Akhir tahun 2024 menjadi salah satu perjalanan yang paling saya ingat. Saya mengajak seorang teman yang belum pernah naik kereta api untuk mencoba pengalaman pertamanya bepergian dengan kereta menuju Blitar.
Kami memesan tiket pulang-pergi melalui aplikasi KAI Access dari Stasiun Kediri menuju Blitar dengan harga tiket Rp24.000,00 per orang. Kereta dijadwalkan berangkat pukul 07.43 pagi. Sayangnya, perjalanan menuju stasiun tidak mulus. Jalan utama ditutup karena acara wisuda sebuah kampus, sehingga mobil harus melewati jalan alternatif yang sempit. Di depan kami ada mobil kursus yang berjalan sangat pelan dan tidak bisa disalip.
Kami tiba di stasiun pukul 07.45. Dua menit terlambat. Berharap masih bisa menyusul, kami berlari menuju depan pintu pemberangkatan. Namun percuma, kereta sudah berangkat.
Setelah sempat kebingungan dan menunggu loket buka untuk mengurus pembatalan tiket, akhirnya kami memesan tiket baru yang berangkat pukul 10.40. Siang itu, sekitar pukul 12.00, kami tiba di Kota Blitar. Artinya, kami hanya memiliki waktu sekitar 4–5 jam saja sebelum jadwal kereta pulang pukul 17.00. Waktu yang singkat itu akhirnya kami manfaatkan untuk mengunjungi dua tempat yang cukup ikonik di Kota Blitar.
Salat Zuhur dan Istirahat di Masjid Agung Blitar

Keluar dari stasiun, kami berjalan kaki sekitar 10 menit menuju Masjid Agung Blitar yang terletak tepat di seberang Alun-Alun Kota. Kami salat Zuhur, merapikan diri, sekaligus menikmati bekal yang kami bawa.
Sambil berbincang dan melihat Google Maps, kami mulai menyusun rencana sederhana: mengunjungi Istana Gebang terlebih dahulu, lalu menuju Masjid Ar-Rahman untuk salat Asar sebelum kembali ke stasiun. Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 13.00 saat kami memulai perjalanan.
Eksplorasi Istana Gebang

Perjalanan dari Masjid Agung menuju Istana Gebang hanya sekitar 15 menit menggunakan GoCar. Berkat diskon aplikasi, tarif yang kami bayar hanya sekitar Rp8.000,00.
Istana Gebang merupakan rumah masa kecil Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Rumah ini menjadi saksi kehidupan Bung Karno bersama kedua orang tuanya sebelum beliau dikenal sebagai tokoh besar bangsa.
Di pintu masuk, pengunjung diminta melepas alas kaki dan membawanya menggunakan tas yang telah disediakan hingga ke area belakang. Tiket masuknya sangat terjangkau, hanya Rp4.000,00 per orang.
Begitu masuk, suasananya terasa tenang dan sederhana. Dinding rumah dipenuhi foto-foto Bung Karno dari berbagai masa kehidupannya. Ada pula beberapa barang peninggalan keluarga, seperti peralatan rumah tangga, ruang tamu, hingga kamar tidur yang pernah digunakan oleh keluarga Soekarno.
Meski area rumahnya tidak terlalu luas, kami menghabiskan hampir dua jam di sana. Selain membaca informasi sejarah yang tersedia, kami juga berkeliling sambil mengabadikan beberapa momen di sudut-sudut rumah yang sangat kental dengan sejarah.
Salat Asar di Masjid Ar-Rahman

Setelah puas berkeliling di Istana Gebang, kami melanjutkan perjalanan menuju Masjid Ar-Rahman yang berjarak sekitar 1,5 kilometer. Lagi-lagi kami memesan GoCar dengan tarif sekitar Rp8.000,00.
Namun, perjalanan sedikit terhambat karena ada pertandingan sepak bola di stadion dekat masjid sehingga beberapa jalan ditutup. Kami harus memutar arah dan akhirnya tiba di masjid sekitar pukul 15.20.
Masjid Ar-Rahman dikenal sebagai salah satu masjid ikonik di Kota Blitar. Dari luar, desainnya langsung menarik perhatian karena arsitekturnya dibuat menyerupai Masjid Nabawi.
Halaman masjid sangat luas dan nyaman untuk bersantai. Saat masuk, pengunjung diarahkan untuk menyimpan alas kaki di loker yang sudah disediakan secara terpisah antara jemaah laki-laki dan perempuan. Kebersihan tempat ini juga sangat terjaga.
Hal yang cukup menarik perhatian saya adalah pengelolaan mukenanya. Pengunjung perempuan diarahkan menggunakan mukena yang bersih dan harum. Setelah dipakai, mukena tersebut langsung dipisahkan untuk dicuci sehingga selalu dalam kondisi bersih.
Tempat wudu, toilet, hingga area salat semuanya terasa rapi dan nyaman. Sayangnya, kami tidak bisa berlama-lama. Setelah salat Asar dan beristirahat sejenak sembari mengabadikan momen, kami segera bertolak menuju stasiun.
Kembali ke Kediri
Sekitar pukul 16.30 kami tiba di Stasiun Blitar. Kali ini kami datang lebih awal agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Pukul 17.00 kereta berangkat menuju Kediri dan tiba sekitar pukul 18.42. Sebelum kembali ke asrama, kami sempatkan untuk membeli mi ayam bakso di depan stasiun dengan harga Rp10.000,00 per porsi.
Perjalanan singkat ini mengajarkan saya satu hal penting: riset sebelum liburan sangat diperlukan, apalagi jika waktunya terbatas. Menentukan itinerary sejak awal juga membantu perjalanan menjadi lebih efisien. Selain itu, jika kita melakukan perjalanan dengan menggunakan kereta api, maka tiba di stasiun lebih awal adalah hal yang tidak bisa ditawar.
Empat jam di Blitar memang terasa singkat, tetapi cukup meninggalkan kesan yang menyenangkan.
Blitar, sampai jumpa lagi di perjalanan berikutnya.