Kolom

Media Sosial sebagai Panggung Bersuara: Benarkah Itu Wujud Emansipasi?

Media Sosial sebagai Panggung Bersuara: Benarkah Itu Wujud Emansipasi?
Ilustrasi Perempuan Bersuara (Freepik)

Di era media sosial hari ini, bersuara tidak lagi membutuhkan panggung besar. Cukup dengan sebuah unggahan, caption, atau video pendek, siapapun bisa menyampaikan gagasannya, termasuk perempuan. Kini, kita telah memiliki ruang yang jauh lebih terbuka untuk berbicara.

Sekilas, ini tampak seperti bentuk nyata dari emansipasi. Perempuan bisa menyuarakan pendapat, membagikan pengalaman, bahkan mengkritik hal-hal yang sebelumnya dianggap tabu. Namun, di balik kebebasan itu, muncul satu pertanyaan yang jarang benar-benar kita jawab dengan jujur: apakah ini benar-benar emansipasi, atau hanya demi validasi?

Jika kita melihat kembali semangat yang diwariskan oleh Raden Ajeng Kartini, bersuara adalah tentang keberanian untuk berpikir dan menyampaikan kegelisahan, bahkan ketika dunia belum siap mendengarkan. Kartini menulis bukan untuk disukai, bukan untuk mendapat pengakuan, tetapi karena ia tidak bisa diam terhadap ketidakadilan yang dirasakan kaum perempuan di masa itu.

Akan tetapi, hari ini perempuan hidup dalam situasi yang jauh berbeda. Kita sangat dekat dengan digitalisasi. Di mana ada banyak sekali ruang yang serba cepat, serba terlihat, dan serba diukur. Panggung yang terwujud di media sosial membuat suara kita tidak hanya didengar, tetapi juga dinilai melalui jumlah likes, komentar, dan jumlah orang yang menyetujui gagasan kita. Hal itu tanpa sadar mulai menggeser makna dari bersuara itu sendiri.

Kita mungkin pernah menghapus unggahan karena responsnya tidak sesuai harapan. Pernah ragu membagikan pendapat karena takut disalahpahami. Atau justru menulis sesuatu yang kita tahu akan disukai banyak orang, meski itu bukan sepenuhnya suara kita.

Akibatnya, bersuara yang seharusnya menjadi bentuk kebebasan, perlahan berubah menjadi ruang penuh pertimbangan. Apa yang aman? Apa yang akan diterima? Apa yang tidak akan mengundang kritik? Kita mulai menyaring diri sendiri bahkan sebelum orang lain melakukannya.

Tidak ada yang sepenuhnya salah dengan keinginan untuk diakui. Kita semua, sebagai manusia, memang ingin didengar dan dipahami. Namun, ketika kebutuhan akan validasi mulai mengendalikan cara kita bersuara, di situlah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: untuk siapa sebenarnya kita berbicara?

Media sosial menciptakan ilusi bahwa semakin banyak orang yang setuju, maka semakin benar suara kita. Padahal, kebenaran tidak pernah ditentukan oleh jumlah tepuk tangan. Kadang, justru suara yang paling jujur adalah suara yang tidak populer.

Fenomena tersebut akhirnya menjadi tantangan bagi perempuan-perempuan hari ini. Memang benar, kita memiliki banyak ruang untuk bersuara. Namun di sisi lain, ruang tersebut memiliki tekanan. Ada ekspektasi untuk tetap "pantas", tetap "bijak", dan tetap "tidak berlebihan", bahkan ketika sedang menyuarakan hal yang cukup personal.

Kita ingin didengar, tapi juga takut disalahpahami. Di sisi lain, kejujuran pun sering terasa berisiko. Akhirnya, banyak dari kita memilih jalan tengah: bersuara, tapi tidak sepenuhnya. Jujur, tapi masih disaring. Berani, tapi tetap berhati-hati.

Padahal, esensi dari emansipasi bukan sekadar memiliki ruang untuk berbicara, tetapi keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri saat berbicara. Bukan tentang seberapa banyak orang yang menyetujui, tetapi seberapa jujur kita terhadap apa yang kita rasakan.

Bersuara tidak selalu harus keras, viral, dan selalu mendapat tepuk tangan. Bahkan terkadang, bersuara hanya berarti berani mengatakan hal yang selama ini kita pendam. Berani mengakui bahwa kita lelah. Berani menyampaikan bahwa kita tidak baik-baik saja. Atau berani memiliki pandangan yang berbeda, meski tidak semua orang akan setuju.

Mungkin, yang perlu kita lakukan hari ini bukan berhenti bersuara, tetapi kembali memahami alasan kita bersuara. Apakah kita ingin benar-benar menyampaikan sesuatu? Atau hanya ingin memastikan bahwa kita tidak sendirian?

Tidak ada jawaban yang sepenuhnya benar atau salah. Namun, kesadaran itu penting agar kita tidak kehilangan arah di tengah riuhnya dunia digital. 

Di tengah dunia yang terus menuntut kita untuk terlihat, mungkin keberanian terbesar adalah tetap bersuara dengan jujur dan menjadi diri sendiri meski tidak semua orang memberi validasi. Sebab tidak semua suara yang jujur harus selalu disetujui.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda