Ulasan

Review The Defects: Ketika Anak Bisa 'Diretur' seperti Barang Rusak

Review The Defects: Ketika Anak Bisa 'Diretur' seperti Barang Rusak
Poster Drama The Defects (IMDb)

Bagaimana jika seorang anak bisa “diretur” seperti barang cacat?

Premis inilah yang ada dalam drama Korea The Defects, series thriller-action yang tayang pada Juli 2025 dan disutradarai oleh Oh Ki-wan. Dengan konsep yang gelap dan ekstrem, drama ini mengisahkan perjuangan lima anak yang ditinggalkan oleh orangtua angkat mereka setelah dianggap tidak sempurna.

Yum Jung-ah berperan sebagai Kim Se-hee, pemilik yayasan adopsi ilegal yang memperjualbelikan anak-anak hasil rekayasa genetika. Dalam sistem tersebut, calon orang tua angkat dapat memilih bayi berdasarkan gen terbaik. Anak-anak itu kemudian “dibeli” dan dibesarkan dengan ekspektasi tinggi. Namun ketika muncul ketidakpuasan atau dianggap memiliki “cacat”, orang tua dapat melakukan retur dan memperoleh pengembalian dana.

Anak-anak yang diretur kemudian masuk dalam daftar “pembersihan”. Tugas ini dipegang oleh Woo Tae-sik (Choi Young-joon), seorang pria yang awalnya hanya menjalankan perintah untuk membuang bungkusan yang disebut sebagai limbah. Namun setelah mengetahui kebenaran bahwa yang ia buang adalah manusia, Tae-sik mengambil keputusan besar. Ia mempertaruhkan hidupnya untuk menyelamatkan anak-anak yang dianggap produk gagal tersebut.

Kim Ah-hyeon (Won Jin-ah) menjadi anak pertama yang diselamatkan Tae-sik. Ia kemudian berperan sebagai sosok kakak bagi empat anak lainnya. Bersama-sama, mereka berusaha bertahan hidup sekaligus berupaya membalas dendam pada orangtua angkat dan jaringan perdagangan anak yang menjadikan mereka sebagai “produk” yang bisa dibuang kapan saja.

Review Drama The Defects

Series delapan episode ini bisa dibilang menjadi salah satu drama paling gila, gelap, dan brutal yang pernah saya tonton di tahun 2025. Drama ini menyorot secara tajam bagaimana anak dipandang sebagai produk yang harus sempurna. Orang tua dalam cerita ini membeli anak dengan harapan memiliki keturunan unggul sesuai standar yang mereka tentukan sendiri.

Meski terdengar ekstrem, isu yang diangkat sebenarnya sangat relevan dengan kehidupan nyata. Dalam dunia nyata, mungkin tidak ada sistem retur anak seperti dalam drama. Namun, ekspektasi berlebihan dari orangtua terhadap anak masih sering terjadi. Banyak anak tumbuh dengan beban untuk menjadi sempurna, berprestasi, dan membanggakan keluarga, seolah nilai diri mereka ditentukan oleh pencapaian semata.

Drama ini juga menyinggung bagaimana anak kerap dianggap sebagai investasi. Setelah orangtua mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya untuk membesarkan anak, muncul harapan bahwa anak harus “mengembalikan” semuanya dengan kesuksesan. Ketika harapan tersebut tidak terpenuhi, anak dianggap gagal, bahkan tidak jarang mengalami tekanan emosional yang dalam.

Anak-anak dalam The Defects digambarkan mengalami berbagai bentuk kekerasan, pengabaian, hingga manipulasi sebelum akhirnya dibuang. Luka tersebut menciptakan trauma mendalam dan rasa bersalah yang terus menghantui. Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa diri mereka tidak cukup baik untuk dicintai.

Namun di tengah luka tersebut, drama ini juga memperlihatkan upaya bangkit dari keterpurukan. Anak-anak yang diselamatkan Tae-sik berusaha menemukan kembali nilai diri mereka. Mereka belajar bahwa kegagalan bukan berarti mereka tidak layak hidup. Perlawanan yang mereka lakukan menjadi simbol bahwa manusia tidak harus sempurna untuk dianggap berharga.

Di akhir cerita, terungkap bahwa Kim Se-hee, dalang di balik sistem adopsi ilegal ini, ternyata juga menyimpan luka masa lalu. Ia adalah anak yang dibuang oleh ibunya sendiri meskipun selalu menjadi peringkat pertama di sekolah. Trauma tersebut membuatnya terobsesi menciptakan anak-anak sempurna. Bagi Se-hee, kesempurnaan adalah satu-satunya cara agar seseorang dianggap berguna.

Ironisnya, luka yang ia alami justru diwariskan kembali kepada anak-anak yang ia lahirkan. Drama ini dengan kuat menunjukkan bagaimana trauma yang tidak selesai dapat melahirkan lingkaran kekerasan baru. Ekspektasi yang terlalu tinggi akhirnya menghapus ikatan emosional antara orangtua dan anak.

Dari segi akting, drama ini didukung oleh para aktor top di Korea yang tampil solid. Yum Jung-ah berhasil membawakan karakter antagonis dengan dingin dan mengintimidasi. Won Jin-ah tampil emosional sebagai sosok kakak yang berusaha melindungi dan mengayomi anak-anak lain. Choi Young-joon juga berhasil menampilkan karakter Tae-sik dengan meyakinkan. Sementara Dex tampil cukup kuat sebagai orang kepercayaan Se-hee yang minim dialog namun penuh adegan aksi intens.

Secara visual, The Defects mengusung tone gelap khas thriller. Beberapa adegan malam terasa sangat minim pencahayaan, bahkan membuat penonton harus menaikkan brightness perangkat. Namun sinematografi yang rapi tetap mampu membangun atmosfer tegang sepanjang cerita.

Dengan alur yang cepat dan penuh aksi, drama ini tidak memberikan banyak ruang untuk bernapas. Setiap episode terus mendorong konflik baru yang saling berkaitan. Bagi pencinta thriller dan aksi, The Defects menawarkan cerita intens dengan pesan emosional yang kuat. Namun bagi yang kurang nyaman dengan adegan kekerasan, drama ini mungkin terasa cukup berat untuk ditonton.

Secara keseluruhan, The Defects bukan hanya drama tentang balas dendam, tetapi juga refleksi tentang ekspektasi orangtua dan luka yang ditinggalkan pada anak. Drama ini mengingatkan bahwa anak bukan produk yang harus sempurna, melainkan manusia yang hanya ingin diterima dan dicintai sepenuh hati oleh orangtuanya. Dan hidup bukanlah perlombaan, kita tidak harus menjadi lebih unggul dari yang lain agar menjadi layak dihargai. Kita juga tidak harus menjadi sempurna untuk memberi manfaat pada sesama, kita bisa memulainya dengan hal paling sederhana yang sesuai dengan kemampuan kita.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda