Kolom
Kemasan Makanan Sekali Pakai: Bukan Sekadar Sampah yang Bisa Disepelekan
Sobat Yoursay, siapa sih di sini yang tidak pernah beli makanan takeaway?
Jujur saja deh, pasti kita sudah melakukannya berkali-kali selama ini. Iya, saya pun demikian. Mungkin sampai sekarang sudah tak terhitung lagi berapa banyak sampah plastik yang kita hasilkan dari pembelian jajan atau makanan. Bagaimana tidak? Jika setiap hari kita beli es teh pakai gelas plastik, beli gorengan dibungkus plastik, pesan makanan online dapat bungkus sekali pakai. Begitu makanan habis dalam beberapa menit, bungkus langsung dibuang begitu saja.
Situasi itu terasa sangat familiar bahkan cenderung sudah kita anggap sebagai hal biasa karena seolah telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, yang sering kali tak kita sadari adalah bungkus makanan yang kita buang membawa dampak yang bertahan jauh lebih lama daripada makanan yang kita habiskan dalam waktu singkat.
Meski begitu, mengapa sampai sekarang penggunaan bungkus makanan berbahan plastik sekali pakai masih terus meningkat?
Satu kata yang saya rasa tepat untuk menjawab pertanyaan tersebut: praktis. Iya, saya akui. Saya pun merasakan hal ini. Pada saat membeli makanan dengan bungkus sekali pakai, saya merasa lebih praktis karena tak perlu lagi mencuci tempat makan. Tinggal nikmati isinya, lalu buang wadahnya. Mungkin hal serupa juga dirasakan oleh kebanyakan orang. Karena manusia memang cenderung menyukai hal-hal yang dirasa cepat dan praktis.
Apalagi di era sekarang, makanan takeaway semakin populer, layanan pesan antar semakin berkembang dan memberikan kemudahan bagi kita. Akhirnya, kemasan sekali pakai dianggap sebagai solusi yang paling mudah. Padahal di saat yang sama, jumlah sampah ikut meningkat seiring dengan kemasan makanan yang terus kita buang setiap harinya.
Sebagai orang yang sudah terlalu sering menghasilkan sampah serupa, kemasan makanan sekali pakai kerap kita anggap terlalu kecil untuk bisa menjadi persoalan serius. Bahkan satu wadah makanan yang langsung dibuang setelah digunakan mungkin tidak pernah kita pikirkan lagi setelah masuk ke tempat sampah.
Namun, persoalannya tidak berhenti pada satu bungkus atau satu wadah saja. Kebiasaan yang sama dilakukan oleh jutaan orang setiap hari. Bayangkan berapa banyak plastik yang digunakan untuk membungkus gorengan, minuman, makanan cepat saji, atau pesanan makanan online dalam satu hari. Jika dikumpulkan, jumlahnya tentu tidak sedikit.
Ironisnya lagi, mayoritas kemasan tersebut hanya digunakan satu kali dan dalam waktu yang sangat singkat. Kita mungkin hanya membutuhkan waktu maksimal lima belas sampai dua puluh menit untuk menghabiskan makanan yang kita beli sebelum akhirnya fungsi dari bungkus tersebut hilang dan berakhir di tempat sampah.
Namun, yang menjadikan ini sebagai persoalan yang lebih besar adalah plastik yang sudah dibuang tidak lantas hilang begitu saja. Sampah tersebut membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang untuk terurai. Artinya, sesuatu yang kita nikmati sehari-hari dan kita anggap praktis, bisa meninggalkan dampak yang bertahan jauh lebih lama di lingkungan.
Lantas, untuk mengatasi masalah tersebut, apakah kita harus berhenti membeli makanan dengan metode takeaway?
Tentu tidak. Mungkin, memang tak semua orang kondisinya memungkinkan untuk membawa wadah sendiri atau memasak di rumah. Namun, setidaknya kita bisa mulai mengurangi penggunaan kemasan yang tidak diperlukan.
Misalnya, dengan menolak sedotan plastik ketika tidak benar-benar diperlukan atau membawa tumbler sendiri saat membeli minuman. Langkah-langkah kecil seperti ini mungkin tidak langsung menghilangkan persoalan sampah plastik, tetapi setidaknya dapat membantu mengurangi jumlah sampah yang terus bertambah setiap harinya.
Selain itu, yang tak kalah penting adalah membangun kesadaran bahwa setiap kemasan yang kita gunakan tidak berhenti menjadi urusan kita setelah masuk ke tempat sampah. Kemasan tersebut masih memiliki perjalanan panjang yang pada akhirnya tetap berdampak pada lingkungan di sekitar kita.
Selama ini, kita tahu bahwa bungkus makanan sekali pakai memang menawarkan kemudahan yang sulit untuk ditolak. Kita bisa membeli makanan dengan cepat, menikmatinya tanpa repot mencuci wadah, lalu langsung membuang kemasannya setelah selesai digunakan.
Namun, di balik kepraktisan tersebut, ada sampah yang terus bertambah setiap hari. Kita mungkin hanya menikmati makanan selama beberapa menit, tetapi lingkungan harus menanggung sampah yang ditinggalkannya jauh lebih lama.