Bagi generasi 90-an dan awal 2000-an, datangnya bulan suci Ramadan tidak hanya ditandai dengan munculnya iklan sirup di televisi, tetapi juga ditemani lantunan suara jernih seorang anak kecil bernama Sulis ditambah vibrato syahdu dari Haddad Alwi.
Meskipun industri musik religi terus berkembang dengan kehadiran musisi modern, playlist "Cinta Rasul" tetap menduduki kasta tertinggi di masa Ramadan. Playlist ini menunjukkan bahwa suasana Ramadan akan semakin lengkap dengan nostalgia unik melalui lagu-lagu yang menjadi “jangkar memori” untuk menyatukan kemurnian spiritual dengan kesederhanaan di masa kecil.
Fenomena “Cinta Rasul”
Dirilis pertama kali pada tahun 1999, album Cinta Rasul 1 mencetak sejarah sebagai salah satu album religi terlaris sepanjang masa di Indonesia. Kolaborasi antara guru dan murid ini berhasil mengemas selawat yang tadinya dianggap tersegmentasi menjadi musik pop yang popular dan bisa dinikmati siapa saja.
Lagu-lagu seperti "Rindu Rasul", "Ya Thoybah", hingga "Ummi" bukan sekadar pengisi waktu ngabuburit. Mereka adalah jembatan emosional yang seakan-akan berbicara mengenai masa lalu dan memicu sensory memory di masa Ramadan seperti bau masakan ibu di dapur, suara petasan di kejauhan, hingga momen belajar mengaji di mushola kampung.
Mengapa Masih Relevan di Tahun 2026?
Di tengah gempuran aransemen synth-pop atau balada religi masa kini, karya Haddad Alwi dan Sulis menawarkan dua hal yang sulit digantikan, yakni kesederhanaan yang jujur dengan liriknya yang edukatif dan universalitasnya yang bisa menjangkau semua usia.
Aransemen musiknya tidak berlebihan. Justru dari sini kekuatan lirik dan vokalnya menjadi menonjol dan pesan dari lagu tersebut bisa tersampaikan dengan baik. Bagi anak-anak di masa itu, lagi-lagu ini menjadi guru yang mengajarkan dan memperkenalkan nama-nama Nabi melalui lantunan nada yang mudah dihafal.
Musik Sulis dan Haddad Alwi tidak terikat batas usia. Kakek-nenek, orang tua, hingga cucu semua bisa menyanyikan “Ya Thoybah” dengan frekuensi yang sama.
Jika kita membedah lebih dalam, kesuksesan kolaborasi Haddad Alwi dan Sulis tidak datang dari kebetulan. Terdapat komposisi unik yang membuat lagu-lagu mereka tetap awet meski diputar berkali-kali:
1. Karakter vokal Sulis menarik. Dia polos tapi memiliki power dan teknik pernapasan yang stabil. Ia membawakan lagu “Ummi” dengan ketulusan emosi seorang anak. Suaranya yang jernih dapat memberikan rasa tenang dan menyentuh sisi spiritual bagi para pendengarnya, termasuk mereka yang berusia dewasa.
2. Lirik Berisi Pesan Dakwah. Mereka menggunakan lirik-lirik lagu tersebut sebagai media dakwah literasi dan berhasil menerjemahkan teks-teks Arab ke dalam narasi bahasa Indonesia yang puitis tetapi selalu sederhana di telinga.
3. Chemistry Maksimal. Perpaduan guru dan murid dengan interaksi vokal mereka menciptakan kontras antara bariton dan suara anak yang harmonis. Haddad Alwi sering kali berperan sebagai pembimbing dalam lagu, sementara Sulis menjadi representasi suara hati anak-anak. Dinamika ini membangun suasana kekeluargaan yang sangat kental bagi pendengarnya.
Menghidupkan Kembali Tradisi
Memasukkan kembali lagu-lagu ini ke dalam playlist Ramadan bukan berarti kita gagal move on. Justru, ini adalah upaya merawat tradisi. Memutar lagu-lagu ini di ruang tamu atau di Masjid menjelang waktu berbuka puasa adalah cara terbaik untuk mengenalkan nilai-nilai spiritual kepada generasi baru dengan kesan menyenangkan, persis seperti yang generasi 90-an dan 2000-an rasakan.
Ramadan mungkin terus berganti, tetapi ingat, harmoni suara Sulis dan bimbingan nada Haddad Alwi tetap menjadi "rumah spiritual" tempat ingatan kita pulang.