Ulasan

Menemukan Rasa Tenang dan Kedamaian saat Berziarah ke Makam Sunan Kudus

Menemukan Rasa Tenang dan Kedamaian saat Berziarah ke Makam Sunan Kudus
Makam Sunan Kudus Jawa Tengah (Dokumentasi Pribadi/Ukhro Wiyah)

Perjalanan itu terasa panjang dan melelahkan, bahkan sejak awal langkah dimulai. Sempat terlintas pertanyaan, apakah semua ini sepadan?

Perlahan saya menemukan jawabannya: di setiap tempat yang disinggahi, ada ketenangan yang tak bisa dijelaskan. Seolah lelah itu memang harus dilalui untuk sampai pada rasa damai.

Desember 2024 lalu, saya mengikuti agenda ziarah wali ke Jawa Tengah bersama rombongan satu asrama. Kami berangkat dari Kediri sekitar pukul 14.30 menggunakan satu bus besar dan satu bus kecil. Saya memilih duduk di bagian depan bus besar, tepat di belakang sopir, untuk menghindari mabuk perjalanan.

Sebelum keluar kota, kami terlebih dahulu berziarah ke dua makam ulama besar di Kediri, yaitu Makam Syekh Wasil Setonogedong dan Makam Syekh Ihsan Jampes. Setelah itu, perjalanan panjang menuju Jawa Tengah pun dimulai.

Di awal perjalanan, suasana masih dipenuhi tawa dan nyanyian. Namun, seiring waktu berjalan, rasa lelah mulai terasa. Malam hari, bus sempat berhenti di rest area untuk makan sebelum melanjutkan perjalanan menuju tujuan pertama, yaitu Makam Sunan Kudus.

Menjelang tengah malam, bus tiba di terminal Kudus. Tubuh yang lelah dan perjalanan panjang mulai terasa dampaknya. Saya bahkan harus bergegas ke kamar mandi setibanya di sana karena sudah tidak mampu menahan rasa tidak nyaman sejak di perjalanan.

Untuk menuju ke area makam, kami harus melanjutkan perjalanan dengan ojek. Di pangkalan, banyak tukang ojek yang sudah menunggu. Tarifnya Rp 10.000 untuk satu kali perjalanan. Di tengah udara dingin dan sisa hujan yang masih turun, kami pun berangkat menuju makam.

Setibanya di Makam Sunan Kudus, kami melaksanakan salat jamak takhir Magrib dan Isya’, lalu dilanjutkan dengan tahlil dan doa bersama. Di tengah suasana sunyi menjelang akhir malam, saya merasakan ketenangan yang sulit dijelaskan. Rasa lelah yang sejak tadi menguasai tubuh perlahan menghilang. Mata yang semula berat justru kembali terjaga, dan hati terasa jauh lebih ringan.

Setelah selesai, kami kembali ke terminal menggunakan ojek dengan tarif yang sama. Meski sempat merasa beberapa pengemudi terlihat terburu-buru saat menagih ongkos, saya tetap berusaha memahami bahwa bagi mereka, kehadiran peziarah adalah bagian dari rezeki yang berharga.

Perjalanan dilanjutkan menuju Gunung Pring di Magelang. Sebelum sampai, kami sempat berhenti di rest area untuk salat Subuh. Udara dingin mulai terasa semakin menusuk, terlebih ketika gerimis turun di sekitar area pegunungan dan bus melewati beberapa tanjakan dan turunan.

Sekitar pukul 06.30, kami tiba di kawasan Gunung Pring, Muntilan. Ini pertama kalinya saya berziarah di sini dan saya baru tahu ternyata makamnya ada di puncak dengan ketinggian kurang lebih 400 mdpl. Untuk mencapai area makam, kami harus menaiki sekitar 222 anak tangga. Di sepanjang jalan, banyak penjual oleh-oleh dan makanan, tetapi saya memilih untuk tetap fokus berjalan karena tenaga sudah cukup terkuras.

Langkah terasa berat, napas mulai terengah. Beberapa kali saya berhenti sejenak untuk beristirahat. Namun, semua itu seolah terbayar saat akhirnya sampai di atas. Air minum gratis yang tersedia di sana terasa begitu nikmat dan menyegarkan tenggorokan yang sudah cukup kering. Setelah itu, kami kembali membaca tahlil dan doa bersama. Suasana yang tenang dan khusyuk membuat hati terasa lebih lapang.

Di kawasan ini, terdapat makam Kyai Raden Santri atau Pangeran Singasari, yang dikenal sebagai keturunan Prabu Brawijaya V sekaligus saudara Panembahan Senopati, pendiri Mataram Islam. Selain itu, terdapat pula makam Kyai Haji Dalhar, seorang ulama besar dari trah Kerajaan Mataram, keturunan Amangkurat III. Mengetahui sejarah singkat tersebut membuat saya semakin menyadari bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang fisik, tetapi juga tentang mengenal jejak perjuangan para tokoh terdahulu.

Selesai berziarah, kami turun kembali. Langkah terasa jauh lebih ringan dibanding saat naik. Setelah itu, kami diberi waktu untuk membersihkan diri dan sarapan di area sekitar. Saya dan beberapa teman menuju warung. Kami sarapan dengan total sekitar Rp 20.000 per orang, sudah termasuk minuman. Untuk keperluan lain, seperti kamar mandi dan pengisian daya ponsel, dikenakan biaya sekitar Rp 2.000 hingga Rp 5.000.

Setelah beristirahat sejenak, kami kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya. Namun ada satu hal yang sangat disayangkan dari ziarah di Gunung Pring ini: saya tidak terpikirkan untuk mengambil foto satu pun sebagai kenang-kenangan.

Perjalanan ini memang melelahkan secara fisik. Namun, di setiap langkahnya, saya menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar perjalanan biasa. Ada pelajaran tentang sabar, tentang ikhlas, dan tentang bagaimana lelah perlahan berubah menjadi kedamaian

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda