat memberikan nuansa budaya Sunda yang kental, seperti penggunaan bahasa daerah dan mitos lokal tentang tanah terkutuk. Elemen ini menambah kedalaman, membuat film tidak sekadar jump scare murahan, tapi juga eksplorasi tentang konsekuensi mengganggu hal gaib demi konten digital.
Ulasan Film Taneuh Kalaknat

Akting para pemain cukup solid sih menurutku. Adinda Thomas sebagai Dara tampil meyakinkan sebagai leader yang berani tapi rentan, menunjukkan emosi ketakutan yang natural. Nagra Kautsar dan Annette Edoarda memberikan dinamika grup yang hidup, dengan chemistry antar anggota The Eyes yang terasa seperti teman sungguhan.
Egi Fedli sebagai Opa mencuri perhatian dengan penampilan misteriusnya, yang membuat penonton merinding tanpa banyak dialog. Namun, beberapa karakter seperti Fikri dan Erik terasa kurang berkembang, lebih berfungsi sebagai korban daripada tokoh utuh. Hal ini mungkin karena durasi pendek, yang membuat pengembangan karakter terburu-buru.
Dari segi teknis, sinematografinya patut aku acungi jempol. Penggunaan cahaya redup dan suara ambien seperti angin malam atau bisikan gaib berhasil menciptakan ketegangan. Sound design adalah kekuatan utama; efek suara mendadak sering kali lebih efektif daripada visual hantu.
Skrip oleh Dilla Bondan dan Stanley Muelen menggabungkan elemen horor klasik Indonesia seperti kutukan leluhur dengan isu modern seperti obsesi media sosial. Ini membuat film relevan, mengkritik budaya content is king yang mengabaikan bahaya nyata. Produksi oleh Anugerah Pictures dan Corise Cinema terlihat profesional, dengan budget yang tampaknya dimanfaatkan baik untuk lokasi syuting di lokasi yang alami.
Kelebihan film ini terletak pada originalitas cerita yang berakar pada mitos lokal, berbeda dari horor urban biasa. Jump scare-nya terukur, tidak berlebihan, dan dibangun dengan suspense yang baik. Tema tentang bahaya mengeksploitasi hal mistis untuk popularitas juga menyentuh, mengingatkan penonton pada kasus nyata YouTuber yang nekat. Selain itu, durasi singkat membuatnya ringan ditonton, ideal untuk malam horor akhir pekan.
Akan tetapi, ada kekurangan. Plot terkadang klise, mirip film horor found-footage seperti Blair Witch Project atau Paranormal Activity, dengan twist yang bisa ditebak bagi penggemar genre. Beberapa efek visual hantu terasa murah, mungkin karena keterbatasan budget mirip dengan film indie. Akhir cerita juga agak tergesa, meninggalkan beberapa pertanyaan tanpa jawaban, yang bisa membuatku frustrasi. Dibandingkan horor Indonesia lain seperti KKN di Desa Penari, film ini kurang dalam kedalaman lore mistis, lebih fokus pada teror langsung.
Secara keseluruhan, Taneuh Kalaknat adalah tambahan segar untuk sinema horor Indonesia, terutama di tengah tren konten digital. Rating pribadi dariku: 7/10: layak ditonton bagi pencinta horor lokal, tapi tidak revolusioner. Kalau kamu di Surabaya atau kota lainnya cek jadwal di bioskop terdekat; tiket mulai Rp 40.000. Film ini mengingatkan bahwa tidak semua tempat angker pantas dieksplorasi, apalagi demi like dan subscribe.