Ulasan
Seni Hidup Sederhana dalam Nasi Panas dan Ikan Asin
Petang sepulang kerja, kehujanan, menggigil, kemudian disambut dengan aroma ikan asin goreng yang gurih; ternyata sukses bikin perut keroncongan. Bagi beberapa orang, ikan asin memang identik dengan makanan kampung. Namun buatku, ikan asin adalah salah satu ‘harta’ dan kenangan yang akan selalu hidup.
Maksudnya, Mbak? Iya wes, sini kujelaskan mengapa ikan asin adalah harta bagiku.
Lauk Murah Meriah yang Mengandung Banyak Gizi
Menurut laman Dinas Perikanan Kabupaten Kutai Barat, ikan asin adalah olahan ikan yang digarami kemudian dijemur selama beberapa hari hingga mengering dan awet. Di Kutai Barat sendiri, terdapat beberapa jenis ikan yang diasinkan seperti ikan biawan, ikan gabus, dan juga ikan lais.
Nah, kalau di daerahku yakni Kabupaten Kediri, kami menyebut ikan asin sebagai gerih, klotok, hingga balur (ikan yang dibelah kemudian diasinkan). Harganya pun sangat murah. Sebungkus ikan asin yang berisi 5-6 ekor ukuran ibu jari sepanjang kurang lebih 10 cm, dibanderol Rp6.000 saja di tukang sayur.
Selain harganya yang murmer, dalam 100 gram ikan asin juga mengandung:
- 193 kkal energi
- 42 gram protein
- 0 karbohidrat
- 1,5 gram lemak
- 200 miligram kalsium
- 300 miligram fosfor
- 3 miligram zat besi
- 0,01 miligram vitamin B1
Lauk yang Adaptif dan Cocok Untuk Segala Masakan
Ikan asin umumnya sekadar digoreng untuk dijadikan lauk nasi. Dengan rasa yang asin dan gurih, berpadu dengan nasi hangat dan sambal terasi, nikmat mana yang kita dustakan?
Oke, kenapa ikan asin disebut sebagai lauk yang adaptif? Menurut pengalamanku pribadi, ikan asin adalah lauk yang murah, mudah ditemui, dan gampang diolah, bahkan cocok untuk segala masakan. Mau disandingkan dengan sayur asem, sayur bening, sayur lodeh? Gas! Atau diolah menjadi botok ikan asin, ikan asin goreng tepung, hingga yang paling nyeleneh ya kuah soto berlauk ikan asin tetap nyambung saja.
Yang paling unik, aku pernah mendapat resep botok ikan asin dan mangga muda parut dari seseorang, yang ternyata maknyus juga sebagai lauk!
Lauk yang Sengaja Ditimbun Sebagai Harta Karun
Bagi masyarakat pedesaan sepertiku, kami cenderung memilih protein nabati seperti tahu dan tempe sehari-hari. Tentu karena harganya lebih murah dibandingkan protein hewani macam ayam atau daging. Nah, kehadiran ikan asin inilah yang mengisi posisi protein hewani murah meriah.
Bagi orang-orang generasi lama yang kesehariannya masih dipengaruhi oleh musim (kebanyakan petani dan buruh tani yang biasa mengalami paceklik), ikan asin adalah lauk penyelamat. Mereka cukup menanak nasi dan menggoreng ikan asin. Selain itu, minyak penggorengannya yang agak hitam pun disimpan sebagai lauk esok hari atau lusa. Pokoknya duit belanja ditekan sehemat mungkin.
Budaya kuliner inilah yang lantas mengikutiku. Saat kehabisan sayur dan malas beli, menggoreng ikan asin adalah jalan ninja. Sedangkan kepala ikan asinnya dijadikan campuran sambal yang kami namai sambel endas gerih (sambal kepala ikan asin). Sementara untuk minyak sisa penggorengan, bakal dicampur dengan sedikit nasi untuk pakan kucing.
Dari Lidah, Mengendap di Memori
Bukan masalah kalau dicap kampungan, norak, hingga udik gara-gara menyukai lauk ikan asin. C’mon, selera dan kemampuan orang berbeda!
Lagipula, ikan asin sudah dikenalkan padaku sedari kecil. Mulai dari rasanya makan nasi hangat dengan ikan asin, botok ikan asin, oseng ikan asin dan cabai hijau, hingga beragam makanan kustom dengan tokoh utama ikan asin. Yang paling memorable tentu saja saat menyuapi nasi berlauk ikan asin, kemudian bocah kecil itu bertepuk tangan dengan pipi menggembung lucu.
Selain itu, aku juga belajar macam-macam resep masakan dari ibu, tips menyimpan ikan asin supaya tidak gampang berjamur, resep yang berbeda dari bapak, dan tentu saja memantau harga bahan-bahan pokok dari laporan tukang sayur.
Kehangatan sosial dan kekeluargaan itulah yang sebetulnya dicari, kendati situasinya adalah membeli sayuran dan ikan asin. Jadi, bagiku ikan asin bukan hanya simbol pengiritan ekonomi duniawi, melainkan sebagai protein hewani murah meriah sekaligus penggerak perilaku sosial.