Ulasan
Mencari Lorentz, Semeru, dan Monas: Ekspedisi Bola Epik dalam Novel Sebelas
Buku berjudul Sebelas karya Tere Liye ini sebenarnya sudah lama nangkring di rak favorit. Namun, jujur saja saya sempat enggan menyentuhnya karena judul dan sampulnya yang sangat kental dengan tema sepak bola. Sebagai orang yang tidak terlalu paham bola, tema ini awalnya terasa berat, tetapi karena rak favorit sedang kosong, akhirnya dengan sedikit keterpaksaan saya mulai membacanya hingga tak terasa tiba-tiba sudah menembus halaman tiga ratusan. Narasi Tere Liye ternyata luar biasa karena mampu membuat saya yang awalnya awam bola justru menjadi sangat terpesona dan jatuh cinta dengan alur ceritanya.
Kisah ini diawali dengan kehidupan Paul, seorang bule miskin di Bali yang kesehariannya hanya mabuk-mabukan, tidak punya uang, sering berutang di toko kelontong Pak Made, hingga menumpang makan di rumah makan Padang milik Uda Hendra.
Suatu hari, Paul yang visanya sudah habis dikejar-kejar petugas imigrasi karena mabuk di pantai, dan adegan kejar-kejaran di gang-gang sempit area Kuta ini digambarkan dengan sangat akurat hingga saya bisa membayangkannya karena pernah ke sana langsung.
Untuk menghindari petugas, Pak Made menyuruh Paul bergabung dengan anak-anak yang sedang bertanding bola, dan di sanalah rahasia besar mulai terungkap lewat tendangan spektakuler Paul yang ternyata adalah mantan pemain top dunia yang menghilang selama 20 tahun.
Ketegangan meningkat saat musuh bebuyutannya, David Champione dari Real Madrid, datang bersama istrinya, Ramona, yang ternyata adalah mantan kekasih Paul. Pertemuan penuh perdebatan ini berujung pada tantangan besar berupa surat undangan bagi tim Paul untuk bertanding di Eropa melawan klub-klub top dunia.
Dengan dukungan Pak Made—yang ternyata mantan pemain timnas—dan konglomerat Pak Hartawan yang mengelola ratusan SSB, dimulailah misi epik mencari pemain pelengkap ke seluruh penjuru Indonesia. Paul memulai perjalanannya ke daerah konflik di Ilaga, Papua, di mana ia menemukan Lorentz sebagai kiper tangguh di tengah ketegangan gerakan Papua Merdeka yang nyaris menggagalkan misi mereka.
Pencarian berlanjut ke pulau Jawa, mulai dari Surabaya hingga Yogyakarta untuk menemukan Brantas yang berkemampuan teknis sempurna meskipun sempat berselisih dengan orang tuanya, sementara di Solo ada bagian lucu tentang cucu pejabat yang ingin ikut seleksi padahal tidak bisa apa-apa.
Di kaki Gunung Batur, Paul menemukan Semeru yang sangat berbakat menjadi bek tengah meskipun orang tuanya lebih ingin ia menjadi pemain voli. Perjalanan meluas ke Sumbawa, Flores, Timor, Alor, hingga Sumba, di mana ia menemukan Ende yang harus menghadapi perpisahan emosional dengan kuda Sumba kesayangannya.
Di Sumatera, dari Lampung hingga Padang, ia menemukan Gadang yang sangat berbakat namun sulit mendapatkan izin karena merupakan penerus pesantren besar. Pemain terakhir, Monas, justru ditemukan di penjara sel kapal ilegal setelah dijual menjadi ABK, yang siapa sangka akhirnya justru menjadi pemimpin tim ini. Pemilihan nama-nama tokoh yang bernuansa alam ini membuat karakter mereka terasa begitu menawan, seolah merepresentasikan keindahan alam Indonesia itu sendiri.
Novel ini bukannya ingin memberikan konklusi kemenangan telak bagi skuad muda, melainkan ingin menunjukkan bahwa ketidakmustahilan itu bisa berjalan beriringan dengan takdir misterius dan proses usaha yang tidak sia-sia.
Di sela-sela ceritanya, penulis menyisipkan sisi gelap dunia sepak bola, mulai dari pemilik klub yang hanya sibuk memperkaya diri, karut-marut pasca-peristiwa Kanjuruhan, hingga kritik terhadap isu naturalisasi yang membuat pemain asli Indonesia susah masuk timnas. Ada rasa sakit tentang pemain bola yang disingkirkan dan dilupakan oleh fans yang biasanya hanya memuji pencetak gol.
Pada akhirnya, setelah melalui berbagai kendala mulai dari urusan visa Paul yang habis hingga hampir terlambat datang saat pertandingan di Madrid, cerita ditutup manis dengan ilustrasi berita kemenangan The Legendary Paul Team yang menggemparkan dunia dan tangkapan layar percakapan antar klub besar.
Identitas Buku:
Judul: Sebelas
Penulis: Tere Liye
Tahun Terbit: 2025
Penerbit: PT Sabakrip Nusantara
ISBN: 978-634-704-602-4