Kolom

Kartini dan Perempuan Hari Ini: Menulis sebagai Ruang Aman untuk Bersuara

Kartini dan Perempuan Hari Ini: Menulis sebagai Ruang Aman untuk Bersuara
Ilustrasi Menulis (Freepik/cookie_studio)

Hari ini, kita melihat semakin banyak perempuan yang berani bersuara. Berbagai gagasan disampaikan melalui video, podcast, hingga tulisan. Setiap perempuan memilih caranya sendiri untuk didengar, menemukan ruang yang paling sesuai untuk menampung isi kepala dan perasaannya.

Namun, di balik keberanian itu, tidak semua suara lahir dengan mudah. Ada yang masih ragu, ada yang masih menyaring kata, dan ada yang memilih diam—bukan karena tidak punya sesuatu untuk disampaikan, tetapi karena belum menemukan ruang yang benar-benar aman.

Di tengah berbagai pilihan itu, menulis menjadi salah satu cara yang paling sunyi, sekaligus paling jujur. Dan sebagai member di platform Yoursay, kita memilih menulis—bukan sekadar untuk berbagi, tetapi sebagai ruang yang terasa cukup aman untuk menyampaikan berbagai keresahan dan gagasan.

Mengutarakan isi pikiran melalui tulisan ini bukan hal baru. Jauh sebelum perempuan memiliki ruang seluas sekarang, Kartini telah lebih dulu menemukan cara untuk bersuara—melalui tulisan. Di tengah keterbatasan ruang gerak dan kuatnya norma yang membungkam, ia tidak memiliki banyak pilihan untuk berbicara secara bebas.

Namun, alih-alih tetap diam, ia memilih menuliskan surat-surat yang kemudian dihimpun dalam Habis Gelap Terbitlah Terang. Kartini menuangkan kegelisahan yang mungkin sulit ia ucapkan secara langsung. Ia menulis tentang pendidikan, tentang kebebasan, tentang harapan yang terasa jauh, bahkan tentang kebimbangan yang ia rasakan sebagai seorang perempuan di zamannya.

Apa yang ditulis oleh Kartini kala itu bukan sekadar tulisan biasa, tetapi juga bentuk perjuangan terhadap hak-hak perempuan. Ruang bersuara begitu luas yang bisa kita nikmati hari ini pun merupakan hasil dari perjuangannya.

Hari ini, ruang itu tampak jauh lebih luas. Perempuan tidak lagi harus bersembunyi di balik lembaran surat untuk menyampaikan isi pikirannya. Kita bisa menulis dan langsung membagikannya. Kita bisa didengar oleh banyak orang dalam waktu singkat. Seolah-olah, batas yang dulu mengikat kini telah runtuh.

Meskipun demikian, perempuan lantas terbebas dari tantangan. Jika dulu Kartini berjuang demi kebebasan perempuan, kini kita dihadapkan pada perjuangan yang berbeda. Lawan perempuan hari ini lebih pada hal yang ada pada dirinya, mulai dari overthinking, ekspektasi, hingga ketakutan merasa tertinggal. Hal itu yang akhirnya membuat beberapa perempuan merasa ragu untuk bergerak.

Termasuk saat menulis. Ketika tulisan kita terpublikasi dan bisa dibaca banyak orang, muncul ketakutan akan penilaian orang lain. Apa yang kita tulis bisa mendapatkan respons dalam hitungan detik. Disukai, dikomentari, atau justru diabaikan. Tanpa sadar, hal-hal itu mulai memengaruhi cara kita menulis.

Dan kita mulai bertanya-tanya: apakah tulisan ini cukup baik? Apakah ini akan dipahami? Apakah ini terlalu berlebihan untuk dibagikan?

Padahal menulis seharusnya bisa menjadi ruang paling aman untuk kita bersuara. Menjadi tempat paling jujur untuk menjadi diri sendiri dan berbagi setiap gagasan yang muncul di pikiran kita. Hal ini tentu menjadi tantangan bagi perempuan hari ini.

Namun demikian, kita perlu menyadari bahwa melalui tulisan, seseorang bisa membawa sebuah perubahan. Seperti yang pernah dilakukan oleh Raden Ajeng Kartini dulu.

Ia mungkin tidak pernah membayangkan bahwa surat-surat yang ia tulis dalam keterbatasan akan terus dibaca hingga hari ini. Bahwa kegelisahan yang ia tuangkan dengan jujur akan menjadi suara bagi banyak perempuan setelahnya. Dari situlah kita bisa belajar bahwa menulis tidak selalu harus besar untuk menjadi berarti.

Tulisan tidak harus sempurna. Tidak harus selalu mendapatkan banyak perhatian. Bahkan, tidak harus selalu dipahami oleh semua orang. Terkadang, menulis cukup menjadi cara untuk menyelamatkan diri sendiri—dari pikiran yang terlalu penuh, dari perasaan yang sulit dijelaskan, atau dari hal-hal yang selama ini kita pendam sendirian. Dan justru dari kejujuran-kejujuran kecil itulah, sebuah makna bisa tumbuh.

Perempuan hari ini mungkin tidak lagi dibatasi oleh ruang seperti Kartini dulu. Namun, bukan berarti kita tidak memiliki batas sama sekali. Ada batas-batas tak terlihat yang sering kali kita ciptakan sendiri—rasa takut, ragu, dan keinginan untuk selalu terlihat “cukup baik” di mata orang lain. Padahal, suara kita tetap layak untuk ada, sekalipun dalam bentuk yang paling sederhana.

Maka, mungkin menulis hari ini bukan lagi tentang didengar ataupun mendapatkan pengakuan. Tetapi tentang berani memberi ruang bagi diri sendiri untuk jujur. Ruang untuk mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. Ruang untuk memahami apa yang sebenarnya kita rasakan. Ruang untuk tetap bersuara, meski hanya kita sendiri yang mendengarnya. Sebab menulis bukan hanya tentang menyusun kata. Ia tentang menjaga suara kita tetap hidup.

Dan jika suatu hari nanti, tulisan itu sampai kepada orang lain dan membuatnya merasa tidak sendirian, maka di situlah makna yang lebih besar itu perlahan tumbuh. Seperti yang pernah dilakukan Kartini.

Mungkin, di tengah dunia yang semakin bising hari ini, menulis tetap menjadi salah satu ruang paling aman yang bisa kita miliki—untuk bersuara, bertumbuh, dan tetap menjadi diri sendiri, tanpa harus merasa cukup di mata siapa pun.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda