Ulasan
Dusta Indah dan Doa yang Nyata: Mengenal Sosok Ibu dalam Karya Kang Maman
“… dan janda itu ibuku” merupakan salah satu buku best seller karya Kang Maman. Dalam buku ini terdapat puisi terkenal berjudul Ibuku Pembohong, dan saya baru mengetahui bahwa puisi tersebut adalah karya Kang Maman setelah membaca buku ini.
Buku ini berisi kumpulan cerita pendek yang terasa seperti diary kehidupan sehari-hari bersama seorang ibu yang menjadi janda muda dengan lima anak. Cerita-cerita di dalamnya juga disertai beberapa untaian puisi. Meskipun termasuk fiksi, kisah-kisahnya sangat terasa nyata karena dirajut dengan pengalaman hidup yang dekat dengan realitas.
Sinopsis
Kisah dimulai dari sebuah keluarga yang awalnya hidup bahagia. Sang ibu adalah perempuan cantik yang masih muda, sementara ayahnya merupakan seorang tentara yang bertanggung jawab.
Kehidupan mereka bisa dibilang cukup berkecukupan dan harmonis. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba sang ayah meninggal dunia di usia yang masih muda, sekitar tiga puluhan, meninggalkan sang ibu yang saat itu baru berusia 31 tahun dengan lima orang anak.
Sejak saat itu, kehidupan mereka berubah drastis. Sang ibu harus menjalani hidup sebagai janda muda di tengah lingkungan yang keras. Banyak orang di sekitarnya menghina, merendahkan, bahkan melecehkannya dengan berbagai sebutan seperti “janda genit”.
Ia juga sering mengalami catcalling dan perlakuan tidak sopan lainnya. Tidak sedikit yang memandang rendah, seolah-olah seorang janda bisa melakukan apa saja demi memenuhi kebutuhan hidup anak-anaknya.
Namun, sosok ibu ini sangat berbeda dari anggapan tersebut. Ia tetap menjaga martabat dan harga dirinya dengan sangat kuat. Ia berpegang teguh pada nilai-nilai agama dan tidak mudah goyah oleh omongan orang. Bahkan, ia berani menegur laki-laki yang menggodanya, termasuk anak kepala KUA. Sikapnya yang sering mengalah dalam berbagai masalah bukan berarti lemah, melainkan bentuk kesabaran dan kekuatan dalam menjaga prinsip hidupnya.
Dalam kondisi ekonomi yang sulit, ia berjuang keras untuk menghidupi kelima anaknya. Hidup mereka benar-benar sederhana, bahkan pernah mengalami masa di mana satu butir telur harus dibagi untuk enam orang.
Ia tidak pernah mengharapkan belas kasihan dari orang lain, melainkan berusaha hidup mandiri dengan cara yang terhormat. Cobaan lain juga datang ketika ayah mertuanya mengambil kembali sertifikat tanah yang sebelumnya dijanjikan sebagai warisan, membuat hidup mereka semakin sulit.
Meski dalam keterbatasan, sang ibu tetap memberikan pendidikan dan nilai-nilai kehidupan yang baik kepada anak-anaknya. Ia mengajarkan pentingnya menjaga akhlak, menghormati orang lain, dan tidak bergantung pada keadaan. Didikan itu akhirnya membuahkan hasil.
Anak pertamanya berhasil menempuh pendidikan di Universitas Indonesia hingga menjadi seorang pewarta. Ia kemudian menikah dengan anak dari seorang pejabat. Kekhawatiran sang ibu tentang perbedaan status sosial ternyata tidak terbukti, karena keluarga menantunya justru sangat menghormatinya.
Di tengah perjalanan hidupnya, sang ibu tetap konsisten menjalankan ajaran agama meskipun ia bukan berasal dari latar belakang santri. Ia sering memberikan nasihat kepada anak-anaknya, bahkan sejak dulu kepada suaminya, tentang hal-hal yang dilarang dalam agama seperti berjudi, serta tentang akibat dan dosa yang ditimbulkan.
Ia juga selalu menekankan betapa mulianya peran seorang ibu rumah tangga, dan melarang anak-anaknya meremehkan pekerjaan tersebut dengan kata “cuma” atau “hanya”.
Kehidupan terus berjalan hingga mereka melewati berbagai fase, termasuk masa sulit seperti lockdown saat pandemi. Di tengah segala keterbatasan dan ujian hidup, sang ibu akhirnya diberi kesempatan untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah, sesuatu yang menjadi impian banyak orang.
Pada akhirnya, kisah ini ditutup dengan akhir yang baik. Sang ibu meninggal dunia dalam keadaan khusnul khatimah, saat sedang melaksanakan salat. Sosoknya meninggalkan banyak pelajaran berharga tentang keteguhan, kesabaran, kehormatan diri, serta kasih sayang seorang ibu yang luar biasa dalam membesarkan anak-anaknya.
Kelebihan
Penulis berhasil menggambarkan sosok ibu dengan perjuangan yang sangat nyata. Bahkan kebohongan-kebohongan kecil seorang ibu untuk anaknya justru memperlihatkan besarnya kasih sayang. Buku ini mampu mengubah cara pandang pembaca terhadap seorang ibu.
Kekurangan
Alur cerita tidak tersusun secara kronologis dan terasa meloncat-loncat. Dari masa kecil bisa langsung ke masa dewasa tanpa penghubung yang jelas. Selain itu, sosok ibu digambarkan sangat sempurna, sehingga terasa kurang realistis bagi sebagian pembaca.
Pesan Moral
Jangan melakukan catcalling karena itu termasuk pelecehan, apalagi kepada janda. Jangan melabeli atau merendahkan orang lain dengan hinaan. Ajarkan anak untuk selalu menghormati perempuan.
Selain itu, penting menjaga keseimbangan dalam rumah tangga dengan saling menghargai dan tidak meremehkan peran satu sama lain.
Identitas Buku
Judul: … dan janda itu ibuku
Penulis: Kang Maman
Penerbit: Gramedia Widiasarana Grasindo
Tahun Terbit: 2024
ISBN: 978-602-05-3119-9