Saya menemukan satu buku yang cukup menarik di perpustakaan kampus.
Lelaki Paruh Baya yang Menikah dengan Maut. Begitulah judul yang tertulis di sampulnya. Rupanya buku tersebut merupakan kumpulan cerita pendek karya Agus Hiplunudin. Setelah membacanya, saya menemukan tiga cerpen yang menurut saya cukup unik dan meninggalkan kesan mendalam.
Cerpen pertama memiliki judul yang sama dengan judul buku ini, yaitu Lelaki Paruh Baya yang Menikah dengan Maut. Cerita ini berkisah tentang seorang lelaki yang memutuskan untuk “menikahi” Maut karena ia percaya bahwa mautlah yang dapat membebaskannya dari berbagai persoalan duniawi. Keyakinan itu kemudian ia sebarkan melalui ceramah-ceramah hingga memiliki banyak jamaah dan bahkan mendirikan sebuah tempat ibadah yang ia sebut Kuil Maut.
Ajaran yang paling ia tekankan adalah bahwa manusia tidak seharusnya takut pada kematian. Menurutnya, manusia justru harus mencintai dan merindukan maut, sebab hanya dengan maut manusia dapat bertemu dengan Tuhan. Hanya dengan maut pula manusia dapat merasakan surga dan terbebas dari berbagai persoalan dunia.
Dengan diksi-diksi yang indah, penulis cerita ini menyampaikan pesan tersirat di akhir kisah: bahwa maut adalah bagian dari kehidupan manusia yang tidak mungkin ditolak ataupun ditunda kedatangannya. Ketika waktunya tiba, ia pasti akan datang menghampiri.
Ironisnya, ketakutan justru muncul ketika seseorang menyadari bahwa bekal yang ia miliki belum cukup. Bahkan tokoh dalam cerita ini yang selama hidupnya menggembar-gemborkan bahwa dirinya mencintai dan tidak takut pada maut, pada akhirnya berteriak menolak ketika maut benar-benar datang menjemputnya. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Maut tidak dapat ditunda, apalagi diminta datang esok atau lusa.
Cerpen lain tentang kematian yang sempat saya baca dalam buku ini adalah cerpen ketiga berjudul 3 Buah Cerita Bohong dari Penulis Autobiografi.
Kisah kali ini menyoroti kehidupan setelah kematian. Tokoh utamanya bernama Diaz, seorang penulis autobiografi ternama yang memiliki banyak gelar akademik hingga orang-orang memanggilnya Dr. Diaz.
Setelah meninggal dunia, Diaz bertemu dengan banyak orang di alam barzakh. Salah satunya adalah seorang lelaki yang mengaku sebagai “pewaris surga”. Semasa hidup, ia dikenal sebagai pemilik pondok pesantren dan dipanggil kiai haji oleh banyak orang. Namun ketika tiba gilirannya untuk diadili, ia justru dimasukkan ke dalam neraka karena kesombongannya.
Ada pula seorang perempuan yang sebelumnya disebut sebagai pelacur oleh kiai tersebut. Ternyata, semasa hidup perempuan itu pernah menyelamatkan seekor hewan dengan tulus, bahkan tanpa mengingat kembali perbuatannya. Namun Tuhan Maha Mengetahui. Karena keikhlasan itu, perempuan tersebut justru dimasukkan ke dalam surga.
Akhirnya tibalah giliran Diaz. Dengan lantang ia menyebutkan gelar akademisnya di hadapan Tuhan, seolah mengira bahwa gelar itu akan memiliki nilai lebih di hadapan-Nya.
Namun harapannya tidak terwujud. Semasa hidup, Diaz sering menulis autobiografi para pejabat dengan menyembunyikan keburukan mereka. Ia bahkan dapat menghindari tuduhan menulis autobiografi palsu dengan cara menyuap. Tapi ia lupa satu hal: Tuhan bukanlah manusia yang bisa disilaukan oleh perkara duniawi. Tuhan Maha Segalanya dan tidak membutuhkan apa pun untuk menunjukkan kekuasaan-Nya.
Satu cerpen lain yang menarik berjudul Perempuan Capung Merah Marun.
Cerita ini berkisah tentang seorang pria bernama Diaz yang sangat mahir berburu hewan hutan seperti rusa dan harimau. Namun ketika kekasihnya memintanya menangkap seekor capung, ia justru berulang kali gagal.
Ternyata alasan kegagalan itu sederhana. Ketika berburu hewan di hutan, Diaz menggunakan amarah, obsesi, dan emosi yang berlebihan. Namun capung berbeda. Untuk menangkap capung, seseorang harus memiliki kelembutan, kasih sayang, dan ketulusan.
Tanpa memiliki hal-hal tersebut, Diaz tidak akan pernah bisa menangkap capung merah marun yang sangat disukai kekasihnya.
Melalui kisah ini, Agus Hiplunudin membuat kiasan yang menarik: perempuan diibaratkan seperti capung. Mereka adalah makhluk yang perlu diperlakukan dengan kelembutan, ketulusan, dan kasih sayang.
Ketiga cerita tersebut terasa seperti tamparan halus bagi pembaca. Ia mengingatkan bahwa kematian bisa datang kapan saja, dan setelah itu manusia tidak lagi dapat mengandalkan apa pun selain amalnya sendiri. Semua yang kita lakukan di dunia seakan ditelanjangi begitu saja di hadapan Tuhan. Hanya amal yang dilakukan dengan keikhlasan yang mampu menyelamatkan manusia di akhirat.
Sementara satu kisah lain tidak secara langsung membicarakan kematian. Namun cerita itu tetap menjadi pengingat bahwa manusia sering kali terlalu keras terhadap hal-hal yang justru membutuhkan kelembutan, termasuk terhadap dirinya sendiri.
Identitas Buku
Judul: Lelaki Paruh Baya yang Menikah dengan Maut
Penulis: Agus Hiplunudin
Penerbit: Spektrum Nusantara
Tahun Terbit: 2019
ISBN: 978-623-7107-99-6
Edisi: 2
Kategori: Fiksi dan Sastra, Kumpulan Cerpen