Ulasan
Menjaga Kesehatan Mental dengan Bercerita dalam Buku Psikologi Cerita
Mendengarkan cerita, terlebih cerita-cerita yang mengandung hikmah kehidupan, ternyata memiliki beragam manfaat bagi kita. Di antaranya mampu membuat kita merenungi arti hidup, membuat perasaan menjadi lebih baik, menghilangkan kesedihan, sarana obat hati, dan sebagainya.
Bukan hanya si pendengar saja yang bisa merasakan manfaatnya, tetapi orang yang bercerita juga akan merasakan dampak positifnya. Misalnya, orang yang sedang punya beban hidup, dengan dia bercerita kepada sahabat atau saudaranya, maka beban yang dirasakan akan menjadi berkurang. Bisa jadi, setelah bercerita, tak hanya perasaan lega yang diperoleh, tetapi juga solusi akan segera ditemukan.
Perihal pentingnya bercerita, Akhmad Mukhlis dalam bukunya yang berjudul “Psikologi Cerita” menguraikan, secara umum cerita memiliki banyak hal yang berhubungan langsung dengan kesehatan mental manusia. Manusia akan menjadi pencerita saat sedang berbagi dengan yang lain tentang peristiwa negatif yang dialami. Ketika kita berbicara tentang peristiwa, karakter, tindakan, tema, perasaan, dan ide, maka teknik yang tepat digunakan adalah bercerita.
Dalam buku ini diungkap beberapa fakta penelitian yang menunjukkan bahwa cerita begitu penting dalam kesehatan mental manusia. Salah satunya ialah meningkatkan empati dan retensi memori. Ketika kita terhubung dengan karakter dalam sebuah cerita, maka otak melepaskan oksitosin. Oksitosin dikatkan dengan empati, sebuah blok bangunan yang membantu kita terhubung dan memperdalam suatu hubungan. Selain meningkatkan empati, manfaat lain bercerita adalah meningkatkan daya ingat dan meningkatkan emosi positif.
Menurut penelitian terbaru dalam psikologi positif, cara dalam bercerita berhubungan secara langsung dengan suasana hati dan citra diri (Rutledge, 2016). Cerita dapat mengangkat dan mengubah suasana hati kita. Perubahan suasana hati dan pandangan ini bukanlah masalah kecil. Sejumlah emosi positif dan optimisme yang wajar memungkinkan kita untuk mengatasi kesulitan dengan lebih baik dan menghadapi rintangan yang sedang dihadapi (halaman 11-12).
Disadari atau tidak, ketika kita mendengarkan cerita, kita akan mendapatkan hikmah dan kebijaksanaan hidup. Bahkan, saat kondisi jiwa kita sedang lelah, bersedih, bahkan terluka, mendengarkan cerita dapat menjadi penawarnya.
Benar kiranya apa yang dipaparkan dalam buku ini bahwa secara historis bercerita memiliki dua fungsi utama, yaitu menghibur dan mengajar orang bagaimana menjadi manusia yang lebih baik (Lawrence & Paige, 2016). Cerita sejak dahulu membantu manusia untuk membimbing anak secara tepat tentang bagaimana bertindak dengan rasa seimbang, utuh sebagai pengasuh. Lebih dari itu, bercerita menawarkan adanya hubungan timbal balik, tidak searah.
Melalui buku ini, penulis mencoba menjelaskan cerita dalam perspektif psikologi. Pada bagian awal, pembaca akan disuguhkan dengan perspektif psikologis cerita serta bagaimana cerita dan bercerita dilihat dari perspektif ilmu saraf (neuroscience). Selain bukti-bukti ilmiah terkait cerita, buku ini juga menyajikan cara-cara praktis bercerita. Ini bukan masalah pendongeng profesional yang mampu menirukan suara-suara aneh atau membuat gerakan ekspresif yang lucu, tetapi mengenai bagaimana orang tua dan guru mampu bercerita yang menarik dengan cara-cara sederhana.
Data Buku
Judul Buku: Psikologi Cerita
Penulis: Akhmad Mukhlis
Penerbit: Salemba Humanika, Jakarta Selatan
Tebal buku: 212 halaman
ISBN: 978-623-8078-13-4
Tahun Terbit: 2023